Infeksi Payudara pada Ibu Nifas

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

Perempuan mendapatkan anugerah untuk dapat hamil, melahirkan, dan menyusui. Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu didunia berhasil menyusui bayinya tanpa membaca buku tentang cara menyusui, bahkan ibu yang buta huruf mampu untuk menyusui bayinya. Kebanyakan perempuan memilih untuk segera menyusui bayinya setelah melahirkan dan pada minggu keenam masa nifas terdapat kurang dari 60 persen perempuan yang masih menyusui bayinya ( Jones, 2002 ).

Persiapan memberikan ASI dilakukan sejak dalam masa kehamilan. Pada waktu hamil payudara akan semakin penuh karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar- kelenjar payudara sehingga terasa tegang dan nyeri. Bersama dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk proses menyusui makin tampak. Hal itu tampak dari payudara semakin membesar, putting susu semakin menonjol, areola mammae semakin menghitam ( mengalami hiperpigmentasi ) dan pembuluh darah semakin tampak. Dalam rangka menyempurnakan pembentukan ASI maka kedua payudara harus diperlakukan sama untuk menghindari terjadinya stagnasi dan tersumbatnya saluran susu serta untuk menghindari kemungkinan infeksi payudara ( Manuaba, 1998).

Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham akan masalah itu, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anak saja. Masalah dari ibu yang sering timbul selama menyusui dapat dimulai sejak masa kehamilan, pada masa pasca persalinan dini, dan masa pasca persalinan lanjut. Masalah yang sering timbul pada masa kehamilan antara lain kurang / salah informasi, putting susu tenggelam ( retracted ), atau putting susu datar. Sedangkan masalah menyusui pada masa pasca persalinan dini antara lain putting susu datar ataupun tenggelam, putting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, dan mastitis sampai terjadi abses payudara

( Suradi, 2004).

Salah satu masalah menyusui pada masa nifas adalah bendungan ASI ( engorgement of the breast ). Bendungan ASI terjadi kerena penyempitan duktus laktiferus atau oleh kelenjar- kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna karena kelainan pada putting susu. Keluhan yang dirasakan antara lain payudara terasa berat, bengkak, keras, dan nyeri. Pencegahan terjadinya bendungan payudara sebaiknya dimulai sejak hamil dengan perawatan payudara untuk mencegah terjadinya masalah pada payudara (Mochtar, 1998).

Salah satu cara mengatasi masalah menyusui tersebut dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kesehatan tentang perawatan payudara. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya dalam informasi, pengetahuan pada masyarakat untuk berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan. Dampak yang timbul dari cara ini terhadap perilaku kesehatan masyarakat akan memakan waktu lama. Namun apabila perilaku tersebut diadopsi masyarakat, maka akan langgeng bahkan selama hidup dilakukan ( Notoadmojo, 2003 ). Pendidikan kesehatan pada akhirnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan atau kesadaran pada masyarakat saja, namun yang lebih penting adalah mencapai perilaku kesehatan.

  1. B.     TUJUAN
  2. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI sesuai dengan prosedur penatalaksanaan pada masalah payudara bendungan ASI.

  1. Tujuan Khusus
    1. Mahasiswa mampu mengkaji data subjektif maupun objektif pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
    2. Mahasiswa mampu menginterpretasikan data, menegakkan diagnosa, mengenali masalah dan menentukan kebutuhan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
    3. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa potensial pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
    4.  Mahasiswa mampu menentukan antisipasi tindakan segera dan melaksanakannya pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
    5. Mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
    6. Mahasiswa mampu menentukan tindakan sesuai rencana yang dibuat.
    7. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.
    8. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    TINJAUAN TEORI
    1. 1.   Anatomi Payudara

Payudara atau mammae adalah struktur kulit yang dimodifikasi, berglandular pada anterior thorax. Pada perempuan mengandung unsur untuk mensekresi susu untuk makan bayi.

  1. Struktur makroskopis

1)      Cauda Axillaris

Cauda Axillaris adalah jaringan payudara yang meluas ke axilla.

2)      Areola

Areola adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar dan mengalami pigmentasi dan masing-masing payudara bergaris tengah kira-kira 2,5 cm. Areola berwarna merah muda pada wanitayang berkulit coklat, dan warna tersebut menjadi lebih gelap waktu hamil.

3)      Papilla Mammae

Papilla Mammae terletak di pusat areola mammae setinggi iga (costa) keempat. Papilla mamae merupakan suatu tonjolan dengan panjang kira-kira 6 cm, tersusun atas jaringan erktil berpigmen dan merupakan bangunan yang sangat peka. Permukaan Papilla Mammae berlubang-lubang berupa ostium papillarre kecil-kecil yang merupakan muara ductus lactifer.

  1. Struktur Mikroskopis

Payudara terutama tersusun atas jaringan kelenjar tetapi juga mengandung sejumlah jarinagn lemak dan ditutupi oleh kulit. Jaringan kelenjar ini dibagi menjadi kira-kira 18 lobus yang dipisahkan secara sempurna satu sama lain oleh lembaran-lembaran jaringan fibrosa.

Setiap lobus tersusun atas bangun sebagai berikut :

1)   Alveoli

Alveoli mengandung sel-sel yang menyekresi air susu. Setiap alveolus dilapisi oleh sel-sel yang menyekresi air susu, disebut acini yang mengekstraksi faktor-faktor dari darah yang penting untuk pembentukan air susu. Di sekeliling alveolus terdapat sel-sel mioepitel yang kadang disebut sel keranjang, apabila sel ini dirangsang oleh oksitosin akan berkontraksi sehingga mengalirkan air susu ke dalam ductus lactifer.

2)   Tubulus Lactifer

Tubulus Lactifer merupakan saluran kecil yang berhubungan dengn alveoli.

3)   Ductus Lactifer

Ductus Lactifer adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa tubulus lactifer.

4)   Ampulla

Ampulla adalah bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang merupakan tempat penyimpanan air susu. Ampulla terletak di bawah areola.

  1. 2.   Fisiologi Laktasi

Proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi. Ketika bayi menghisap payudara, hormon oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli melalui saluran susu menuju reservoir susu yang berlokasi di belakang areola, lalu ke dalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga kehamilan, dimana yubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara (Saleha, 2009).

  1. Produksi Air Susu Ibu

Prolaktin merupakan hormon yang disekresi oleh glandula pituitari anterior, penting untuk produksi air susu ibu. Dalam sirkulasi maternal kadar hormon ini meningkat. Kerja hormon ini dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepasnya pada akhir proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tingkat pada dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin (verralls, 1997)

  1. Pengeluaran Air Susu

1)   Reflek Produksi

Hisapan bayi pada payudara merangsang produksi hormon prolaktin yang akan menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan disiapkan dalam lumen. Pembendungan ASI yang terjadi dalam alveolus akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah, sehingga akan menyebabkan penurunan prolaktin dalam darah sehingga sekresi ASI berkurang (Mommies, 2006)

Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari kurang seringnya menyusui atau memerah payudara, bayi tidak bisa menghisap secara efektif dan kurangnya gizi ibu. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah frekuensi pemberian susu, berat bayi saat lahir, usia kehamilan saat melahirkan, usia ibu dan paritas, stress dan penyakit akut, merokok, mengkonsumsi alkohol dan penggunaan pil kontrasepsi (Saleha, 2009)

2)   Reflek Let Down

Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor kejiwaan ibu dan proses produksinya dapat terhambat jika ibu lelah, merasa malu atau tidak pasti.       Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.

Faktor-faktor yang akan meningkatkan reflek let down antara lain : melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi dan memikirkan untuk menyusui bayi (saleha 2009).

  1. 3.   Masalah yang Sering Timbul Dalam Masa Laktasi

Masalah yang biasanya timbul dalam pemberian ASI yang disebabkan karena masalah pada payudara antara lain : puting susu rata, puting susu lecet, bendungan payudara, saluran ASI tersumbat, mastitis dan abses payudara. Dan masalah yang sering timbul dari faktor bayi antara lain : bayi bingung puting dan enggan menyusu. Sedangkan masalah lain yang sering timbul adalah adanya sindrom ASI kurang dan ibu bekerja (sarwono, 2005).

  1. 4.   Engorgement
    1. Pengertian

Engorgement yang biasa disebut dengan payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI yang tidak lancar karena bayi tidak sering menyusu atau terlalu cepat disapih. Dapat pula disebabkan adanya gangguan let down reflex (Sarwono, 2005).

  1. Gejala

Gejala yang biasa muncul bila engorgement terjadi antara lain peyudara terasa penuh, panas, berat dan keras, tidak terlihat mengkilat, edema atau merah. ASI biasanya mengalir lancar dan kadang-kadang menetes keluar secara spontan, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sngat nyeri. Ibu kadang-kadang menjadi demam, namun biasanya akan hilang dalam 24 jam (Tanaya, 2006).

  1. Penyebab

1)   Faktor Hormon

Proses pembentukan ASI dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon oksitosin dan hormon prolaktin. Ketika payudara mulai digunakan untuk menyusui, dibawah areola terdapat saluran yang melebar yang disebut sinus lactiferus yang berfungsi untuk menampung air susu (Rianto, 2009)

Setelah bayi lahir dan placenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini fungsi dari hipotalamus yang menghalangi pituitary lactogenic hormone         ( prolaktin ) waktu hamil sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut (Sarwono, 2005)

2)   Hisapan Bayi

Proses menyusui tergantung 2 reflek (Sarwono,2005), yaitu :

a)Reflek produksi

Hisapan bayi pada payudra merangsang produksi hormon prolaktin yang akan menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan disiapkan dalam lumen

b)   Reflek let down

Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor kejiwaan ibu dan proses reproduksinya dapat terhambat apabila ibu lelah, merasa malu, atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.

