Author Archives: bidangesot

About bidangesot

i'm just the ordinary people who want to be the extra one in "a good way" that i've believed. just be positive one, ok?

ANEMIA BERAT

Standard

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Seorang ibu hamil dapat dikategorikan enemia berat jika Hb < 7 gr%.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.

Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diit

3. Malabsorpsi

4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain

5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

GEJALA ANEMIA PADA IBU HAMIL

Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

  1. Anemia Defisiensi Besi

Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.

a.   Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).

b.   Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).

Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:

1.   Hb 11 gr% : Tidak anemia

2.   Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

3.   Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang

4.   Hb < 7 gr% : Anemia berat

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

  1. Anemia Megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.

Pengobatannya:

a.   Asam folik 15 – 30 mg per hari

b.   Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari

c.   Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari

d.   Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

  1. Anemia Hipoplastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

  1. Anemia Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.

Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.

EFEK ANEMIA PADA PERSALINAN

Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Untuk itu tindakan bidan dalam menghadapi persalinan dengan pasien anemia berat  adalah merujuk dan meminta anggota keluarga membawa donor minimal  2 orang untuk persiapan jika diberikan tranfusi darah.

Alasan merujuk lainya:

1.   Gangguan his kekuatan mengejan

2.   Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar

3.   Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.

4.   Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH karena Atonnia Uteri

5.   Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder dan Atonia Uteri (Ilmu Kebidanan; Kandungan dan Keluarga Berencana; 1998)

Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :

a.   Abortus

b.   Kematian Interauterin

c.   Persalinan Prematuritas tinggi

d.   BBLR

e.   Kelahiran dengan anemia

f.    Terjadi cacat kongenital

g.   Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian

h.   Intelegensi yang rendah ( Ilmu Kebidanan 1994 )

Pengaruh terhadap ibu pasca persalinan :

1.   Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan ( atonia uteri )

2.   Memudahkan infeksi Puerpurium

3.   Berkurangnya pengeluaran ASI

4.   Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin

5.   Memudahkan terjadi Infeksi mamae

6.   Terjadinya Anemia kala nifas

7.   Retensio placenta

8.   Perlikaan sukar sembuh

9.   Mudah terjadi febris puerpuralis

Penatalaksanaan Ibu bersalin dengan anemia berat

  1. Pasang infuse RL 20 tetes/menit
  2. Pemberian Oksigen 3 liter/jam
  3. Hal-hal yang dipersiapkan :

Bidan

Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompoten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

Alat

Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dll) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.

Keluarga

Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau bayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan/atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.

Surat

Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu dan/atau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.

Obat

Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan selama perjalanan.

Kendaraan

Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu pastikan bahwa kondisi kendaraan itu cukup baik untuk mencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.

Uang

Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan

Donor darah

Siapkan donor minimal 2 orang sesuai dengan golongan darah ibu untuk persiapan jika diperlukan tranfusi darah.

 

PERSALINAN LAMA

Standard

Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin, AB., 2002).
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  1. His tidak efisien (adekuat)
  2. Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
  3. Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

Tanda dan gejala partus lama, yaitu:

  1. Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada partograf.
  2. Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.
  3. Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik.
  1. Alasan Merujuk

Penanganan partus lama adalah dengan merujuk pasien yang mengalami partus lama ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawat darurat obstetric dan bayi baru lahir. Alasan mengapa partus lama perlu dirujuk, yaitu karena partus lama memiliki dampak yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi ibu, janin, atau keduanya sekaligus. Bahkan, apabila tidak dapat terdeteksi maupun tertangani dengan baik, partus lama bisa berdampak fatal, yaitu dapat menyebabkan kematian pada ibu maupun janinnya.

Dampak yang ditimbukan oleh partus lama antara lain:

  1. Infeksi Intrapartum

Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina ke dalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi persalinan lama.

  1. Ruptura Uteri

Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada ibu dengan parietas tinggi dan pada mereka dengan riwayat SC. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini, mungkin terbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah Krista transversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simpisis dan umbilicus. Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominan segera.

  1. Cincin Retraksi Patologis

Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin local uterus pada persalianan yang berkepanjangan. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis Bandl, yaitu pembentukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini identasi abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya SBR. Konstriksi uterus local jarang dijumpai saat ini karena terlambatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi local ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam pasir (hourglass constriction) uterus setelah lahirnya kembar pertama. Pada keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anesthesia umum yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal, tetapi kadang-kadang SC yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih baik bagi kembar kedua.

  1. Pembentukan Fistula

Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke PAP, tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau retrovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan.

  1. Cidera Otot-otot Dasar Panggul

Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot, saraf, dan jaringan ikat. Efek-efek ini bisa menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul.

  1. Kaput Suksedaneum

Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yng besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostic yang serius. Kaput hampir dapat mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap.

  1. Molase kepala Janin

Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase. Biasanya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promontorium bertumpang tindih dengan tulang di sebelahnya; hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun, tulang oksipital terdorong ke bawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin, dan perdarahan intracranial pada janin.

  1. B. Cara merujuk partus lama, yaitu:
    1. Tetap memantau/ mengobservasi tanda-tanda vital ibu
    2. Tetap memantau his dan mengontrol DJJ setiap setelah his.
    3. Beri infus ibu bila kondisi ibu semakin melemah. Infus cairan:

-Larutan garam fisiologis

-Larutan glucose 5-10% pada janin pertama: 1 liter/jam

  1. Tetap memperhatikan asupan gizi ibu terutama asupan cairan.
  2. Beri Oksigen (sesuai kebutuhan) bila terjadi tanda – tanda gawat janin.
  3. Posisikan ibu untuk miring ke kiri selama merujuk.

 

Sumber :

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifudin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

POLIHIDRAMNION, MAKROSOMIA, DAN KEHAMILAN GANDA

Standard

POLIHIDRAMNION

Pengertian :

Polihidramnion atau disebut juga dengan hidramnion adalah keadaan dimana air ketuban melebihi 2000 ml.

Secara teori, hidramnion bisa terjadi karena :

  1. Produksi air ketuban bertambah
  2. Pengaliran air ketuban terganggu
  3. Predisposisi
  4. Penyakit jantung

Diagnosis :

  1. Anamnesis
  2. Perut terlihat sangat buncit dan tegang, kulit perut mengkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar.
  3. Ibu terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah karena kehamilannya
  4. Edema pada kedua tungkai, vulva dan abdomen. Hal ini terjadi karena kompresi terhadap sebagian besar sistem pembuluh darah balik (vena) akibat uterus yang terlalu besar
  5. Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan sesungguhnya.
  6. Bagian-bagian janin sukar dikenali.
  7. Ultrasonografi

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis polihidramnion, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

Pada Janin :

  1. Kelainan kongenital
  2. Prematuritas
  3. Letak lintang atau tali pusat menumbung
  4. Eritroblastosis
  5. Diabetes Melitus
  6. Solusio plasenta, kalau ketuban pecah tiba-tiba

Ibu :

  1. Solusio plasenta
  2. Atonia uteri
  3. Perdarahan postpartum
  4. Retensio palsenta
  5. Syok
  6. Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus jadi lama dan sukar

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : bayi lahir premature, tali pusat menumbung, syok, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

MAKROSOMIA

Pengertian :

Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari 4.000 gram.

Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya :

  1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang menderita diabetes selama kehamilan.
  2. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar (bayi giant).
  3. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar.

Tanda dan Gejala :

  1. Besar untuk usia gestasi
  2. Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion
  3. Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah
  4. Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht)

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis makrosomia, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

  1. Resiko dari trauma lahir yang tinggi jika bayi lebih besar dibandingkan panggul ibunya perdarahan intrakranial
  2. Distosia bahu
  3. Ruptur uteri
  4. Robekan perineum
  5. Fraktur anggota gerak

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : Resiko dari trauma lahir, distosia bahu, robekan perineum, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

KEHAMILAN GANDA

Pengertian :

Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.