3)   Pengosongan Payudara

Ketika susu mulai masuk menggantikan kolostrum pada hari setelah persalinan, payudara akan menjadi lebih besar, lebih berat dan lebih empuk karena bertambahnya getah bening dan suplai darah. Pada saat ini akan terjadi bendungan ASI apabila ibu tidak cukup sering menyusui bayinya dalam jarak waktu yang lama dan jika menghentikan penyusuan secara mendadak atau payudara tidak dikosongkan secara memadai (Nellson,1995).

Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui diusahakan ASI dikeluarkan terlebih dahulu, untuk menghindari bayi tersedak atau enggan menyusu. Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan cara : pengeluaran ASI dengan tangan dan pengeluaran ASI dengan pompa.

4)   Cara Menyusui

Menyusui merupakan proses ilmiah dan kadang terlihat amat sangat sederhana, namun bila dilakukan dengan cara yang salah akan menyebabkan terjadinya puting susu lecet, air susu tidak keluar dengan sempurna sehingga akan terjadi pembendungan air susu (Inggrid, 2006)

Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya, seperti caranya menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, hisapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih banyak lagi masalah yang lain. Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam kehidupannya atau orang yang disegani, seperti suami, keluarga/ kerabat terdekat atau kelompok – kelompok ibu pendukung ASI dan dokter/ tenaga kesehatan (Christine, 2005)

Saat kembali bekerja, usahakan memerah ASI dan kedua belah payudara minimal empat jam sekali sebanyak tiga kali selama jam kerja (Saleha, 2009).

a)Posisi menyusui

Posisi yang nyaman untuk menyusui sangat penting. Lecet pada puting susu dan payudara merupakan kondisi tidak normal dalam menyusui, tetapi penyebab lecet yang paling umum adalah posisi dan perlekatan yang tidak benar pada payudara (Varney, 2007)

1.Posisi Madona ( menggendong )

Bayi berbaring miring, menghadap ibu, kepala, leher, punggung atas bayi diletakkan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

2. Posisi Menggendong – menyilang

Bayi berbaring miring, menghadap ibu. Kepala, leher dan punggung atas bayi diletakkan pada telapak kontralateral dan sepanjang lengan bawahnya. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

3. Posisi football (atau “mengempit”)

Bayi berbaring miring atau punggung melingkar antara lengan dan samping dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara.

4. Posisi Berbaring Miring

Ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Posisi ini merupakan posisi paling nyaman  bagi ibu yang menjalani penyembuhan setelah melahirkan secara secsio sesaria (Murkoff, 2002 )

b)   Lama dan frekuensi menyusui

Rentang frekuensi menyusui yang optimal adalah antara  8-12x setiap hari. Tetapi sebaiknya menyusui bayi  tanpa dijadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusi bayinya jika bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, digigit semut/ nyamuk, BAB ) atau ibu sudah merasa ingin menyusui bayinya.

Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam ( Inggrid, 2006 ).

Untuk menjaga keseimbangan kedua payudara diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dari payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu mengunakan BH yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.

c. Pencegahan dan Penanganan  Engorgement

Sekitar hari ketiga setelah melahirkan, sering kali payudara terasa penuh, tegang dan nyeri. Kondisi ini disebabkan karena adanya bendungan pada pembuluh getah bening. Ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Jika keadaan ini berlanjut, maka kulit payudara akan tampak lebih mengkilat dan sering ibu sampai mengalami demam (Suradi 2008 )

1)      Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya engorgement apabila memungkinkan, susukan ASI pada bayi segera setelah lahir dengan posisi yang benar, menyusui bayi tanpa jadwal, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi, melakukan perawatan payudara pasca melahirkan ( postpartum ) secara teratur serta ibu merasa yakin akan kemampuannya menyusui bayinya dan memberikan ASI pada bayinya.

2)      Pentalaksanaan

Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya dan kapas)

  1. Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
  2. Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
  3. Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
  4. Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan secukupnya.
  5. Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
  6. Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk pada sisi areola yang lain.
  7. Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin untuk melancarkan aliran darah payudara
  8. Mengeringkan payudara dengan handuk
  9. Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
  10. Membereskan alat dan mencuci tangan

Apabila bayi belum menyusui dengan baik atau kelenjar – kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna maka akan terjadi engorgement ( Hamilton, 1999 )

Macklin, 1988 dan Subekti, 2005 mengatakan bahwa pasangan yang bekerja cenderung melakukan pembagian tugas – tugas kewanitaan tradisional daripada melakukan pembagian tugas – tugas  keluarga dimana salah satu pasangan atau keduanya bekerja, khususnya dalam bidang perawatan anak.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kesibukan keluarga dalam pekerjaan akan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian dalam keluarga, maka dengan adanya kesibukan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian ibu dalam melakukan perawatan payudara sehingga akan cenderung mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kejadian kasus engorgement.

Kebutuhan yang harus dipenuhi oleh ibu nifas, antara lain ( Saleha, 2009) :

a)   Kebutuhan Fisik

  1. Istirahat cukup
  2. Makan makanan yang bergizi
  3. Sering menghirup udara segar
  4. Lingkungan yang bersih

b)   Kebutuhan Psikologi

Stress setelah melahirkan dapat distabilkan  dari dukungan keluarga yang menunjukkan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu.

c)   Kebutuhan Sosial

Adanya informasi konkret yang sangat berharga dari ibu – ibu yang berpengalaman sehingga ibu – ibu yang kurang atau tidak berpengalaman dapat meniru tindakan ibu yang dianggap baik.

d)  Dukungan Psikososial

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.      TINJAUAN KASUS

 

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PATOLOGI HARI KETIGA DENGAN PAYUDARA BENGKAK PADA NY “  S ” USIA  34  TAHUN P3Ab2Ah3 DI BPS

Tempat Praktek           :

Nomor MR                  :

Tanggal/jam                 :

S

Identitas Pasien

IBU                                       SUAMI

Nama              : Ny. S                                                Tn. D

Umur               : 34 tahun                                34 tahun

Agama                 : Islam                                     Islam

Suku                    : Jawa / Indonesia                   Jawa / Indonesia

Pendidikan          : SMP                                      SMP

Pekerjaan             : Swasta                                   Swasta

Alamat                           :

Anamnese

  1. Alasan kunjungan

Ibu nifas hari ketiga mengatakan payudara kanan dan kiri terasa penuh dan nyeri

  1. Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali.Kawin pertama umur 23 tahun. Dengan suami sekarang 10 tahun.

  1. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 13 tahun. Siklus 28 hari.Teratur. Lama & hari. Encer. Bau amis. Tak Dismenore. HPM : 13 Desember 2010. HPL : 20 September 2010

  1. Riwayat Obstetri

P3 Ab2 Ah3

Hamil ke

Persalinan

Nifas

Tgl lahir

UK

(mg)

 

Jenis

Petrsalinan

Oleh

Komplikasi

JK

BB Lahir

(gram)

Laktasi

Komplikasi

Ibu

Bayi

1 th 1998 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3100 ya,asi eksklusif tidak ada
2 th 1999 12 abortus dokter tidak ada tidak ada
3 th 2003 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3500 ya,asi eksklusif tidak ada
4 th 2008 12 abortus dokter tidak ada tidak ada
5 21/09/10 40+1 spontan bidan tidak ada tidak ada laki2 3700 ya, untuk saat ini hanya ASI tidak ada

 

  1. Riwayat Kontrasepsi
No JenisAlkon Mulai memakai Berhenti / Ganti Cara
Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Keluhan
1 Pil Th1998 bidan BPS tidak ada Th1998 Bidan BPS tidak ada
  1. Riwayat Kesehatan

Ibu mengatakan dirinya dan keluarganya tidak menderita penyakit seperti darah tinggi, gula, jantung, asma, dan penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, hepatitis B.

  1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Masa Kehamilan         : 40+1 minggu

Tempat Persalinan       : BPS Sutimah, oleh : bidan

Jenis persalinan           : spontan

Komplikasi                  : tidak ada

Plasenta                       : lengkap, lahir spontan

Kelainan                      : tidak ada

Perineum                     : rupture derajat 2

Perdarahan                  : kala I             : –

kala II            : –

kala III          : 70 cc

kala IV          : 100 cc

  1. Keadaan BBL

Lahir tanggal               : 21September 2010 jam 00.50 WIB

PB/BB                         : 49 cm/3700 gram

Cacat bawaan              : tidak ada

  1. Riwayat post partum
    1. Nutrisi

Makan : 3x per hari ; nasi, sayur, lauk, buah

Minum: 9x per hari ; air putih, susu, teh

  1. Eliminasi,

BAB : 1x per hari

BAK : 5x per hari

  1. Istirahat : ½ jam siang, 7 jam malam
  2. Personal Hygiene

Ibu mengatakan mandi 2 x perhari, ganti celana dalam 3 x perhari, ganti pembalut 3 x perhari, cebok dari depan ke belakang

  1. Ambulasi

Ibu sudah bisa jalan-jalan

  1. Laktasi

Asi keluar lancar, payudara terasa tegang dan penuh

  1. Riwayat Psikososial
    1. Pengetahuan ibu tentang proses menyusui

Ibu mengatakan menyusui bayinya dengan posisi duduk ditempat tidur

  1. Pengalaman ibu menyusui pada persalinan yang lalu

Ibu mengatakan pengalaman waktu menyusui pada persalinan yang lalu belum pernah mengalami payudara yang penuh dan terasa nyeri