Diagnosis :

  1. Anamnesis
  2. Tanda dan gejala : ukuran TFU melebihi dari ukuran sebenarnya
  3. Pemeriksaan USG
  4. Pemeriksaan radiologi
  5. Teraba banyak bagian besar atau kecil saat dilakukan palpasi

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis makrosomia, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

  1. Partus Prematurus
  2. Preeklampsi/eklampsi
  3. Anemia
  4. Malpresentasi
  5. Perdarahan pasca persalinan

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : Kelahiran premature, preeklampsi/eklampsi, anemia, malpresentasi, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

 

INFEKSI DALAM PERSALINAN

Standard

Prinsip Dasar

  • Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intraannion,amnionitis) merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion yang disebabkan oleh bakteri.
  • Sekitar 25% infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini
  • Makin lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin
  • Vagina merupakan medium kultur yang sangat baik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama kehamilan, menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi

Tanda dan Gejala

  1. Nadi cepat (110 kali/menit atau lebih
  2. Temperatur tubuh diatas 38oC
  3. Kedinginan
  4. Cairan vagina yang berbau busuk

Masalah

Infeksi intrauterine merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan perinatal

Penanganan Umum

  • Observasi jalannya persalinan dengan baik dan benar
  • Evaluasi setiap demam yang terjadi dalam periode persalinan
  • Kenali segera apabila terjadi ketuban pecah sebelum waktunya
  • Priksa dalam hanya dilakukan atas indikasi yang jelas dan ikuti jadwal evaluasi ulang menurut partograf atau waktu yang telah ditentukan sebelumnya
  • Terapkan prinsip kewaspadaan universal
  • Nilai dengan cermat setiap kasus rujukan dengan dugaan partus lama, macet atau yang bermasalah
  • Lakukan pengobatan profilaksis apabila persalinan diduga akan berlangsung lama
  • Region genetalia dan sekitarnya merupakan area dengan resiko tinggi kejidian infeksi atau merupakan tempat sumber infeksi.

Penilaian Klinik

  • Pada umumnya infeksi intra uterin merupakan infeksi yang menjalar ke atas setelah ketuban pecah. Bakteri yang potensial pathogen (anaerob, aerob) masuk ke dalam air ketuban, diantaranya ialah
  1. Streptokoki golongan B
  2. Aserikia koli
  3. Streptokoki anaerob
  4. Spesies bakteroides.

Air ketuban mengandung imonoglobulin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri di rongga amnion.

  • Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi air ketuban terutama pada kondisi gawat janin. Oleh sebab itu, sebagian besar pneumonia neonatorum dini atau sepsis, terjadi intra uterin ( terutama dengan ibu yang malnutrisi)

Penanganan

  • Tentukan penyebab demam : dehidrasi, infeksi ekstragenital (sistemik) atau melalui jalan lahir
  • Apabila dehidrasi merupakan penyebab, lakukan rehidrasi yang sesuai
  • Atasi penyebab demam dari jalur sistemik :

-          Influensa

-          Pneumonia

Antipiretika : paracetamol 3 x 500 mg

Antibiotika :

  • ampisilin + sulbaktam 3 x 375 mg
  • Amoksilin + asam klavulanat 3 x 500 mg
  • Tiamfenikol 3 x 500 mg
  • Penisilin prokain 2,4 juta IU + gentamisin 80 mg (im) 3x sehari
  • Oksigen bila sesak
  • Apendisitis

-          Konsulkan ke bagian bedah untuk konfirmasi diagnosis

-          Bila persalinan segera berlangsung dan tidak terjadi perforasi, lakukan pemberian antibiotika dan terminasi kehamilan secara pervaginam

-          Bila persalianan masih akan berlangsung hingga diatas 2x penilaian pada partograf atau diatas 6 jam dan telah terjadi perforasi, lakukan operasi bersama dengan bagian bedah.

  • Pielonefritis
  • Observasi dan nilai kemajuan proses persalinan
  • Lakukan terminasi persalinan dengan memperhatikan etiologi demam
  • Bila terjadi korioamnionitis, lihat penatalaksanaan komplikasi tersebut
  • Evaluasi kondisi janin selama proses persalinan dan lakukan tindakan pertolongan atau resusitasi pada bayi baru lahir apabila terjadi asfiksia
  • Demam selama persalinan, mungkin akan berlanjut hingga masa nifas, oleh karena itu pemantauan dan terapi untuk kasus ini harus dilanjutkan hingga penyulit tersebut dapat benar-benar diatasi.

Korioamnionitis

Prinsip dasar

  • Merupakan komplikasi yang paling serius bagi ibu dan janin
  • Dapat berlanjut menjadi septicemia atau sepsis
  • Dapat terjadi jauh sebelum persalinan memasuki fase atau malahan sebelum trimester ketiga
  • Terapi antibiotika bukan merupakan jaminan bagi keselamatan ibu dan janin

Masalah

  • Morbiditas dan mortalitas pada ibu
  • Morbiditas dan mortalitas pada janin/neonatus sangat tinggi

Penanganan Umum

  • Buat diagnosis sedini mungkin
  • Induksi atau akselerasi persalinan pada kehamilan >35 minggu
  • Upayakan persalinan berlangsung pervaginam
  • Atasi semua komplikasi pada ibu dan janin/neonatus

Penilaian Klinik

  • Antara infeksi dan partus prematurus terdapat interaksi: korioamnionitis-pembebasan prostaglandin-partus prematurus-pembukaan serviks uteri-korioamnionitis.
  • Setelah terjadi invasi mikroorganisme ke dalam cairan ketuban, janin akan terinfeksi karena janin menelan atau teraspirasi air ketuban, ditandai dengan terjadinya takhikardia (denyut jantung bayi > 160 kali per menit)
  • Sebagian besar pneumonia neonatorun dini atau sepsis neonatorum berasal dari intrauterine, terutama pada ibu dengan malnutrisi
  • Sepsis neonatorum dini menunjukkan tanda-tanda apnea, malas minum dan apatis

Penanganan

  • Lakukan segala upaya untuk menegakkan diagnosis pasti adanya korioamnionitis karena diagnosis dini, sangat menentukan prognosis penyakit.
  • Nilai kondisi kehamilan dan persalinan, bila usia bayi premature maka hal ini petanda buruk bagi kelangsungan hidupnya. Bila janin telah meninggal, risiko infeksi tertuju pada ibu dan kecenderungan untuk terminasi pervaginam, dapat membuat masalah baru
  • Tindakan seksio sesarea harus diambil melalui pertimbangan yang tepat karena kejadian sepsis sangat tinggi dalam kasus seperti ini
  • Lakukan induksi persalinan bila belum in partu dan akselerasi bila telah in partu
  • Berikan terapi antibiotika sesegera mungkin dan pilih yang memiliki spectrum yang luas

Pada prinsipnya pengobatan memakai kombinasi : ampisilin, gentamisin dan metronidazol

  • Ampisilin 3 x 1000mg
  • Gentamisin 5mg/kg BB/hari
  • Metronidazol 3 x 500mg
  • Lakukan kerjasama dengan dokter anak untuk penanggulanggan janin/neonatus
  • Perhatikan kontraksi uterus pasca persalinan untuk menghambat invasi mikroorganisme melalui sinus-sinus pembuluh darah yang terdapat pada dinding uterus.

Alasan Merujuk

  1. Infeksi intrauterine merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion
  2. Merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu
  3. Morbiditas dan mortalitas pada janin/neonatus sangat tinggi
  4. Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi air ketuban terutama pada kondisi gawat janin
  5. Dapat berlanjut menjadi septicemia atau sepsis
  6. Merupakan komplikasi yang paling serius bagi ibu dan janin
  7. Terapi antibiotika bukan merupakan jaminan bagi keselamatan ibu dan janin

Cara Merujuk

  1. Baringkan miring ke kiri
  2. Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan diberikan RL atau NS 125 cc/ jam
  3. Berikan ampisilin 2gr atau amoksisilin 2gr per oral
  4. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan kegawatdaruratan obstetric
  5. Dampingi ibu ke tempat rujukan

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL KETUBAN PECAH DINI DISERTAI MEKONIUM

Standard

Air ketuban kurang atau dalam istilah kedokteran disebut oligohidramnion dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti ketuban pecah, kehamilan lewat waktu (post-date pregnancy, post-matur pregnancy), pertumbuhan janin terhambat (gangguan perkembangan janin, berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan), dan pada kehamilan dengan cacat bawaan pada janin terutama kelainan ginjal.

Pada awal kehamilan, air ketuban (amnionic fluid, cairan amnion) dihasilkan oleh sel amnion dan merupakan hasil filtrasi dari plasma ibu melalui selaput janin, tali pusat dan plasenta. Awal trimester kedua sebagian besar berasal dari cairan ekstraseluler yang berdifusi melalui kulit janin dan merefleksikan cairan plasma janin. Setelah kehamilan 20 minggu proses kornifikasi pada kulit janin mencegah proses difusi sehingga cairan ketuban sebagian besar berasal dari urin janin, selain itu juga dari cairan paru-paru janin. Ginjal janin mulai menghasilkan urin pada usia kehamilan 12 minggu. Air ketuban juga mengandung sel-sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo, dan hasil sekresi yang lain.

Adanya air ketuban memungkinkan janin dapat bergerak dan membantu perkembangan sistem otot rangka, membantu perkembangan saluran pencernaan janin, sebagai sumber cairan dan makanan janin, memberikan tekanan pada paru-paru janin sehingga berperan dalam perkembangan paru-paru janin, melinduni janin dari trauma, mencegah tali pusat tertekan, menjaga suhu janin dan melindungi janin dari infeksi.

Jumlah air ketuban bervariasi sesuai dengan usia kehamilan. Secara umum pertambahan air ketuban 10 ml perminggu sampai usia kehamilan 8 minggu dan meningkat sampai 60 ml perminggu pada usia kehamilan 21 minggu, mulai berkurang secara bertahap pada usia kehamilan 33 minggu.

Dampak air ketuban kurang tergantung pada penyebabnya. Bila disebabkan karena ketuban pecah, dampak terhadap ibu dan janin terutama adalah peningkatan risiko infeksi, yang dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim ataupun saat bayi baru dilahirkan.

Kondisi air ketuban kurang dalam waktu lama akibat produksinya yang memang sedikit, misalnya pada janin dengan kelainan ginjal dapat menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan terutama paru-paru janin.

Risiko air ketuban kurang pada kehamilan lewat umur dapat berupa :

  1. Selama hamil : janin akan kekurangan oksigen disebabkan karena fungsi plasenta    yang telah menurun.  Secara alamiah fungsi plasenta akan menurun karena    pengaruh pertambahan usia  kehamilan, yaitu terjadi  proses pengapuran pada    plasenta sehingga  akan menganggu proses transport nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin.
  2. Selama persalinan : meningkatkan risiko asfiksia pada janin yaitu suatu kondisi    janin semakin kekurangan  oksigen, risiko trauma pada bayi disebabkan oleh    ukuran bayi yang bertambah besar (bayi lewat bulan  dapat mengalami    peningkatan berat badan tetapi ada pula yang  mengalami penurunan berat    badan  karena kekurangan makanan dan oksigen).
  1. Alasan ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental perlu dirujuk

Air ketuban yang sedikit dan dengan mekonium kental merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Selain itu lapisan Wharton’s jelly yang terdapat ditali pusat dan  berfungsi  untuk melindungi pembuluh darah yang berada di tali pusat akan semakin menipis, sehingga  risiko tali  pusat tertekan semakin besar, dan janin akan semakin kekurangan oksigen.

Bila janin kekurangan oksigen, mekonium akan keluar (kotoran janin akan keluar dari dubur) sehingga air ketuban semakin kental. Risiko kematian janin akan semakin meningkat akibat  aspirasi cairan mekonium yaitu bayi meminum cairan ketuban yang kental dan  kemungkinan akan  terhisap masuk ke  paru-paru.

Risiko terhadap ibu adalah meningkatnya risiko untuk induksi persalinan atau persalinan dengan operasi. Bayi post-matur atau bayi lewat bulan dapat dikenali dengan ditemukan beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput karena kehilangan lemak bawah kulit, kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks (lapisan seperti lemak berwarna putih) dan lanugo (rambut halus pada bayi), kulit terkelupas, warna kuning kehijauan pada kulit dan tali pusat

2. Cara yang dilakukan saat merujuk

  1. Baringkan ibu ke sisi kiri.

Hal ini dilakukan agar vena cafa inferior tidak tertekan oleh janin, sehingga pasokan oksigen ke bayi dapat terpenuhi.

  1. Berikan oksigen.

Hal ini dilakukan agar suplai oksigen terpenuhi.

  1. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin)
  2. Dengarkan DJJ
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat serta bawa partus set, kateter penghisap lendir de lee dan handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.

Air ketuban kurang atau dalam istilah kedokteran disebut oligohidramnion dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti ketuban pecah, kehamilan lewat waktu (post-date pregnancy, post-matur pregnancy), pertumbuhan janin terhambat (gangguan perkembangan janin, berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan), dan pada kehamilan dengan cacat bawaan pada janin terutama kelainan ginjal.

Pada awal kehamilan, air ketuban (amnionic fluid, cairan amnion) dihasilkan oleh sel amnion dan merupakan hasil filtrasi dari plasma ibu melalui selaput janin, tali pusat dan plasenta. Awal trimester kedua sebagian besar berasal dari cairan ekstraseluler yang berdifusi melalui kulit janin dan merefleksikan cairan plasma janin. Setelah kehamilan 20 minggu proses kornifikasi pada kulit janin mencegah proses difusi sehingga cairan ketuban sebagian besar berasal dari urin janin, selain itu juga dari cairan paru-paru janin. Ginjal janin mulai menghasilkan urin pada usia kehamilan 12 minggu. Air ketuban juga mengandung sel-sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo, dan hasil sekresi yang lain.

Adanya air ketuban memungkinkan janin dapat bergerak dan membantu perkembangan sistem otot rangka, membantu perkembangan saluran pencernaan janin, sebagai sumber cairan dan makanan janin, memberikan tekanan pada paru-paru janin sehingga berperan dalam perkembangan paru-paru janin, melinduni janin dari trauma, mencegah tali pusat tertekan, menjaga suhu janin dan melindungi janin dari infeksi.

Jumlah air ketuban bervariasi sesuai dengan usia kehamilan. Secara umum pertambahan air ketuban 10 ml perminggu sampai usia kehamilan 8 minggu dan meningkat sampai 60 ml perminggu pada usia kehamilan 21 minggu, mulai berkurang secara bertahap pada usia kehamilan 33 minggu.

Dampak air ketuban kurang tergantung pada penyebabnya. Bila disebabkan karena ketuban pecah, dampak terhadap ibu dan janin terutama adalah peningkatan risiko infeksi, yang dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim ataupun saat bayi baru dilahirkan.

Kondisi air ketuban kurang dalam waktu lama akibat produksinya yang memang sedikit, misalnya pada janin dengan kelainan ginjal dapat menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan terutama paru-paru janin.

Risiko air ketuban kurang pada kehamilan lewat umur dapat berupa :

  1. Selama hamil : janin akan kekurangan oksigen disebabkan karena fungsi plasenta    yang telah menurun.  Secara alamiah fungsi plasenta akan menurun karena    pengaruh pertambahan usia  kehamilan, yaitu terjadi  proses pengapuran pada    plasenta sehingga  akan menganggu proses transport nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin.
  2. Selama persalinan : meningkatkan risiko asfiksia pada janin yaitu suatu kondisi    janin semakin kekurangan  oksigen, risiko trauma pada bayi disebabkan oleh    ukuran bayi yang bertambah besar (bayi lewat bulan  dapat mengalami    peningkatan berat badan tetapi ada pula yang  mengalami penurunan berat    badan  karena kekurangan makanan dan oksigen).
  1. 1. Alasan ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental perlu dirujuk

Air ketuban yang sedikit dan dengan mekonium kental merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Selain itu lapisan Wharton’s jelly yang terdapat ditali pusat dan  berfungsi  untuk melindungi pembuluh darah yang berada di tali pusat akan semakin menipis, sehingga  risiko tali  pusat tertekan semakin besar, dan janin akan semakin kekurangan oksigen.

Bila janin kekurangan oksigen, mekonium akan keluar (kotoran janin akan keluar dari dubur) sehingga air ketuban semakin kental. Risiko kematian janin akan semakin meningkat akibat  aspirasi cairan mekonium yaitu bayi meminum cairan ketuban yang kental dan  kemungkinan akan  terhisap masuk ke  paru-paru.