O

Pemeriksaan Umum

KU                                  : baik

Kesadaran                       : CM

BB                                   : 65kg

Suhu                                : 37o C

TD                                   : 110/70 mmHg

Nafas                               : 20 x permenit

Pemeriksaan Khusus

  1. Kepala

Mata                       : Sklera putih, konjungtiva merah

muda, tidak ada odem palpebra

Wajah                     : Segar, tidak pucat, tidak ada odem

Mulut                     : Bibir lembab, warna merah muda, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi

  1. Leher                      : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid/limfe, tidak ada

bendungan vena jugularis

  1. Payudara

Bentuk                   : simetris, membesar, payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras

Puting susu            : bersih, menonjol

Asi                         : keluar lancar

  1. Abdomen

Bentuk                   : dinding perut longgar

Bekas luka             : tidak ada

TFU                       : pertengahan pusat dengan simfisis, teraba keras, kontraksi baik

  1. Ekstermitas

Odem                     : tidak ada

Varises                   : tidak ada

Reflek patella         : + / +

  1. Genetalia luar

Odem                     : tidak ada

Varises                   : tidak ada

Bekas luka             : jahitan perineum

Jahitan                    : masih basah

Sekret                     : pengeluaran lochea sanguinolenta, berwarna merah, bau amis khas darah, jumlah satu kali ganti pembalut

  1. Anus                      : tidak ada hemoroid
A

Tanggal 23 September 2010

  1. Diagnosa kebidanan

Seorang Ny ‘S’ umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 2 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik , TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta

  1. Diagnosa potensial

Payudara bengkak karena produksi ASI yang terlalu banyak potensial menjadi mastitis payudara bila tidak segera ditangani

P

Tanggal 23 September 2010

  1. Memberitahukan kepada ibu bahwa kondisi ibu baik, rahim dalam proses kembali ke keadaan sebelum hamil, dan payudara kanan dan kiri mengalami pembengkakan.Ibu mengerti keadaannya bahwa payudaranya bengkak
  2. Melakukan perawatan pada payudara bengkak, serta mengajarkan pada ibu. Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya dan kapas)
  3. Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
  4. Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
  5. Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
  6. Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan secukupnya.
  7. Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
  8. Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk pada sisi areola yang lain.
  9. Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin untuk melancarkan aliran darah payudara
  10. Mengeringkan payudara dengan handuk
  11. Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
  12. Membereskan alat dan mencuci tangan

Perawatan payudara sudah dilakukan

  1. Mengajarkan kepada ibu cara menyusui yang benar dan menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan seperti yang sudah dilakukan di rumah untuk mengatasi payudara bengkak yang dialami ibu. Lakukan sesuai kebutuhan / sampai ibu merasa nyaman. Serta menganjurkan ibu untuk menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang bengkak untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan tegangan payudara.

Ibu dapat menjelaskan kembali, dan akan melakukannya di rumah.

  1. Memberitahu  ibu bahwa jahitannya masih basah dan menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan alat kelamin dengan cara : cebok dengan sabun kemudian dibilas degan air mengalir sampai bersih dari depan ke belakang, kompres jahitan dengan kassa betadin 1-2 menit / terasa perih supaya jahitan lekas kering dan tak infeksi, ganti pembalut sebelum penuh, serta tidak terlalu sering menyentuh jahitan.

Ibu mengerti cara menjaga kebersihan alat kelamin dan akan melaksanakan sesuai anjuran bidan.

  1. Melakukan kontrak kunjungan ulang tanggal 29 September 2010 untuk kontrol nifas dan mengimunisasikan bayinya atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia kontrol nifas dan mengimunisasikan anaknya.

 

  1. B.     PEMBAHASAN

Dari pengkajian data subjektif didapat informasi bahwa payudara terasa penuh dan nyeri,serta dalam data objektif didapatkan hasil pemeriksaan bahwa payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras yang merupakan ciri-ciri payudara bengkak sehingga diagnose kebidanannya adalah  Seorang Ny ‘S’ umur 34 tahun P3 Ab2 Ah2 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik , TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta.

Dari diagnosa kebidanan yang tepat, maka planning yang dibuat bisa tepat dalam mengatasi masalah. Cara mengatasi payudara bengkak yang dilakukan pada pasien  sudah sesuai dengan teori.

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.    KESIMPULAN

Dari hasil asuhan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa asuhan yang diberikan sesuai dengan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak       :

  1. Pengkajian data dilakukan secara menyeluruh yang meliputi identitas, anamnesa, data subjektif dan objektif.
  2. Hasil pemeriksaan didapat TD : 110/70 mmHg, R : 20x/menit, S : 36,7 oC, TFU : pertengahan pusat dengan sympisis, lochea sanguinolenta.
  3. Berdasarkan pengkajian dan pemeriksaan dapat ditentukan diagnosa kebidanannya adalah Ny  “S”  umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 3 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik, TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta
  4. B.     SARAN

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak, penulis menyarankan agar :

  1. Bagi pasien :

Agar ibu jangan sampai takut  menyusukan ASInya pada payudara yang bengkak supaya menurunkan ketegangan payudara serta lebih sering menyusui bayinya  (on demand)

  1. Bagi mahasiswa dapat menerapkan segala pengetahuan yang didapatkan baik yang di kampus maupun yang di lapangan.

sumber: 

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika Suherni, dkk. 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/102/jtptunimus-gdl-khairaamma-5091-3-bab2.pdf.  diunduh 30 September 2010, jam 16.30 wib

http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-dwiyuliant-5104-2-bab1.pdf. diundah 30 September 2010, jam 16.32 wib

EMBOLI AIR KETUBAN

Standard

EMBOLI AIR KETUBAN

  1. PENGERTIAN

Emboli air ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen disini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, dan lapisan lemak janin.

Umumnya EAK terjadi pada tindakan aborsi. Terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma/benturan berat juga berpeluang terancam EAK.

Namun kasus EAK yang paling sering terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan (postpartum). Baik persalinan pervaginam maupun sesar, tak ada yang bisa aman 100 persen dari risiko EAK. Sebab, sewaktu proses persalinan normal maupun sesar, banyak vena yang terbuka yang memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah sekaligus menyumbat pembuluh darah balik itu.

 

  1. EPIDEMIOLOGI

Emboli air ketuban adalah salah satu kondisi paling katastropik yang dapat terjadi dalam kehamilan. Kondisi ini amat jarang 1 : 8000 – 1 : 30.000 dan sampai saat ini mortalitas maternal dalam waktu 30 menit mencapai angka 85%. Meskipun telah diadakan perbaikan sarana ICU dan pemahaman mengenai hal hal yang dapat menurunkan mortalitas, kejadian ini masih tetap merupakan penyebab kematian ke III di Negara Berkembang. Angka kejadian EAK di Asia Tenggara yakni 1 di antara 27.000 persalinan. Di Amerika, emboli air ketuban menempati 10 persen dari penyebab kematian ibu, sedangkan di Inggris, persentasenya berkisar 16 persen. Sebagian besar penderita emboli air ketuban yang selamat, menderita gangguan neurologis.

 

 

  1. ETIOLOGI

Patofisiologi belum jelas diketahui secara pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi antara ibu dan janin sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal yang selanjutnya masuk kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan :

  1. Kegagalan perfusi secara masif
  2. Bronchospasme
  3. Renjatan

Akhir akhir ini diduga bahwa terjadi suatu peristiwa syok anafilaktik akibat adanya antigen janin yang masuk kedalam sirkulasi ibu dan menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi klinik.

Secara sederhana, EAK bisa dijelaskan sebagai berikut: • Saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. • Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah.

Pada giliran berikutnya, air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu. Jika sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru. Proses EAK bisa berlangsung sedemikian cepat. Tak heran kalau dalam waktu sekitar sejam sesudah melahirkan, nyawa ibu yang mengalami EAK tak lagi bisa tertolong. Apalagi EAK boleh dibilang muncul secara tiba-tiba tanpa bisa diduga sebelumnya dan prosesnya pun berlangsung begitu cepat. Dapat dimengerti jika angka kematian ibu bersalin dengan kasus EAK masih cukup tinggi, sekitar 86 persen.

 

  1. FAKTOR RESIKO

Emboli air ketuban dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan namun sebagian besar terjadi pada saat inpartu (70%), pasca persalinan (11%) dan setelah Sectio Caesar (19%).

Faktor resiko :

  1. Multipara
  2. Solusio plasenta
  3. Partus presipitatus
  4. Suction curettahge
  5. Trauma abdomen
  6. Versi luar
  7. Amniosentesis.
  8. Adanya mekoneum.
  9. Laserasi serviks.
  10. Kontraksi yang terlalu kuat.
  11. Plasenta akreta.
    1. Robeknya rahim.
    2. Adanya infeksi pada selaput ketuban.
    3. Bayi besar

 

  1. TANDA GEJALA

Adapun tanda gejala  emboli air ketuban adalah:

  1. Gangguan pernapasan: dispnea dan takipnea
  2. Cyanosis atau kebiruan: dikarenakan hipoksia / hipoksemia berlangsung
  3. Gangguan aliran darah, atau syok
  4. Perdarahan
  5. Menggigil
  6. Koma.
    1. Hipotensi: tekanan darah dapat turun secara signifikan dengan hilangnya pengukuran diastolik..
  7. Batuk: Ini biasanya sebuah manifestasi dyspnea.
    1. Bradikardia janin: sebagai akibat hipoksia, denyut jantung janin bisa turun menjadi kurang dari 100 denyut per menit (dpm). Jika penurunan ini berlangsung selama 10 menit atau lebih, itu adalah sebuah bradikardia. Tingkat 60 bpm atau kurang lebih 3-5 menit dapat menunjukkan bradikardia terminal.
    2. Bradikardia ibu
  8. Pulmonary edema: ini biasanya diidentifikasi pada radiografi dada.
    1. Atonia uteri: atony rahim biasanya menghasilkan perdarahan yang berlebihan setelah melahirkan.
    2. Koagulopati atau perdarahan berat (DIC terjadi di 83% dari pasien)
    3. Kejang
    4. Perubahan status mental / kebingungan

Air ketuban yang terisap dengan benda padatnya (rambut lanugo, lemak, dan lainnya) menyumbat kapiler paru sehingga terjadi hipertensi arteri pulmonum, edema paru, dan gangguan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Akibat hipertensi pulmonum menyebabkan tekanan atrium kiri turun, curah jantung menurun, terjadi penurunan tekanan darah sistemik yang mengakibatkan syok berat. Gangguan pertukaran oksigen dan karbon monoksida menyebabkan sesak nafas, sianosis,dan gangguan pengaliran oksigen ke jaringan yang mengakibatkan asidosis metabolic dan metabolisme anaerobic.