Risiko terhadap ibu adalah meningkatnya risiko untuk induksi persalinan atau persalinan dengan operasi. Bayi post-matur atau bayi lewat bulan dapat dikenali dengan ditemukan beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput karena kehilangan lemak bawah kulit, kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks (lapisan seperti lemak berwarna putih) dan lanugo (rambut halus pada bayi), kulit terkelupas, warna kuning kehijauan pada kulit dan tali pusat

2. Cara yang dilakukan saat merujuk

  1. Baringkan ibu ke sisi kiri.

Hal ini dilakukan agar vena cafa inferior tidak tertekan oleh janin, sehingga pasokan oksigen ke bayi dapat terpenuhi.

  1. Berikan oksigen.

Hal ini dilakukan agar suplai oksigen terpenuhi.

  1. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin)
  2. Dengarkan DJJ
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat serta bawa partus set, kateter penghisap lendir de lee dan handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PREMATUR

Standard

Definisi Persalinan Preterm

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang.

Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu.

Diagnosis Persalinan Preterm

Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:

  1. Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
  2. Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
  3. Perdarahan bercak
  4. Perasaan menekan daerah serviks
  5. Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%
  6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
  7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
  8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu

ALASAN MERUJUK

Kelahiran preterm merupakan masalah rasional yang multikompleks dan perlu pemecahan yang konseptual. Secara mikro ada program yang komprehensif di tiap klinik untuk mencegah kelahiran preterm. Ibu sebaiknya dirujuk kepada klinik yang mampu menangani resusitasi, stabilisasi, dan perawatan bayi preterm. Kebijakan penanganan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat yang memerlukan evaluasi teus-menerus guna mengurangi mortalitas dan morbiditas bayi preterm.

Bila dijumpai serviks pendek (<1cm) disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda serviks matang/inkompetensi serviks, memunyai risiko terjadinya persalinan preterm 3-4 kali.

Efek persalinan preterm tidak bisa dianggap ringan. Pada ibu  dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan. Plasentitis, dan endometritis pasca persalinan. Misal persalinan preterm  pada ibu yang  penyebabnya perdarahan antepartum, tentu ibu akan melahirkan melalui section sesarea.

Bayi premature dengan tengkorak yang lunak dan daya tahan yang rendah tidak akan mampu menghadapi trauma. Kalau mungkin, kontraksi kuat yang berlebihan dan partus presipitatus harus dihindari. Sayangnya baik bayi maupun uterus tidak siap untuk persalinan yang normal. Sering serviks yang belum matang menambah kesulitan-kesulitan tersebut. Monitoring denyut jantung anak secara terus-menerus merupakan hal yang penting.

Selain itu dampak pada bayi, salah satunya pembentukan organ yang belum sempurna setelah ia dilahirkan. Seperti paru-paru dan saluran cerna yang belum matang. Bayi pun akan mudah mengalami hipotermi (kedinginan), mudah mengalami infeksi dan hipoglikemi (gula darah yang rendah).  Karena itulah, bayi prematur kemungkinan besar akan masuk ICU. Persalinan preterm menyumbang angka kematian pada bayi hingga 65-75%.

Ibu hamil yang mempunyai risiko terjadi persalinan preterm dan/atau menunjukan tanda-tanda persalinan preterm perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan neonatal outcomes.

CARA MERUJUK

Penatalaksanaan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah mordibitas dan mortalitas neonates preterm adalah:

  1. Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
  2. Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
  3. Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi

Menurut FKUI. Kapita Selekta Kedokteran. 2001.

Setiap persalinan preterm harus dirujuk ke rumah sakit. Cari apakah faktor penyulit ada. Dinilai apakah termasuk risiko tinggi atau rendah.

  1. Sebelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak.
  2. Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat takolitik seperti Fenoterol 5 mg peroral dosis tunggal sebagai pilihan pertama atau Ritodrin mg peroral dosis tinggi sebagai pilihan kedua, atau Ibuprofen 400 mg peroral dosis tungga sebagai pilihan ketiga.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan beri dukungan.
  4. Persalinan tidak boleh ditunda bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak) dan kontraindikasi relative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).

 

PERDARAHAN PERVAGINAM SELAIN LENDIR DARAH

Standard

Perdarahan pervaginam yang biasa terjadi pada saat menjelang persalinan (trimestre akhir) kehamilan dapat disebabkan  oleh 3 macam yaitu :

A. PLASENTA PREVIA

Pengertian Placenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 2006).

Alasan Placenta Previa harus Dirujuk

Perdarahan pada plasenta previa terjadi tanpa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas. Mekanisme perdarahan karena pembentukan segmen bawah rahim menjelang kehamilan aterm sehingga plasenta lepas dari implantasi dan menimbulkan perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan penyulit pada janin maupun ibu. Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai syok. Sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 1998).

Pengaruh Plasenta Previa

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap kehamilan

Karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir ke dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kelainan letak janin seperti letak kepala mengapung, letak sungsang, letak lintang. Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulum darah pada serviks. Selain itu juga banyak plasenta yang lepas, kadar progesteron turun dan dapat terjadi his, juga lepasnya plasenta sendiri dapat merangsang his. Dapat juga karena pemeriksaan dalam (Mochtar, 1998).

  1. Pengaruh plasenta previa terhadap partus.
    1. Letak janin yang tidak normal, menyebabkan partus akan menjadi patologik.
    2. Bila pada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat terjadi prolaps funikuli.
    3. Sering dijumpai inersia primer.

d.  Perdarahan.

3.    Pengaruh plasenta previa terhadap janin.

  1. Lahir prematur.
  2. Infeksi.
  3. Asfiksia berat sampai IUFD.

Komplikasi

  1. Pada ibu
  • Perdarahan pascasalin
  • Syok hipovolemik
  • Infeksi-sepsis
  • Laserasi serviks
  • Plasenta akreta
  • Emboli udara (jarang)
  • Kelainan koagulapati sampai syok
  • Kematian
  1. Pada anak
  • Hipoksia
  • Anemia
  • Prolaps tali pusat
  • Prolaps plasenta
  • Prenaturiotas atau lahir mati
  • Kematian

Cara Merujuk

Penanganan Awal sebelum Dirujuk

Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup.

Dalam melakukan rujukan penderita plasenta previa sebaiknya dilengkapi dengan:

  1. Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan.
  2. Sedapat mungkin diantar petugas.
  3. Dilengkapi keterangan secukupnya.
  4. Dipersiapkan donor darah untuk tranfusi darah.

Manajemen Umum

Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG. (2004), manajemen umum pada plasenta previa adalah sebagai berikut:

  1. Tergantung dari:
    1. Keadaan umum penderita.
    2. Jumlah perdarahan.
    3. Keadaan janin intrauterin.
    4. Upaya preventif:
      1. Memasang infus.
      2. Menyiapkan transfusi darah.
      3. Menyiapkan referal (rujukan) bila di Puskesmas.
      4. Diagnosis pasti:
        1. Pemeriksaan ultrasonografi.
        2. Pemeriksaan dalam di meja operasi.

d. Bila dijumpai di Puskesmas, sebaiknya direferal (dirujuk) ke rumah sakit umum tipe C.

e. Kejadian plasenta previa makin berkurang seiring dengan semakin diterimanya konsep Well Born Baby dan

Well Health Mother.

B. SOLUTIO PLASENTA

Pengertian

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram. Istilah solusio plasenta juga dikenal dengan istilah abruptio plasenta atau separasi prematur dari plasenta. Plasenta dapat lepas seluruhnya yang disebut solusio plasenta totalis atau terlepas sebagian yang disebut solusio plasenta parsialis atau terlepas hanya pada sebagian kecil pinggir plasenta yang sering disebut ruptur sinus marginalis

Alasan Merujuk

Pelepasan sebagian atau seluruh plasenta dapat menyebabkan perdarahan baik dari ibu maupun janin. Kejadian ini merupakan peristiwa yang serius dan merupakan penyebab sekitar 15% kematian prenatal. 50% kematian ini disebabkan oleh kelahiran prematur dan sebagian besar dari sisa jumlah tersebut meninggal karena hipoksia intrauterin. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan penyulit terhadap ibu maupun janin

Penyulit terhadap ibu dapat dalam bentuk :

  1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
  2. Terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan pernapasan
  3. Penderita tampak anemis
  4. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah, karena terjadi pembekuan intravaskuler yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogen makin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
  5. Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karena atonia uteri atau gangguan pembekuan darah
  6. Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkan komplikasi sekunder
  7. Peningkatan timbunan darah dibelakang plasenta dapat menyebabkan rahim yang keras, padat dan kaku
  8. Penyulit terhadap janin dalam rahim, tergantung luas plasenta yang lepas, dimana dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam rahim.