Edema paru dan gangguan pertukaran oksigen dan karbon monoksida menyebabkan terasa dada sakit – berat – dan panas, penderita gelisah karena kekurangan oksigen. Selain itu, terjadi juga refleks nervus vagus yang menyebabkan bradikardia dan vasokontriksi arteri koroner yang menimbulkan gangguan kontraksi otot jantung dan dapat menimbulkan henti jantung akut. Manifestasi keduanya menyebabkan syok, kedinginan, dan sianosis. Kematian dapat berlangsung sangat singkat dari 20 menit sampai 36 jam.

 

  1. PATOFISIOLOGI

Perjalanan cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas, mungkin melalui laserasi pada vena endoservikalis selama dilatasi serviks, sinus vena subplasenta, dan laserasi pada segmen uterus bagian bawah. Kemungkinan saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Walaupun cairan amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis. Selain itu, air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan bila sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru.

Pada fase I, akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri koroner dan arteri pulmonalis. Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium. Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan. Perempuan yang selamat dari peristiwa ini mungkin memasuki fase II.

Fase II ini adalah fase perdarahan yang ditandai dengan perdarahan besar dengan atonia uteri dan Coagulation Intaravakuler Diseminata ( DIC ). Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. Dalam hal ini masih belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. Kemungkinan terjadi akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium. Partikel air ketuban dapat menjadi inti pembekuan darah. Factor X atau musin /lender air ketuban dapat menjadi pemicu terjadinya koagulasi intravaskuler, mengaktifkan system fibrinolisis dan bekuan darah sehingga terjadi Hipofibrinogemia dan menimbulkan perdarahan dari bekas implantasi plasenta. Kekurangan oksigen dan terjadinya metabolisme anaerobic dalam otot uterus menyebabkan atonia uteri sehingga terjadi perdarahan. Kedua komponen ini dapat menimbulkan syok dan terjadi kematian dalam waktu sangat singkat sebelum sempat memberikan pertolongan adekuat.

 

  1. DIAGNOSIS

Kejadian EAK sulit dicegah karena sama sekali tak bisa diprediksi. Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan otopsi. Artinya, setelah ibu meninggal, baru bisa terlihat di mana komponen-komponen air ketuban tersebar di pembuluh darah paru, dijumpai adanya epitel skaumosa janin dalam vaskularisasi paru. Bahkan pada beberapa kasus, ditemukan air ketuban di dahak ibu yang mungkin disebabkan ekstravasasi, yakni keluarnya cairan ketuban dari pembuluh darah ke dalam gelembung paru/alveoli. Biasanya, kalau paru-paru sudah tersumbat, ibu akan terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak yang mengandung air ketuban yang disertai rambut, lemak, atau kulit bayinya.

Dengan demikian, yang bisa dilakukan adalah diagnosis klinis. Karena secara garis besar air ketuban menyerbu pembuluh darah paru-paru, maka amat penting untuk mengamati gejala klinis si ibu. Apakah ia mengalami sesak napas, wajah kebiruan, terjadi gangguan sirkulasi jantung, tensi darah mendadak turun, bahkan berhenti, dan atau adanya gangguan perdarahan.

Risiko EAK, tak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli paling sering terjadi saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancar-lancar saja, bukan jaminan ibu aman dari ancaman EAK. Sementara bila di persalinan sebelumnya ibu mengalami EAK, belum tentu juga kehamilan selanjutnya akan mengalami kasus serupa. Begitu juga sebaliknya.

Konfirmasi pada pasien yang berhasil selamat adalah dengan adanya epitel skuamosa dalam bronchus atau sampel darah yang berasal dari ventrikel kanan. Pada situasi akut tidak ada temuan klinis atau laboratoris untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosa emboli air ketuban, diagnosa adalah secara klinis.

  1. PROGNOSIS

Sekalipun mortalitas tinggi, emboli cairan tidak selalu membawa kematian pada tiap kasus, 75% wanita meninggal sebagai akibat langsung emboli. Sisanya meninggal akibat perdarahan yang tidak terkendali. Mortalitas fetal tinggi dan 50% kematian terjadi intrauterin.

 

  1. GAMBARAN KLINIS

Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit. Khususnya kalau wanita itu multipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar, mungkin sudah meninggal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ). Jika sesak juga didahului dengan gejala mengigil yang diikuti dyspnea, vomitus, gelisah, dll disertai penurunan tekanan darah yang cepat serta denyut nadi yang lemah dan cepat. Maka gambaran tersebut menjadi lebih lengkap lagi. Jika sekarang dengan cepat timbul edema pulmoner padahal sebelumnya tidak terdapat penyakit jantung, diagnosa emboli cairan ketuban jelas sudah dapat dipastikan.

Pada uraian ini tidak ada lagi yang ditambahkan kecuali hasil pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa gambaran tersebut biasanya disertai kegagalan koagulasi darah pasien dan adanya perdarahan dari tempat plasenta.

 

  1. KOMPLIKASI
    1. Edema paru yang luas dan akhirnya mengakibatkan kegagalan dan payah jantung kanan.
    2. Gangguan pembekuan darah.

 

  1. PENATALAKSANAAN
    1. Penatalaksanaan Mandiri.

Terapi yang diberikan biasanya hanya berupa terapi suportif, sesuai dengan gejala yang timbul :

a)      Pada gejala sesak nafas, ibu diberi oksigen atau dimasukan ke dalam alat bantu nafas, bila sumbatan yang terjadi sedikit, gejala sesak napas dapat menghilang.

b)      Pada gangguan yang berupa pembekuan darah atau ibu mengalami perdarahan hebat, yang dapat dilakukan transfusi darah.

  1. Penatalaksanaan Rujukan.

a)      Laboratorium : asidosis metabolik ( penurunan PaO2 dan PaCO2).

b)      Terapi :

1. Resusitasi cairan

2. Infuse Dopamin untuk memperbaiki cardiac output

3. Adrenalin untuk mengatasi anafilaksis

4. Terapi DIC dengan fresh froozen plasma

5. Terapi perdarahan pasca persalinan dengan oksitosin

6. Segera rawat di ICU

 

 

ASKEB EMBOLI AIR KETUBAN

Standard

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGI

 Ny “R” 38 tahun G4P2Ab1Ah2 dengan UK : 39+5 minggu

Di BPS

NO.REGISTER                                            : –

MASUK BPS TANGGAL, JAM    :

DIRAWAT DI RUANG                  :

 

  1. A.    ANAMNESA (DATA SUBJEKTIF)
  2. Identitas                      Ibu                                                           Suami

Nama                           :

Umur                           :

Agama                         :

Suku / bangsa              :

Pendidikan                  :

Pekerjaan                     :

Alamat                         :

 

  1. b.      Keluhan Utama/Alasan masuk BPS

Ibu mengatakan hamil 9 bln, mengeluh perut kenceng-kenceng teratur sejak pukul 22.00, ada lendir darah sejak pukul 22.00  tanggal 20-10-10

  1. c.       Riwayat Perkawinan

Menikah 1 kali, menikah umur 20th, dengan suami sekarang sudah 18th

  1. d.      Riwayat haid

Menarche umur 13 th, HPMT tgl 12-01-2009 HPL tgl 19-10-2010, UK 39+5 mg

 

  1. Riwayat obstetrik G=4, P=2, Ab=1, Ah=2

Hamil

Persalinan

Nifas

UK

Jenis persalinan

Penolong

Jenis

kelamin

BB

(gram)

Laktasi

Komplikasi

1 9 bulan Spontan

Bidan

Laki-laki

3000 Ya, 2 tahun Tidak ada
2 Abortus 1,5 bulan tahun 1998        
3. 9 bulan Spontan Bidan Perempuan 3150 Ya, 2 tahun Tidak ada
4. Hamil ini            

 

  1. f.       Riwayat Keluarga berencana

No

Jenis Kontrasepsi

Mulai Memakai

Berhenti/Ganti Cara

Tgl

Oleh

Tempat

Keluhan

Tanggal

Oleh

Tempat

Alasan

1 Spiral Th 1993 Bidan BPS Tidak ada Th 1998 Bidan BPS Ingin hamil
2 Suntik 3 bulanan Th 1999 Bidan BPS Tidak ada Th 2008 Bidan BPS Ingin hamil

 

  1. g.      Riwayat kehamilan ini

Tempat Periksa kehamilan : BPS Setyowati

T1        :     1    Kali

T2        :     1    Kali

T3        :     1    Kali

Dapat obat : Fe, Kalk, B6

 

  1. h.      Riwayat persalinan ini

1)      Kontraksi uterus mulai 20-10-2010 jam 22.00 wib

2)      Pengeluaran pervaginam lendir darah sejak 20-10-2010 jam 22.00

 