Komplikasi

Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.  Komplikasi yang dapat terjadi adalah :

  1. Komplikasi pada ibu
    1. Perdarahan
    2. Variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
    3. Perdarahan tidak sesuai dengan keadaan penderita yang anemis sampai syok (waspada perdarahan tersembunyi)
    4. Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma
    5. Gangguan pembekuan darah
    6. Masuknya tromboplastin kedalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravaskuler dan disertai hemolisis
    7. Terjadi penurunan fibrinogen, sehingga hipofibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah
    8. Oliguria
    9. Terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang
    10. Perdarahan postpartum
    11. Pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri
    12. Kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan

m.  Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah selesai, penderita belum bebas dari bahaya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala 3 dan kelainan pembekuan darah. Kontraksi uterus yang tidak kuat itu disebabkan ekstravasasi darah diantara otot-otot miometrium, seperti yang terjadi pada uterus couvelaire.

  1. Komplikasi pada janin
    1. Perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin dalam rahim
    2. Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin tergantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya si fundus uteri

 

 

Cara Merujuk

Sikap bidan dalam menghadapi solusio plasenta

Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan kebidanan, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. Dalam menghadapi perdarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama adalah melakukan rujukan ke rumah sakit. Dalam bentuk rujukan diberikan pertolongan darurat :

  1. Pemasangan infus
  2. Tanpa melakukan pemeriksaan dalam/vaginal toucher
  3. Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
  4. Mempersiapkan donor dari keluarga atau masyarakat
  5. Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama

 

C. RUPTUR UTERI

Pengertian

Terjadinya rupture uteri pada seorang ibu hamil atau sedang bersalin masih merupakan suatu bahaya besar yang mengancam jiwanya dan janinnya. Kematian ibu dan anak karena rupture uteri masih tinggi. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti afrika dan asia. Angka ini sebenarnya dapat diperkecil bila ada pengertian dari para ibu dan masyarakat. Prenatal care, pimpinan partus yang baik, disamping fasilitas pengangkutan dari daerah-daerah periver dan penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting.

Cara Merujuk

  1. Segera hubungi dokter, konsultan, ahli anestesi, dan staf kamar operasi
  2. Buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no 16 : satu oleh larutan elektrolit, misalnya oleh larutan rimger laktat dan yang lain oleh tranfusi darah. ( jaga agar jalur ini tetap tebuka dengan mengalirkan saline normal, sampai darah didapatkan ).
  3. Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito, perkiraan jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan
  4. Berikan oksigen
  5. Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera ( laparatomi dan histerektomi )
  6. Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-     Wiknyosastro, Hanifah. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

-     http://www.bandung kab.go.id diunduh: 29 Maret 2010 Jam 18.20 WIB.

 

health update

Standard

Risiko Merokok Dapat Mengubah Gen

Kalbe.co.id – Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 komponen, termasuk paling tidak lima komponen karsinogen (penyebab kanker) dan sejumlah racun-racun lainnya.
Charlesworth dan teman-temannya dari Southwest Foundation for Biomedical Research (SFBR) di San Antonio melihat perubahan pada gen-gen dalam sel darah putih dari 1.240 warga Meksiko Amerika, termasuk 297 partisipan yang merokok. Penelitian genetik bisa membantu menjelaskan hubungan antara kebiasaan merokok dan kanker, penyakit kardiovaskular, dan sejumlah penyakit lainnya.
Paparan asap rokok, menurut temuan studi terbaru, secara dramatis mengubah gen dengan berbagai cara negatif, termasuk memicu pertumbuhan tumor, penyakit peradangan, dan penurunan sistem kekebalan tubuh. Peneliti mengidentifikasi 323 gen yang secara signifkan berubah karena asap rokok.
“Kita sudah lama tahu bahwa merokok meningkatkan risiko seseorang menderita kanker dan penurunan sistem kekebalan tubuh,” tutur peneliti Jac. C. Charlesworth PhD, seperti dikutip situs webmd.com. “Yang kita tunjukkan di sini adalah bahwa merokok mengubah DNA tubuh.”

Rekomendasi Suplemen untuk Wanita 40 tahun ke Atas

(22-Feb-2010)Oleh: NFA
Kalbe.co.id – Penuaan akan mempengaruhi proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Saat memasuki usia pertengahan, perempuan seringkali tidak bisa mendapatkan seluruh kebutuhan nutrisi melalui diet. Untuk melengkapi nutrisi, Anda bisa mengonsumsi suplemen. Suplemen apa saja yang perlu? Menurut Andrew Weil, MD,seorang profesor klisnis di bidang obat dari University of Arizona, berikut empat suplemen yang diperlukan perempuan berusia 40 ke atas.
Suplemen multivitamin merupakan pilihan pertama. Pilihlah multivitamin yang mengandung vitamin C (200 miligram), vitamin E (400 internasional unit/IU, karoten campuran (15.000 IU), selenium (200 mcg), asam folat (400 mcg), dan vitamin B lainnya. Pastikan multivitamin yang Anda pilih tidak mengandung besi. Hal ini karena sebagian besar perempuan tidak membutuhkan zat besi ekstra, khususnya jika mereka telah memasuki masa postmenopause.
Kalsium sitrat, yang membantu membangun dan mempertahankan tulang kuat, menurunkan tekanan darah, dan meredakan gejala-gejala premenstrual syndrome/PMS. Weil menganjurkan Anda untuk mengonsumsi 500 mg kalsium sitrat setiap hari.
Vitamin D3. Studi-studi menghubungkan kekurangan vitamin D3 dengan peningkatan risiko osteoporosis, hipertensi, radang sendi, dan beberapa jenis kanker. Menurut Weil, perempuan akan mendapatkan manfaat dengan mengonsumsi sekitar 2.000 IU vitamin D3 sehari.
Minyak ikan. Weil menganjurkan Anda mengonsumsi hingga 2 gram suplemen yang mengandung campuran EPA dan DHA, dua jenis asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung dan otak.

ASI Eksklusif

Standard

LAKTASI (ASI EKSKLUSIF)

  1. Pengertian Air Susu Ibu

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya

ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat..

ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.

  1. Proses Laktasi

Produksi ASI diawali dari peristiwa penurunan kadar hormone esterogen. Penurunan kadar esterogen ini mendorong naiknya kadar prolaktin. Naiknya kadar prolaktin, mendorong produksi ASI. Maka dengan naiknya kadar prolaktin tersebut, mulailah aktivitas produksi berlangsung.

Ketika bayi mulai menyusu pada ibunya, aktivitas bayi menyusu pada mammae ini menstimulasi terjadinya produksi prolaktin yang terus menerus dan berkesinambungan.

Sekresi ASI dipengaruhi oleh neuro-endokrin. Rangsangan sentuhan pada payudara yakni ketika bayi mengisap puting susu menyebabkan terjadinya produksi oksitosin. Oksitosin merangsang terjadinya kontraksi sel-sel mioepitel (refleks ’let down’ atau pelepasan ASI.

Emosi ibu juga memberikan pengaruh fisiologis pelepasan ASI. Misalnya rasa takut, lelah, malu, stres dapat menghambat pelepasan ASI keluar payudara. Pada tahap awal emosi ibu tidak berpengaruh terhadap pelepasan ASI tetapi setelah beberapa hari bayi mengisap ASI.

Hisapan bayi pada mammae ibu dapat merangsang atau memicu pelepasan ASI dari alveolus mammae melalui duktus ke sinus laktiferus. Secara fisiologis, hisapan bayi pada mammae ibu, merangsang produksi oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior. Oksitosin memasuki darah dan menyebabkan kontraksi sel-sel khusus (sel-sel mioepitel) yang mengelilingi alveolus mammae dan duktus laktiferus. Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong ASI keluar dari alveolus melalui duktus laktiferus dan di sana ASI tersebut akan disimpan. Pada saat bayi menghisap puting payudara, ASI di dalam sinus tertekan keluar, ke mulut bayi. Gerakan ASI dan sinus ini dinamakan ’let down’, atau pelepasan. Di kemudian hari atau pada akhirnya, ’let down’ tersebut dapat dipicu tanpa rangsangan hisapan. Mendengar bayi menagis ataupun memikirkan kondisi bayinya saja pun dapat terjadi ’let down’ tersebut.

Laktasi atau pengeluaran susu serta penyaluran keluar payudara sewaktu diisap adalah fungsi payudara. Hal ini dapat diuraikan dalam dua tahap:

  1. Sekresi air susu (terjadinya di dalam jaringan payudara)
  2. Pengeluaran dari payudara (Pearce, C. E, 2006, copy right 1973)

Pada kehamilan minggu ke 16 mulai terjadi sedikit sekresi yang membuat saluran dalam buah dada tetap terbuka dan siap untuk fungsinya. Sesudah bayi lahir dan buah dada si ibu keluar secreat yang berupa cairan bening yang disebut kolostrum kaya akan protein, dan dikeluarkan selama 2-3 hari pertama, kemudian air susu mengalir lebih lancer dan menjadi air susu yang sempurna. Sebuah hormone dan lobus anterior kelenjar hipofisis, yaitu prolaktin, adalah penting dalam merangsang pembentukan air susu. Keluarnya sekresi ini dikendalikan oleh hormone hipofisis bagian anterior dan kelenjar tiroid.

Seorang ibu yang menyusui perlu mendapat rangsangan, terutama pada bayinya yang pertama, supaya susu keluar secara normal. Keluarnya tidak saja tergantung dan isapansi bayi, tetapi juga dari mekanisme di dalam mammae yang dengan berkontraksi memeras air susu keluar dari alveoli dan masuk ke dalam saluran.

  1. Kebaikan ASI dan Menyusui

ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut:

  1. ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi.
  2. ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk:
    1. Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
    2. Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
    3. Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
    4. Memudahkan penyerahan herbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium.
  3. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.
  4. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.
  5. Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
  6. Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu:
    1. Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.
    2. Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak.
    3. Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil
    4. Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.
    5. Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan).
    6. Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.
  1. Produksi ASI

Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabutotot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar

Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.

Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.

Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Colostrum

  1. Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
  2. Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
  3. Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
  4. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
  5. Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
  6. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
  7. Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
  8. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
  9. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.

10.  Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.

11.  Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.

12.  PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.

13.  Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.

14.  Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.

15.  Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.

b. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)

  1. Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
  2. Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 ke 5.
  3. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
  4. Volume semakin meningkat.

c. Air Susu Mature (matang)

  1. ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
  2. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi.
  3. ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi.
  4. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
  5. Tidak menggumpal bila dipanaskan.
  6. Volume: 300 – 850 ml/24 jam
  7. Terdapat anti microbaterial factor, yaitu:
    1. Antibodi terhadap bakteri dan virus.
    2. Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
    3. Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
    4. Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)
    5. Faktor resisten terhadap staphylococcus.
    6. Complecement ( C3 dan C4)
  1. Volume Produksi ASI

Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua. Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.

Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama. Penyedotan/ penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit.

Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari. Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Konsumsi ASI selama satu kali menyusui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI

Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalamtahun kedua kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat kekurangan gizi seringkali ditemukan “merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.

  1. Komposisi ASI

Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).

Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut:

Tabel 1

Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml

Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal)  

Protein (g)

- Kasein/whey

- Kasein (mg)

- Laktamil bumil (mg)

- Laktoferin (mg)

- Ig A (mg)

Laktosa (g)

Lemak (g)

Vitamin

- Vit A (mg)

- Vit B1 (mg)

- Vit B2 (mg)

- Asam Nikotinmik (mg)

- Vit B6 (mg)

- Asam pantotenik

- Biotin

- Asam folat

- Vit B12

- Vit C

- Vit D (mg)

- Vit Z

- Vit K (mg)

Mineral

- Kalsium (mg)

- Klorin (mg)

- Tembaga (mg)

- Zat besi (ferrum) (mg)

- Magnesium (mg)

- Fosfor (mg)

- Potassium (mg)

- Sodium (mg)

- Sulfur (mg)

 

58 

2,3

140

218

330

364

5,3

2,9

151

1,9

30

75

-

183

0,06

0,05

0,05

5,9

-

1,5

-

39

85

40

70

4

14

74

48

22

70 

0,9

1 : 1,5

187

161

167

142

7,3

4,2

75

14

40

160

12-15

246

0,6

0,1

0,1

5

0,04

0,25

1,5

35

40

40

100

4

15

57

15

14

65 

3,4

1 : 1,2

-

-

-

-

4,8

3,9

41

43

145

82

64

340

2,8

,13

0,6

1,1

0,02

0,07

6

130

108

14

70

12

120

145

58

30

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi.

Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini

Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan erdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi.

Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.

ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.

Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada aanak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak.

  1. Manajemen Laktasi

Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.

Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut

a. Pada masa Kehamilan (antenatal)

  1. Memberikan penernagan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.
  2. Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan putting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
  3. Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
  4. Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.
  5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.

b. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)

  1. Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi pada payudara ibu.
  2. Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
  3. Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.

c. Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)

  1. Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
  2. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
  3. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
  4. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
  5. Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
  6. menghubungi kelompk pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.
  7. Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 6 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
  1. Makanan Bayi Berusia 0-6 bulan

Ibu-ibu seharusnya bersyukur bila payudaranya, ternyata dapat memproduksi air susu yang berlimpah, karena anugrah tuhan ini tidak dimiliki oleh semua ibu. Meskipun demikian, diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalm jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya, secara penuh tanpa makanan tamabahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama 3 bulan pertama (Warno FG, 1990 hal.175).

Dalam usia 0-6 bulan bayisepenuhnya mendapat makanan berupa ASI dan tidak perlu di beri makanan lain, kecuali jka ada tanda-tanda produksi ASI tidak mencukupi.

Keadaan gizi anak pada waktu lahir sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi semasa hamil. Ibu yang semasa hamilnya menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya tidak baik, juga kemungkinan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam pertumbuhannya, atau mungkin anak akan lahir mati. Sejak terjadinya pembuahan terhadap sel telur dalam rahim ibu. Hanya makanan yang memenuhi syarat gizi bagi anak dan bagi ibunya yang dapat membantu syarat gizi bagi wanita hamil dan pengaturan makanan anak yang sesuai merupakan masalah pokok yang perlu dihayati oleh para ibu.

Menyusui adalah cara makan aanak-anak yang tradisional dan ideal, yang biasanya sanggup memenuhi kebutuhan gizi seseorang bayi untuk masa hidup empat sampai enam bulan pertama. Bahkan setelah diperkenankan bahan makanan tambahan yang utama, ASI masih tetap merupakan sumber utama yang bisa mencukupi gizi.

Dalam tahap usia sejak lahir sampai 6 bulan, ASI merupakan makanan yang paling utama. Pemberian ASI masa ini memberikan beberpa keuntungan.

Betapapun tingginya dan baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi, manfaatnya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh ibu. Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi.

ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 6 bulan. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 6 bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI karena ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi pada 6 bulan pertama.

Adapun makanan bayi umur 0-6 bulan adalah sebagai berikut

  1. Susui bayi segera 30 menit setelah lahir.
  2. Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
  3. Berikan Kolostrum
  4. Berikan ASI dari kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap kali sampai payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai kosong merangsang produksi ASI yang cukup.
  5. Berikan ASI setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal.
  6. Berikan ASI 0-10 kali setiap hari, termasuk pada malam hari.
  1. Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI

Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:

a. Makanan Ibu

Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.

Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.

Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.

b. Ketentraman Jiwa dan Pikiran

Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.

Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:

1. Reflek Prolaktin

Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.

2. Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)

Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

c. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin

Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.

d. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.

Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI.

e. Perawatan Payudara

Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.

  1. Cara menyusui yang Baik dan Benar
  1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.
  2. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dgn posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
  3. Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.