  1. i.        Riwayat kesejahteraan janin

Gerakan janin : aktif

 

  1. j.        Riwayat Nutrisi dan eliminasi

1)      Makan terakhir                  : 20-10-2010 jam 16.00 wib

2)      Buang air kecil terakhir     : 20-10-2010 jam 19.00 wib

3)      Buang air besar terakhir    : 20-10-2010 jam 06.30 wib

 

  1. B.                 PEMERIKSAAN ( DATA OBJEKTIF)
    1. a.      PEMERIKSAAN UMUM

1)      KU      : Baik   ;    kesadaran   : Compos mentis

2)       Tanda vital : TD: 120/80 N: 84 S: 360C, P: 18x/menit

3)      TB: 157 cm, BB : Sebelum Hamil 51 kg, BB Sekarang 66 kg, LLA : 28cm, IMT :51/ (1,57)2 = 20,69

  1. b.      PEMERIKSAAN KHUSUS

(Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)

  1. Kepala

Muka   : Tidak pucat dan konjungtiva tidak pucat

  1. Leher   : kel tiroid rata, vena jugularis rata
  2. Payudara : membesar simitris, putting menonjol
  3. Perut    :
    1. Inspeksi     : Membesar memanjang, terlihat gerakan janin, terlihat kontraksi uterus, tidak ada bekas luka operasi
    2. Palpasi       :

Leopold I  : TFU 3 jari dibawah Px, teraba bagian lunak, kurang bulat (bokong).

Leopold II : (Kanan) memanjang, tahanan kuat (punggung)

(Kiri)  berbenjol-benjol, tahanan lemah (bagian kecil janin).

Leopold III: Pada SBR  teraba keras, batas tegas, tidak dapat digoyangkan( kepala)

Leopold IV: Posisi tangan pemeriksa Divergen (masuk panggul).

Mc Donald : TFU t: 34 cm, UK : 9 bln, TBJ (34-11) x 155 = 3565gr

Penurunan kepala : 3/5

  1. Kontraksi : durasi : 60  detik, frekuensi 5x/10 meniti
  2. Auskultasi : Puntum maksimal bawah pusat, frekuensi 130 kali menit, irama teratur
  3. Genetalia : tanda Chadwick ada, varises tidak ada, udema tidak ada, pengeluaran : lendir darah

Ada bekas jahitan perineum

  1. Periksa Dalam : tgl 21-10-2010 jam 00.45, oleh Bidan Nur Fitria K.

1)      Indikasi : Kenceng-kenceng teratur, pengeluran lendir darah

2)       Tujuan  : Untuk mengetahui sudah masuk inpartu belum

3)      Hasil      : Vagina licin, portio tipis, pembukaan 4 cm, selaput ketuban utuh, presentasi kepala, Hodge II-III, Panggul teraba spina ischiadika STLD positif

  1. Kaki : simitris, gerakan : tidak ada, varises tidak ada, udema tidak ada

 

  1. C.                 ASSESMENT

Seorang multigravida, umur 38 tahun, hamil 9 bln, janin tunggal intrauterine, hidup, presentasi kepala, punggung kanan, dalam persalinan kala I fase aktif.

 

  1. D.                PLANNING (Rencana, Implementasi, Evaluasi)

–          Memberitahu ibu hasil periksa dalam pembukaan 4 cm dan kondisi janin dalam keadaan baik

–          Menganjurkan ibu untuk mengambil nafas panjang saat ada his dan mengeluarkannya lewat mulut dan menganjurkan agar jangan mengejan dulu sebelum pembukaan lengkap.

–          Memberikan susu kepada ibu, ibu minum susu ¾ gelas

–          Menganjurkan ibu untuk tidur miring kekiri agar sirkulasi O2 kejanin lancar atau apabila ibu masih kuat ibu boleh berjalan-jalan. Ibu memilih untuk tiduran, karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit.

–          Menyiapkan perlengkapan persalinan termasuk baju bayi, kain bersih dan baju ibu.

–          Setelah itu mengobservasi HIS, DJJ  dan nadi setiap 30 menit sekali, lalu mendokumentasikan pada lembar observasi

(01.00) ibu BAK di tempat tidur. Setelah itu ibu pindah ke tempat tidur VK


 

CATATAN PERKEMBANGAN KALA I

Tgl. 21-10-2010 jam 02.00 WIB

S Ibu merasa ingin kenceng-kenceng semakin sakit

O Ketuban Pecah (02.00), Air ketuban kehijauan. HIS: 5x 10’ ;65”, DJJ : 120 x/menit

PD2 oleh Bidan Nur Fitria K. jam 02.00.

Indikasi : Ketuban Pecah

Tujuan : mengetahui kemajuan persalinan

Hasil : vagina licin, portio tidak teraba, pembukaan 10 cm, presbelkep, UUK jam 12.

A multigravida, presbelkep dalam persalinan kala awal II

P  (02.00) Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap, apabila ada kontraksi ibu boleh mengejan dan apabila tidak ada kontraksi ibu boleh istirahat dulu dan minum dulu untuk menambah tenaga

Menyiapkan partus set

 

 

CATATAN PERKEMBANGAN KALA II

Tgl 21-10-2010 jam 02.02

S

 

Ibu ingin mengejan seperti mau BAB

O Dorongan meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol dan vulva membuka. Penurunan kepala 1/5 DJJ: 120x/menit

A multigravida, presbelkep dalam persalinan kala II

P  (02.03) Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap. Jika ada kontraksi ibu boleh mengejan dan bila tidak ada kontraksi ibu boleh beristirahat dulu

(02.04) Ada Kontraksi à Ibu mengejan (lama kontraksi 65”)à Kepala janin mendesak jalan lahir dan membuka vulva 5-6 cm

(02.06)  Memasang underpad di bawah bokong ibu, dan membentangkan kain bersih diatas perut ibu dan mendekatkan alat.

(02.07) Ada Kontraksi lagià Ibu mengejan à menolong kelahiran bayi dengan melakukan stenen atau menahan perineum dengan tangan kanan yang dilapisi popok bayi, tangan kiri menahan puncak kepala bayi agar tidak terjadi defleksi kepala yang terlalu cepat à kepala sudah keluar à  memeriksa lilitan tali pusatà tidak ada lilitan à lalu menunggu putar paksi luar à melahirkan bahu depan lalu bahu belakang dengan tangan berparietal à melahirkan badan bayi seluruhnya dan ditaruh di atas perut ibu

(02.50) Bayi lahir spontanà tidak menangis à buka mulut lebar, usap mulut dan isap lender à menjepit tali pusat dengan klem 3 cm dr dinding perut bayi lalu jepit dengan klem kedua dengan jarak 2 cm dari klem pertama, memotong tali pusat dialasi tangan dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan langkah awal, memindahkan ke meja resusitasi, hangatkan bayi dengan diselimuti (kecuali dada) dan disinari lampu, mengatur posisi leher dan bahu sedikit ekstensi, mengisap lendir di mulut dan hidung bayi, mengeringkan bayi sambil merangsang taktil dan mengganti selimut bayi, mengatur kembali posisi bayi sedikit ekstensi, melakukan penilaian apakah bayi masih megap-megap atau sudah menangis kuatàbayi masih megap-megapàmelakukan ventilasiàmenyisihkan kain yang menutup bagian dada bayi,menguji fungsi balon dan sungkup dengan tangan, memasang sungkup melingkupi hidung,muliut, dan dagu, melakukan ventilasi percobaan, melakukan ventilasi definitif setelah ventilasi percobaan berhasilàsetelah 30 detik pertama bayi menangis kuat dan bergerak aktifàmenyelimuti bayi dan menyerahkan pada ibu untuk di IMD.

Evaluasi: lama kala II : 43 menit

 

 


 

CATATAN PERKEMBANGAN KALA III

 

Tgl. 21-10-2010 jam 02.51

S

 

Ibu mengatakan perutnya masih mules

O TFU 1 jari di bawah pusat, tali pusat memanjang, kandung kemih penuh.

A multigravida dalam persalinan kala III.

P   (02.51) Mengecek tinggi fundus uteri untuk memastikan janin tunggal. Memberitahu ibu bahwa ibu akan disuntik oksitosin untuk membantu kontraksi. Menyuntikan oksitosin 10 IU secara IM di 1/3 atas paha kanan bagian luar

(02.52) mengosongkan kadung kemih dengan kateter.

(02.54) memindahkan klem dekat dengan vulva, melakukan penegangan tali pusat terkendali dengan tangan kanan dan tangan kiri melakukan penekanan uterus secara hati-hati kearah dorso cranial. à Plasenta tampak di vulva lalu melahirkan plasenta sesuai sumbu jalan lahir, menangkap plasenta lalu diputar dengan lembut searah jarum jam hingga selaput ketuban terpilin jadi satu.

(03.00) Plasenta lahir Spontan. Kotiledon lengkap dan selaput ketuban bisa disatukan.

(03.01) Masase fundus. Kontraksi bagus dan teraba keras TFU 1 jari di bawah pusatà

(03.02) Memeriksa laserasià laserasi di vagina dan perineum rupture derajat 2.

(03.03) Menyiapkan heating set dan mengganti underpad

Evaluasi KU: lemah, CM. Lama kala III 10 menit. Perdarahan ±60 cc

 


 

CATATAN PERKEMBANGAN KALA IV

Tgl 21-10-2010 Jam 03.05

S ibu merasa menggigil, dan susah bernapas

 

O

KU : lemah                                               kesadaran : CM

TD : 80/60 mmHg                                    R: 32 x/menit                          N : 115 x/menit teraba lemah

TFU 1 jari di bawah pusat, laserasi di vagina dan  perineum derajat 2, tampak wajah ibu kebiruan, terlihat kesulitan dalam bernapas dan gelisah

A Multipara dalam persalinan kala IV dengan  dugaan emboli air ketuban

Kebutuhan : rujuk  dengan pemberian oksigen dan  infus dengan jarum besar (16-18) RL atau NS. Infuskan 1 L dalam 15 sampai 20 menit, jika mungkin infuskan 2 liter dalam 1 jam pertama kemudian turunkan ke 125 cc/jam serta mengobservasi KU dan vital sign serta cairan infuse.