DAFTAR PUSTAKA

www.surabaya-ehealth.org/ Kamis, 24 September 2009. 19.30 WIB.

www.kesehatan-anak.com/kesehatan-anak-asi/ Kamis, 24 September 2009. 19.35 WIB.

dinkes.kulonprogokab.go.id Kamis, 24 September 2009. 19.33 WIB

Bobak, dkk.2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC

Neilson, Joan.1987.Perawatan Bayi Tahun Pertama. Jakarta:Arcan

Suherni, dkk.2009.Perawatan Masa Nifas.Yogyakarta:Fitramaya.

Tromboflebitis

Standard

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan paska persalinan terjadi empat jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena itulah penting sekali untuk memantau ibu secara ketat, segera setelah setiap tahapan atau kala persalinan diselesaikan, khususnya pada saat setelah persalinan. Pemantauan ini berupa konsultasi paska persalinan di ruangan maupun pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan. Jika tanda-tanda vital dan tonus uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama pasca persalinan, mungkin ibu tidak akan mengalami perdarahan paska persalinan. Penting sekali untuk tetap berada di samping ibu dan bayinya selama dua jam pertama pasca persalinan. Tekanan darah dan denyut nadi harus diukur tiap 15 menit sekali, selama beberapa jam pertama setelah pelahiran, atau lebih sering bila ada indikasi tertentu. Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras juga diperlukan. Pemantauan suhu tubuh, perdarahan harus diawasi. Tidak dianjurkan menggunakan kain pembebat perut selama dua jam pertama pasca persalinan atau hingga ibu sudah stabil. Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit naik antara 37,2-37,8 0C oleh karena resorbsi benda-benda dalam rahim dan mulainya laktasi. Dalam hal ini disebut demam resorbsi, hal ini adalah normal. Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas. Demam nifas adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Mobilitas puereuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38 0C atau lebih selama 2 hari. Dalam 10 hari pertama postpatum. Kecuali pada hari pertama. Suhu diukur 4x sehari secara oral (dari mulut).

Beberapa faktor predisposisi:
1) Kurang gizi atau nutrisi
2) Anemia
3) Higiene
4) Kelelahan
5) Proses persalinan bermasalah;
a. Partus lama atau macet
b. Korioamnionitis
c. Persalinan traumatik
d. Kurang baiknya pencegahan infeksi
e. Manipulasi yang berlebihan
f. Dapat berlanjut keinfeksi dalam masa nifas
(Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002)
Bermacam-macam jalan masuk kuman kedalam alat kandungan, seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dari dalam tubuh), dan endogen (dari jalan lahir sendiri):
1) Streptococcus Haemoliticus Aerobik
2) Staphylococcus aureus
3) Escherichia coli
Infeksi diklasifikasikan menjadi Infeksi terbatas lokasinya pada perineum, vulva, serviks, dan endometrium dan Infeksi yang menyebar ketempat lain melaui: pembuluh darah vena, pembuluh limfe dan endometrium (Rustam Muchtar, 1998).
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan keopala janin gelana kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

TROMBOFLEBITIS
1. Pengertian
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin selama kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).

2. Klasifikasi
Tomboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Pelvio tamboflebitis
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering terkena ialah vena overika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak di bagian atas uterus; proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan peridiapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterna ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.

b. Tomboflebitis femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum.
(Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002)

3. Etiologi
a. Perluasan infeksi endometrium
b. Mempunyai varises pada vena
c. Obesitas
d. Pernah mengalami tramboflebitis
e. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi litotomi untuk waktu yang lama
f. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga.
(Adele Pillitteri, 2007)

4. Tanda dan Gejala
a. Pelvio Tromboflebitis
1) Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
2) Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
a) Mengigil berulang kali, menggigil inisial terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
b) Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC menjadi 40 oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis)
c) Penyakit dapat langsung selama 1-3 bulan
d) Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru
3) Abses pada pelvis
4) Gambaran darah
a) Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
b) Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
5) Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika; yang sulit dicapai pada pemeriksaan dalam.
b. Tromboflebitis femoralis
1) Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
2) Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
a) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
b) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
c) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
d) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
e) Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
f) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles (tanda homan positif)

5. Penatalaksanaan
a. Pelvio Tromboflebitis
1) Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang baik
2) Anjurkan penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
(Abdul Bari Saifudin, dkk., 2002)

b. Tromboflebitis Femoralis
1) Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan pembekuan darah.
2) Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada betis.
3) Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
4) Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
5) Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
6) Berikan alat pemanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
7) Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang terkena.
8) Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
9) Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya: pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
10) Jelaskan kepada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat telah dilakukan.
11) Beritahu klien bahwa perlu dilakukan rujukan untuk menentukan diagnosis pasti dan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
(Adele Pillitteri, 2007)

¬¬¬
ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS PADA IBU NIFAS HARI KE 4
Ny. “S” DENGAN TROMBOFLEBITIS
DI BPS ASY SYIFA
Jl. Mangkuyudan MJ III/304

I. PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal 5 November 2010 pukul 17.00 WIB
A. Identitas
Nama Istri :
Umur :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Suku :
Alamat :

B. Anamnese
1. Keluhan utama
Ibu post partum 4 hari yang lalu (1 November 2010) mengeluh badannya terasa panas, nyeri pada betis, kaki kiri bengkak dan kemerahan.

2. Riwayat persalinan
Ibu partus pada tanggal 1 November 2010 pukul 19.00 WIB
Kala I : Lamanya 7 jam 40 menit, jumlah perdarahan 0 cc, ketuban pecah spontan, air ketuban jernih.
Kala II : Lamanya 30 menit persalinan spontan pervaginam, bayi lahir normal APGAR SCORE 7/9 , jenis kelamian laki-laki, BB 2800 gram, PB 50 cm, tidak ada lilitan tali pusat, tidak ada robekan jalan lahir, jumlah perdarahan +/- 100 cc.
Kala III : Lamanya 15 menit, plasenta lahir spontan, kotiledon dan selaput lengkap berat plasenta 500gr, kontraksi uterus baik, jumlah perdarahan +/- 100 cc.
Kala IV : Berlangsung normal, kontraksi uterus baik, jumlah perdarahan +/- 200cc, keadaan umum ibu tampak letih, TD:110/70 mmHg, RR: 20x/ menit, S: 37,5 oC, N: 80x/menit.
3. Pola Hidup Sehari-Hari
a. Nutrisi
Sebelum melahirkan : Ibu makan 3x sehari, dengan porsi satu piring nasi, sayur, tempe/ikan, buah. Ibu minum 8-12 gelas / hari dan minum susu.2 gelas / hari
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan tidak begitu nafsu makan, dua kali sehari dengan porsi 1 piring nasi, sayur, tempe, ikan, telur, buah. Ibu telah banyak minum 12-14 gelas / hari. Dan minum susu 2 gelas/hari
b. Eliminasi
Sebelum melahirkan : BAB; 1x sehari konsistensi lunak.
BAK; 3-4x sehari
Sesudah melahirkan : BAB; Ibu mengatakan belum BAB setelah melahirkan.
BAK sejak melahirkan ibu sudah 3x BAK.
c. Istirahat
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan biasa tidur 7-8 jam / hari, 1 jam tidur siang.
Sesudah melahirkan : Ibu mengatakan sulit tidur karena nyeri pada betisnya, sehingga hanya tidur 5-6 jam / hari, tidur siang ½ jam.

d. Aktifitas
Sebelum melahirkan : Ibu mengatakan melakukan tugas rumah tangga sendiri, melakukan kegiatan sehari-hari sendiri tanpa bantuan.
Sesudah melahirkan : Ibu belum melakukan banyak aktifitas di bantu keluarga, namun sudah bisa ke kamar mandi sendiri.
e. Personal Hygiene
Sebelum melahirkan : Baik, Ibu mandi 2x sehari, ganti pakaian 2x sehari,
Sesudah melahirkan : Baik, Ibu mandi 2x sehari, ganti pakaian 2x sehari, cuci rambut 2 hari sekali, ganti pembalut 3x sehari, cuci tangan sesudah BAK dan BAB, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.
4. Keadan Psikologis
Ibu mengatakan saat ini merasa bahagia dengan kelahiran bayinya karena sudah lama menantikannya, namun ibu agak cemas tidak bisa merawat bayinya dengan baik karena ini pengalamannya yang pertama. Suami dan keluarga sangat senang dengan kelahiran bayinya. Ibu takut bergerak karena terasa nyeri, Ibu menyusui bayinya.
5. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu post partum hari 4, ibu mengatakan badannya letih dan pegal tidak ada luka jahitan, nyeri pada kaki dan betis ibu mengatakan takut bergerak.
6. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada penyakit menular dan tidak mempunyai penyakit menahun, seperti jantung, darah tinggi, gula, asma.

C. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Ibu tampak letih
Kesadaran : Composmentis
BB sebelum hamil : 56 Kg
Hamil aterm : 64 Kg
Setelah melahirkan : 58 Kg
TB : 157 Cm
a. Tanda-tanda vital
TD : 110/70 nnHg¬
Nadi : 80x / menit
Temperatur : 37,5 oC
Pernafasan : 22x / menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : Rambut berwarna hitam, lurus, bersih
b. Wajah : Tidak ada odema
c. Mata : Fungsi penglihatan baik, konjungtiva pucat, sklera putih, simetris kanan dan kiri
d. Hidung : Bersih, tidak ada benda asing, tidak ada pengeluaran
e. Telinga : Fungsi pendengaran baik, bersih, tidak ada pengeluaran
f. Mulut dan gigi : Bibir lembab, tidak ada caries, lidah bersih, tidak ada peradangan tonsil
g. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan pembengkakan vena jugularis
h. Payudara : Terlihat bersih, konsistensi lunak, simetris kanan-kiri, putting susu menonjol, terdapat hiperpigmentasi pada areola mamae, tidak ada nyeri, abses, dan pembengkakan, ASI lancar

i. Abdomen : TFU pertengahan pusat-sympisis, kandung kemih kosong, konsistensi keras, kontraksi uterus baik.
j. Genitalia : Tidak terdapat luka perineum, tidak ada varises pada vagina, pengeluaran lokhea sanguilenta, tidak ada oedema
k. Bokong : Kotor oleh lendir dan bekas darah serta air ketuban, tidak terdapat hemoroid
l. Ekstrimitas atas : aktif
m. Ekstrimitas bawah : Ada oedema, kaki kiri bengkak dan kemerahan, nyeri pada betis, kaki kiri sulit digerakkan, simetris kanan-kiri

ASSESMENT
A. Diagnosa
Ny. “S” umur 24 tahun P1Ab0Ah1 post partum hari ke-4 dengan dugaan tromboflebitis femoralis
Dasar :
1. Ibu post partum hari ke-4 partus tanggal 1 November 2010 pukul 19.00
2. Kaki kiri bengkak dan kemerahan
3. Nyeri pada kaki dan betis
4. Ibu merasa kaki tegang
5. Suhu tubuh 37,5 oC

B. Masalah
Ibu merasa yeri hebat pada kaki dan betis
Dasar :
1. Kaki kiri sedikit dalam keadan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
2. Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
3. Kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin
4. Nyeri pada betis dan kaki
Peningkatan Suhu Tubuh
Dasar :
1. Nyeri pada kaki akibat aliran darah lambat didaerah lipatan paha karena vena tersebut tertekan ligamen inguinalis dan kadar fibrinogen tinggi pada masa nifas.
2. Kaki ibu bengkak dan tegang
3. Ibu kurang mengerti cara ambulasi dini
4. Suhu tubuh ibu 37,5 oC

C. Kebutuhan
Penyuluhan tentang mengatasi nyeri dan ambulasi dini
Penyuluhan tentang pemantauan cairan dan nutrisi

D. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Potensial terjadinya emboli Pulmonum

E. Identifikasi Tindakan Segera dan Kolaborasi
Rujuk ke dokter

PLANNING
1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saaat ini yaitu mengalami tromboflebitis femoralis sehingga kaki ibu bengkak dan tegang dan terasa nyeri, suhu tubuh 37,5 oC
Ibu mengerti tentang keadaannya saat ini
2. Menjelaskan pada ibu untuk melakukan ambulasi dini agar dapat meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan bekuan darah, misalnya: jika ibu sudah merasa tidak lelah anjurkan untuk kekamar mandi namun tetap ditemani.
Ibu dapat menjelaskan kembali cara mengurangi nyeri dan mau melakukannya
3. Menjelaskan pada ibu untuk tidak menggantung kaki lebih dari 1 jam dan memberi alas penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yang kuat pada betis.
Ibu dapat menjelaskan kembali dan akan melakukannya
4. Menjelaskan dan mengajarkan pada ibu tentang cara mengurangi nyeri yaitu kaki dikompres dengan air hangat
Ibu dapat menjelaskan kembali dan akan melakukannya
5. Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan melibatakan diri dalam kegiatan ibu untuk mengatasi tromboflebis misalnya membantu ibu unutuk melakukan ambulasi dini dengan cara menemani ibu kekamar mandi, jalan-jalan disekitar tempat tidur, mengingatkan ibu untuk tidak menggantung kaki lebih dari 1 jam, membantu ibu melakukan kompres pada kaki yang nyeri
Suami bersedia melakukannya
6. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya pemenuhan keutuhan nutrisi bagi ibu nifas seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung protein, mineral, vitamin, cukup (sayur-sayuran, tempe, tahu, telur, ikan, buah-buahan, susu)
Ibu dapat menjelaskan kembali dan akan melakukannya
7. Menjelaskan dan menganjurkan ibu untuk minum 3 liter setiap hari(8-12 gelas setiap hari) untuk mencegah dehidrasi dan menurunkan panas dengan adanya peningkatan pengeluaran urine
Ibu dapat menjelaskan kembali dan akan melakukannya
8. Membantu ibu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan melibatkan keluarganya seperti pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisinya
Suami akan berperan dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisinya.
9. Megobservasi apakah ibu sudah dapat mengurangi nyeri, melakukan ambulasi dini dengan atau tanpa bantuan keluarga dan observasi suhu badan ibu
Ibu mulai berani berjalan dengan bantuan suaminya
10. Menyampaikan pada ibu dan keluarga bahwa ibu perlu dirujuk untuk memastikan gangguan yang dialami ibu dan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

BAB III
PENUTUP

i. KESIMPULAN
Dalam klasifikasi infeksi, infeksi ada yang terbatas pada lokasinya pada perineum, vulva, serviks, dan endometrium. Dan ada infeksi yang menyebar ketempat lain melalui: pembuluh darah vena, pembuluh limfe dan endometrium (Rustam Muchtar, 1998). Pada Tromboflefibitis infeksi ini termasuk yang diluar traktus genetalis yang menyebar pada pembuluh darah vena. Yang menjadi factor penyebabnya yaitu: adanya perluasan infeksi endometrium, mempunyai varises pada vena, obesitas, pernah mengalami tromboflebitis , berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up untuk waktu yang lama serta memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga. Kejadian Tromboflebitis dibagi menjadi 2 yaitu Pelviotromboflebitis dan Tromboflebitis femoralis. Ciri yang paling jelas terlihat pada Tromboflebits femoralis yaitu pembuluh darah muncul seperti seutas tali yang keras menonjol di daerah paha (femur). Untuk pelviotromboflebitis yang terjadi jelas yakni nyeri pada perut bagian bawah dan timbul pada hari ke 2-3 masa nifas.
Penanganan untuk tromboflebitis femoralis adalah yang terpenting yakni jangan sampaii pembuluh darah pada femur tertekan atauu diberi tekanan. Sedangkan untuk pelviotromboflebitis yaitu dilakukan tirah baring supaya tidak terjadi emboli pulmonum.
ii. Saran
Semoga makalah ini dapat dijadikan pembelajaran terhadap mahasiswa atau tenaga kesehatan lain mengenai infeksi pada masa nifas khususnya mengenai tromboflebitis, dan dapat menjadi referensi dalam pembuatan asuhan kebidanan khususnya pada pasien penderita tromboflebitis. Serta makalah ini dapat digunakan semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Pillitteri, Adele. 2007. Perawatan Kesehatan Ibu Dan Anak. Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Bari, Saifuddin Abdul dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatol. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirotarjo

, 2002. Ilmu Kebidanan . Jakarta : Yayasan Bina Puataka Sarwono Prawiroharjo.