P    (03.05)   memberikan oksigen kepada ibu 3 L/menit

(03.06)    memasang infuse dengan jarum besar (16-18) RL atau NS. Infuskan 1 L dalam 15 sampai 20 menit.

(03.10)   memberitahu keluarga bahwa ibu rujuk.

(03.12)    selama rujukan mengobservasi KU dan vital sign serta cairan infuse, jika mungkin infuskan 2 liter dalam 1 jam pertama kemudian turunkan ke 125 cc/jam.

Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus

Standard

 

  1. A.      Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus

Kompetensi ke-6 :       Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.

 

  1. Pengetahuan Dasar
    1. Adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan di luar uterus.
    2. Kebutuhan dasar bayi baru lahir: kebersihan jalan napas, perawatan tali pusat, kehangatan, nutrisi, “bonding & attachment”.
    3. Indikator pengkajian bayi baru lahir, misalnya dari APGAR.
    4. Penampilan dan perilaku bayi baru lahir.
    5. Tumbuh kembang yang normal pada bayi baru lahir selama 1 bulan.
    6. Memberikan immunisasi pada bayi.
    7. Masalah yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal seperti: caput, molding, mongolian spot, hemangioma.
    8. Komplikasi yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal seperti: hypoglikemia, hypotermi, dehidrasi, diare dan infeksi, ikterus.
    9. Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada bayi baru lahir sampai 1 bulan.
    10. Keuntungan dan resiko immunisasi pada bayi.
    11. Pertumbuhan dan perkembangan bayi premature.
    12. Komplikasi tertentu pada bayi baru lahir, seperti trauma intra-cranial, fraktur klavikula, kematian mendadak, hematoma.
  1. Keterampilan Dasar
    1. Membersihkan jalan nafas dan memelihara kelancaran pernafasan, dan merawat tali pusat.
    2. Menjaga kehangatan dan menghindari panas yang berlebihan.
    3. Menilai segera bayi baru lahir seperti nilai APGAR.
    4. Membersihkan badan bayi dan memberikan identitas.
    5. Melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus pada bayi baru lahir dan screening untuk menemukan adanya tanda kelainan-kelainan pada bayi baru lahir yang tidak memungkinkan untuk hidup.
    6. Mengatur posisi bayi pada waktu menyusu.
    7. Memberikan immunisasi pada bayi.
    8. Mengajarkan pada orang tua tentang tanda-tanda bahaya dan kapan harus membawa bayi untuk minta pertolongan medik.
    9. Melakukan tindakan pertolongan kegawatdaruratan pada bayi baru lahir, seperti: kesulitan bernafas/asphyksia, hypotermia, hypoglycemi.
    10. Memindahkan secara aman bayi baru lahir ke fasilitas kegawatdaruratan apabila dimungkinkan.
    11. Mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan.

 

  1. Keterampilan Tambahan
    1. Melakukan penilaian masa gestasi.
    2. Mengajarkan pada orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi yang normal dan asuhannya.
    3. Membantu orang tua dan keluarga untuk memperoleh sumber daya yang tersedia di masyarakat.
    4. Memberikan dukungan kepada orang tua selama masa berduka cita sebagai akibat bayi dengan cacat bawaan, keguguran, atau kematian bayi.
    5. Memberikan dukungan kepada orang tua selama bayinya dalam perjalanan rujukan diakibatkan ke fasilitas perawatan kegawatdaruratan.
    6. Memberikan dukungan kepada orang tua dengan kelahiran ganda.

 

  1. B.     Jadwal Kunjungan
  2. Kunjungan I pada hari pertama sampai hari ketujuh (sejak enam jam setelah lahir sampai tujuh hari)
    1. Setelah enam jam dari kelahiran bidan melanjutkan pengamatan terhadap pernapasan, warna, tingkat aktivitas, suhu tubuh, dan perawatan untuk setiap penyulit yang muncul. Bidan melakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap. Rujuk ke dokter bila tampak tanda bahaya dan penyulit. Jika bayi sudah cukup hangat (minimal 36,5 0 C) bidan memandikan bayi dan melakukan perawatan tali pusat. Bidan juga mengajarkan tanda bahaya kepada ibu agar segera membawa bayinya ke tim medis bila timbul tanda bahaya. Selanjutnya bidan mengajarkan cara menyusui dan merawat bayi mereka.
    2. Pada minggu pertama (sampai hari ke-7) bidan menanyakann keseluruhan keadaan kesehatan bayi, masalah-masalah yang dialami terutama dalam proses menyusui, apakah ada orang lain di rumahnya atau di sekitarnya yang dapat membantu ibu.  Bidan mengamati keadaan dan kebersihan rumah ibu, persediaan makanan dan air, amati keadaaan suasana ibu dan bagaimana cara ibu berinteraksi dengan bayinya. Pada kunjungan ini bidan juga melakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Jika bayi tidak aktif, menyusu tidak baik, atau tampak kelainan lain, rujuk bayi pada dokter atau klinik untuk perawatan selanjutnya.
    3. Kunjungan II pada hari kedelapan sampai hari kedua puluh delapan (hari ke-8 sampai hari ke-28)

 

  1. Managemen Bayi Baru Lahir dan Neonatus

Pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi bayi baru lahir yaitu diselenggarakan dengan mengikuti hal-hal sebagai berikut:

  1. Selama kehamilan ibu hamil harus memeriksakan kehamilan minimal empat kali di fasilitas pelayanan kesehatan, agar pertumbuhan dan perkembangan janin dapat terpantau dan bayi lahir selamat dan sehat.

Tanda-tanda bayi lahir sehat:

  1. Berat badan bayi 2500-4000 gram
  2. Umur kehamilan 37-40 minggu
  3. Bayi segera menangis
  4. Bayi segera menangis
  5. Bergerak aktif, kulit kemerahan
  6. Mengisap ASI dengan baik
  7. Tidak ada cacat bawaan
  8. Tatalaksana Bayi Baru Lahir

Tatalaksana bayi baru lahir meliputi:

  1. Asuhan bayi baru lahir pada 0 – 6 jam:

1)      Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah lahir, dan diletakkan di dekat ibunya dalam ruangan yang sama

2)      Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan dengan ibunya atau di ruangan khusus

3)      Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami

  1. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari:

1)      Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di puskesmas atau pustu atau polindes atau  poskesdes dan atau melalui kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan

2)      Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu atau keluarga pada saat diperiksa atau diberikan pelayanan kesehatan

 

  1. Jenis Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
    1. Asuhan bayi baru lahir

Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan Persalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam).

Asuhan bayi baru lahir meliputi:

1)      Pencegahan infeksi (PI)

2)      Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi

3)      Pemotongan dan perawatan tali pusat

4)      Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

5)      Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi

6)       Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha kiri

7)       Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan

8)      Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal

9)      Pemeriksaan bayi baru lahir

10)  Pemberian ASI eksklusif

 

  1. Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan proses IMD.

Langkah IMD pada persalinan normal (partus spontan):

  1. Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
  2. Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernix, kemudian tali pusat diikat.
  3. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu dan mata bayi setinggi puting susu ibu. Keduanya diselimuti dan bayi diberi topi.
  4. Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri mencari puting susu ibu.
  5. Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
  6. Biarkan KULIT bayi bersentuhan dengan KULIT ibu minimal selama SATU JAM; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada ibu sampai 1 jam
  7. Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi lebih dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu selama 30 MENIT atau 1 JAM berikutnya.

 

  1. Pelaksanaan penimbangan, penyuntikan vitamin K1, salep mata dan imunisasi Hepatitis B (HB 0)

Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode setelah IMD sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar bersalin oleh dokter, bidan atau perawat.

  1. Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL.
  2. Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata (Oxytetrasiklin 1%).
  3. Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan Vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan kerusakan hati.
  4. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan pada bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama. Pemeriksaan bayi baru lahir dilaksanakan di ruangan yang sama dengan ibunya, oleh dokter/ bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan di rumah, ibu atau keluarga dapat mendampingi tenaga kesehatan yang memeriksa.

Waktu pemeriksaan bayi baru lahir:

Bayi lahir di fasilitas kesehatan Bayi lahir di rumah
Baru lahir sebelum usia 6 jam Baru lahir sebelum usia 6 jam
Usia 6-48 jam Usia 6-48 jam
Usia 3-7 hari Usia 3-7 hari
Minggu ke 2 pasca lahir Minggu ke 2 pasca lahir

 

Langkah langkah pemeriksaan:

  1. Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis).
  2. Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan dan tarikan dinding dada bawah, denyut jantung serta perut.
  3. Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah memegang bayi.

 

  1. Kunjungan Neonatal

Adalah pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:

  1. Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir
  2. Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7 hari
  3. Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28 hari

 

  1. Pencatatan dan Pelaporan

Hasil pemeriksaan dan tindakan tenaga kesehatan harus dicatat pada:

  1. Buku KIA (buku kesehatan ibu dan anak)

1)          Pencatatan pada ibu meliputi keadaan saat hamil, bersalin dan nifas

2)          Pencatatan pada bayi meliputi identitas bayi, keterangan lahir, imunisasi, pemeriksaan neonatus, catatan penyakit, dan masalah perkembangan serta KMS

  1. Formulir Bayi Baru Lahir

1)        Pencatatan per individu bayi baru lahir, selain partograph

2)        Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan

  1. Formulir pencatatan bayi muda (MTBM)

1)      Pencatatan per individu bayi

2)      Dipergunakan untuk mencatat hasil kunjungan neonatal yang merupakan dokumen tenaga kesehatan puskesmas

  1. Register kohort bayi

1)   Pencatatan sekelompok bayi di suatu wilayah kerja puskesmas

2)   Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan puskesmas

 

  1. Fasilitas

Peralatan yang diperlukan dalam melaksanakan asuhan bayi baru lahir harus tersedia dalam satu ruangan dengan ibu, meliputi:

Tempat (meja) resusitasi bayi, diletakkan di dekat tempat ibu bersalin

  1. Infant warmer atau dapat digunakan juga lampu pijar 60 watt dipasang sedemikian rupa dengan jarak 60 cm dari bayi yang berfungsi untuk penerangan dan memberikan kehangatan di atas tempat resusitasi
  2. Alat resusitasi (balon sungkup) bayi baru lahir
  3. Air bersih, sabun dan handuk bersih dan kering
  4. Sarung tangan bersih
  5. Kain bersih dan hangat
  6. Stetoskop infant dan dewasa
  7. Stop watch atau jam dengan jarum detik
  8. Termometer
  9. Timbangan bayi
  10. Pengukur panjang bayi
  11. Pengukur lingkar kepala 30
  12. Alat suntik sekali pakai (disposible syringe) ukuran 1 ml/cc
  13. Senter
  14. Vitamin K1 (phytomenadione) ampul
  15. Salep mata Oxytetrasiklin 1%
  16. Vaksin Hepatitis B (HB) 0
  17. Form pencatatan (Buku KIA, Formulir BBL, Formulir register kohort bayi)

Peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan kunjungan neonatal

meliputi:

  1. Tempat periksa bayi
  2. Lampu yang berfungsi untuk penerangan dan memberikan kehangatan.
  3. Air bersih, sabun dan handuk kering
  4. Sarung tangan bersih
  5. Kain bersih
  6. Stetoskop
  7. Stop watch atau jam dengan jarum detik
  8. Termometer
  9. Timbangan bayi
  10. Pengukur panjang bayi
  11. Pengukur lingkar kepala
  12. Alat suntik sekali pakai (disposable syringe) ukuran 1
  13. ml/cc
  14. Vitamin K1 (phytomenadione) ampul
  15. Salep mata Oxytetrasiklin 1%
  16. Vaksin Hepatitis B (HB 0)
  17. Form pencatatan (Buku KIA, Formulir bayi baru lahir, formulir MTBM, Partograf, Formulir register kohort bayi)

 

 

Hidrosefalus

Standard
  1. PENDAHULUAN
  1. Latar belakang

Ruangan CSS mulai terbentuk pada minggu kelima masa embrio, terdiri atas sistem ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf. CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan araknoid yang meliputi susunan saraf pusat. Hubungan antara sistem ventrikel dan ruang subaraknoid melalui foramen Magendie di median dan foramen Luschka di sebelah lateral ventrikel IV. Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen Monroi ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam subaraknoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorpsi CSS oleh sistem kapiler.

  1. Insidensi

Insidensi hidrosefalus antara 2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 5-18 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus infantil 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono, 2005:211).

 

  1. DEFINISI

Hidrosefalus adalah keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS (Darsono, 2005:209). Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (DeVito EE et al, 2007:328).

Hidrosefalus merupakan suatu sindrom atau tanda yang diakibatkan oleh terganggunya cairan serebrospinalis secara dinamis, yang mungkin disebabkan oleh berbagai penyakit (Wong, 2000).

 

  1. PENYEBAB

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Tempat yang sering tersumbat dan terdapat dalam klinik ialah foramen Monroi, foramen Luschka dan Mangendie, sisterna magna dan sisterna basalis.

Secara teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang normal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, tetapi dalam klinik sangat jarang dijumpai; misalnya terlihat pelebaran ventrikel tanpa penyumbatan pada adenomata pleksus koroidalis. Berkurangnya absorbsi CSS yang pernah dikemukakan dalam kepustakaan pada obetruksi kronis aliran vena otak pada trombosis sinus longitudinalis. Contoh lain ialah terjadinya hidrosefalus setelah koreksi bedah dari spina bifida dengan meningokel akibat berkurangnya permukaan untuk absorbsi.

Penyebab penyumbatan untuk aliran CSS yang sering terdapat pada bayi ialah kelainan bawaan, infeksi, neoplasma, dan perdarahan.

1)   Kelainan Bawaan (Kongenital)

    1. Stenosis akuaduktus Sylvii

Merupakan penyebab yang terbanyak pada hidrosefalus bayi dan anak (60-90%). Akuaduktus dapat merupakan saluran yang buntu sama sekali atau abnormal yaitu lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hidrosefalus terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama seteolah lahir.

    1. Spina bifida dan kranium bifida.

Hidrosefalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian atau total.

    1. Sindrom Dandy-Walker.

Dandy-Walker Syndrome adalah malformasi bawaan sejak lahir (kongenital) dari cerebellum (suatu bagian belakang otak yang mengendalikan gerak) dan daerah sekitarnya yang dipenuhi oleh cairan. Ciri utama dari sindrom ini adalah pembengkakan dari ventrikel keempat (channel kecil yang mengalirkan cairan dengan bebas antara bagian atas dan bawah dari otak dan spinal cord), tidak adanya sebagian atau seluruh cerebellar vermis (bagian antara kedua hemisphere cerebellar) dan pembentukan kista (cyst) di dekat bagian bawah tengkorak. Pembesaran ruang cairan disekitar otak dan meningkatnya tekanan dalam otak juga mungkin terjadi. Sindrom ini bisa muncul secara dramatis atau berkembang tanpa terdeteksi.

    1. Kista araknoid, dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder atau hematom.
    2. Anomali pembuluh darah

2)      Infeksi

Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di akuaduktus Sylvii atau sisterna basalis. Lebih banyak hidrosefalus terdapat pada pasca meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari meningitis. Secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa tuberkulosa, perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sisterna kiasmatika dan interpendunkularis, sedangkan pada meningitis purulenta lokasinya lebih tersebar.

3)      Neoplasma

Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pengobatannya dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor tidak diangkat (tidak mungkin operasi), maka dapat dilakukan tindakan paliatif dengan mengalirkan CSS melalui saluran buatan. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glikoma yang berasal dari serebelum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan kraniofaringioma.

4)      Perdarahan

Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005:360).

 

  1. PATOFISIOLOGI

CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem internal dan sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur 8-10 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005). Aliran CSS normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen monroe ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang subarakhnoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler. (DeVito EE et al, 2007:328)

Hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu :

1)        Produksi likuor yang berlebihan.

2)        Peningkatan resistensi aliran likuor.

3)        Peningkatan tekanan sinus venosa.

Konsekuensi tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari :

1)        Kompresi sistem serebrovaskuler.

2)        Redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler.

3)        Perubahan mekanis dari otak.

4)        Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis.

5)        Hilangnya jaringan otak.

6)        Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial.

Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono, 2005:212)

 

  1. TANDA GEJALA

Gejala yang tampak berupa gejala akibat tekanan intrakranial yang meninggi. Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak, bila tekanan yang meninggi ini terjadi sebelum sutura tengkorak menutup. Gejala tekanan intrakranial yang meninggi dapat berupa muntah, nyeri kepala, dan pada anak yang agak besar mungkin terdapat edema pupil saraf otak II pada pemeriksaan fundus-kopi (chocked disk).

Kepala bisa berukuran normal dengan fontanela anterior menonjol, lama kelamaan menjadi besar dan mengeras menjadi bentuk yang karakteristik oleh peningkatan dimensi ventrikel lateral dan anterior-posterior diatas proporsi ukuran wajah dan badan bayi. Ini dipastikan dengan mengukur lingkar kepala suboksipito-bregmatikus dibandingkan dengan lingkar dada dan angka normal pada usia yang sama. Lebih penting lagi ialah pengukuran berkala lingkar kepala, yaitu untuk melihat pembesaran kepala yang progresif dan lebih cepat dari normal. Puncak orbital tertekan kebawah dan mata terletak agak kebawah dan keluar dengan penonjolan putih mata yang tidak biasanya. Tampak adanya distensi vena superfisialis dan kulit kepala menjadi tipis serta rapuh.

Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya, teraba tegang atau menonjol. Dahi tampak melebar dengan kulit kepala yang menipis, tegang dan mengkilat dengan pelebaran vena kulit kepala. Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar. Didapatkan pula cracked pot sign yaitu bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi kepala. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang supraorbita. Sklera tampak di atas iris seakan-akan matahari yang akan terbenam (sunset sign). Pergerakan bola mata yang tidak teratur dan nistagmus tidak jarang terdapat. Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran, motoris atau kejang,         kadang-kadang gangguan pusat vital, bergantung kemampuan kepala untuk membesar dalam mengatasi tekanan intrakranial yang meninggi. Bila proses berlangsung lambat, mungkin tidak terdapat gejala neurologis walaupun telah terdapat pelebaran ventrikel yang hebat; sebaliknya ventrikel yang belum begitu melebar akan tetapi berlangsung dengan cepat sudah dapat memperlihatkan kelainan neurologis yang nyata. Pada bayi terlihat lemah dan diam tanpa aktivitas normal. Proses ini pada tipe communicating dapat tertahan secara spontan atau dapat terus dengan menyebabkan atrofi optik, spasme ekstremitas, konvulsi, malnutrisi dan kematian, jika anak hidup maka akan terjadi retardasi mental dan fisik.
Pada uji radiologis terlihat tengkorak mengalami penipisan dengan sutura yang terpisah-pisah dan pelebaran vontanela.

Ventirkulogram menunjukkan pembesaran pada sistim ventrikel.

Tomografi komputer (CT Scan) dapat menggambarkan sistem ventrikuler dengan penebalan jaringan dan adanya massa pada ruangan Occuptional.

 

  1. KOMPLIKASI

Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70% akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% anak akan mencapai kecerdasan yang normal (Thanman, 1984). Pada kelompok yang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16% mengalami retardasi mental ringan.

Prognosis ini juga tergantung pada penyebab dilatasi ventrikel dan bukan pada ukuran mantel korteks pada saat dilakukan operasi. Anak dengan hidrosefalus meningkat resikonya untuk berbagai ketidakmampuan perkembangan. Rata-rata quosien intelegensi berkurang dibandingkan dengan populasi umum, terutama untuk kemampuan tugas sebagai kebalikan dari kemampuan verbal. Kebanyakan anak menderita kelainan dalam fungsi memori. Masalah visual adalah lazim, termasuk strabismus, kelainan visuospasial, defek lapangan penglihatan, dan atrofi optik dengan pengurangan ketajaman akibat kenaikan tekanan intrakranial. Bangkitan visual yang kemungkinan tersembunyi tertunda dan memerlukan beberapa waktu untuk sembuh pasca koreksi hidrosefalus. Meskipun sebagian anak hidrosefalus menyenangkan dan bersikap tenang, ada anak yang mememperlihatkan perilaku agresif dan melanggar. Adalah penting sekali anak hidrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidisipliner.

 

  1. PENATALAKSANAAN

Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :

    1. Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi (pembedahan) atau koagulasi, akan tetapi hasilnya tidak memuaskan. Obat azetasolamid (Diamox) dikatakan mempunyai khasiat inhibisi pembentukan CSS.
    2. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi, yaitu menghubungkan ventrikel dengan subaraknoid. Misalnya ventrikulosisternostomi Torkildsen pada stenosis akuaduktus. Pada anak hasilnya kurang memuaskan karena sudah ada insufisiensi fungsi absorbsi.
    3. Pengeluaran likuor (CSS) ke dalam organ ekstrakranial.
  • Drainase ventrikulo-peritoneal.
  • Drainase lombo-peritoneal.
  • Drainase ventrikulo-pleural.
  • Drainase ventrikulo-uretrostomi.
  • Drainase ke dalam antrum mastoid.
  • Cara yang dianggap terbaik yakni mengalirkan CSS ke dalam vena jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil (Holter valve) yang memungkinkan pengaliran CSS ke satu arah. Keburukan cara in ialah ahwa kateter harus diganti sesuai dengan pertumbuhan anak. Hasilnya belum memuaskan, karena masih sering terjadi infeksi sekunder dan sepsis.

Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :

1)      Penanganan Sementara

Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid (asetazolamid 100 mg/kg BB/hari; furosemid 2 mg/kg BB/kali) atau upaya meningkatkan resorbsinya (isorbid). Terapi di atas hanya bersifat sementara sebelum dilakukan terapi definitif diterapkan atau bila ada harapan kemungkinan pulihnya gangguan hemodinamik tersebut; sebaliknya terapi ini tidak efektif untuk pengobatan jangka panjang mengingat adanya resiko terjadinya gangguan metabolik. Drainase likuor eksternal dilakukan dengan memasang kateter ventrikuler yang kemudian dihubungkan dengan suatu kantong drain eksternal. Tindakan ini dilakukan untuk penderita yang berpotensi menjadi hidrosefalus (hidrosefalus transisi) atau yang sedang mengalami infeksi. Keterbatasan tindakan semacam ini adalah adanya ancaman kontaminasi likuor dan penderita harus selalu dipantau secara ketat. Cara lain yang mirip dengan metode ini adalah punksi ventrikel yang dilakukan berulang kali untuk mengatasi pembesaran ventrikel yang terjadi. Cara-cara untuk mengatasi dilatasi ventrikel di atas dapat diterapkan pada beberapa situasi tertentu yang tentu pelaksanaannya perlu dipertimbangkan secara masak (seperti pada kasus stadium akut hidrosefalus pasca perdarahan).

 

2)        Operasi Pemasangan “Pintas” (Shunting)

Sebagian besar pasien memerlukan tindakan operasi pintas, yang bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor (ventrikel atau lumbar) dengan kavitas drainase (seperti: peritoneum, atrium kanan, pleura). Pemilihan kavitas untuk drainase dari mana dan kemana, bervariasi untuk masing-masing kasus. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum, mengingat ia mampu menampung kateter yang cukup panjang sehingga dapat menyesuaikan pertumbuhan anak serta resiko terjadinya infeksi berat relatif lebih kecil dibandingkan dengan rongga atrium jantung. Lokasi drainase lain seperti: pleura, kandung empedu dan sebagainya, dapat dipilih untuk situasi kasus-kasus tertentu. Biasanya cairan serebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Belakangan ini drainase lumbar jarang dilakukan mengingat ada laporan bahwa terjadi herniasi tonsil pada beberapa kasus anak. Dalam melakukan tindakan operasi pintas, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dan sifatnya sangat subyektif bagi dokter ahli bedahnya. Ada berbagai jenis dan merek alat shunt yang masing-masing berbeda bahan, jenis, mekanisme maupun harga serta profil bentuknya. Pada dasarnya alat shunt terdiri dari tiga komponen yaitu: kateter proksimal, katup (dengan/tanpa reservoir), dan kateter distal. Komponen bahan dasarnya adalah elastomer silikon. Pemilihan shunt mana yang akan dipakai dipengaruhi oleh pengalaman dokter yang memasangnya, tersedianya alat tersebut, pertimbangan finansial serta latar belakang prinsip-prinsip ilmiah. Ada beberapa bentuk profil shunt (tabung, bulat, lonjong, dan sebagainya) dan pemilihan pemakaiannya didasarkan atas pertimbangan mengenai penyembuhan kulit yang dalam hal ini sesuai dengan usia penderita, berat badannya, ketebalan kulit dan ukuran kepala. Sistem hidrodinamik shunt tetap berfungsi pada tekanan yang tinggi, sedang, dan rendah, dan pilihan ditetapkan sesuai dengan ukuran ventrikel, status pasien (vegetatif, normal), patogenesis hidrosefalus, dan proses evolusi penyakitnya.

Penempatan reservoir shunt umumnya dipasang di frontal atau di temporo-oksipital yang kemudian disalurkan dibawah kulit. Teknik operasi penempatan shunt didasarkan oleh pertimbangan anatomis dan potensi kontaminasi yang mungkin terjadi (misalnya: ada gastrostomi, trakheostomi, laparostomi, dan sebagainya).

Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu: pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Secara umum tidak ada batasan untuk posisi baring dari penderita, namun biasanya penderita dibaringkan terlentang selama 1-2 hari pertama.
Komplikasi shunt dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu: infeksi, kegagalan mekanis, dan kegagalan fungsional, yang disebabkan jumlah aliran yang tidak adekuat. Infeksi pada shunt meningatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. Kegagalan mekanis mencakup komplikasi-komplikasi seperti: oklusi aliran didalam shunt (proksimal, katup atau bagian distal), diskoneksi atau putusnya shunt, migrasi dari tempat semula, tempat pemasangan yang tidak tepat. Kegagalan fungsional dapat berupa drainase yang berlebihan atau malah kurang lancarnya drainase. Drainase yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi lanjutan seperti terjadinya efusi subdural, kraniosinostosis, lokulasi ventrikel, hipotensi ortostatik.

 

3)        Penanganan Alternatif (selain Shunting)

Tindakan alternatif selain operasi “pintas” (shunting) diterapkan khususnya bagi kasus-kasus yang mengalami sumbatan di dalam sistem ventrikel termasuk juga saluran keluar ventrikel IV (misal: stenosis akuaduktus, tumor fossa posterior, kista arkhnoid). Dalam hal ini maka tindakan terapeutik semacam ini perlu dipikirkan lebih dahulu, walaupun kadang lebih rumit daripada memasang shunt, mengingat restorasi aliran likuor menuju keadaan atau mendekati normal selalu lebih baik daripada suatu drainase yang artifisial.

Terapi etiologik. Penanganan terhadap etiologi hidrosefalus merupakan strategi yang terbaik, seperti antara lain misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Memang pada sebagian kasus perlu menjalani terapi sementara dahulu sewaktu lesi kausalnya masih belu dapat dipastikan atau kadang juga masih memerlukan tindakan operasi pintas karena kasus yang mempunyai etiologi multifaktor atau mengalami gangguan aliran likuor sekunder.

Penetrasi membran. Penetrasi dasar ventrikel III merupakan suatu tindakan membuat jalan alternatif melalui rongga subarakhnoid bagi kasus-kasus stenosis akuaduktus atau (lebih umum) gangguan aliran pada fosa posterior (termasuk tumor fosa posterior). Selain memulihkan sirkulasi secara pseudo-fisiologis aliran likuor, ventrikulostomi III dapat menciptakan tekanan hidrostatik yang uniform pada seluruh sistem susunan saraf pusat sehingga mencegah terjadinya perbedaan tekanan pada struktur-struktur garis tengah yang rentan. Saat ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik, dimana suatu neuroendoskop (rigid atau fleksibel) dimasukkan melalui burrhole koronal (2-3 cm dari garis tengah) ke dalam ventrikel lateral, kemudian melalui foramen Monro (diidentifikasi berdasarkan pleksus khoroid dan vena septalis serta vena talamostriata) masuk ke dalam ventrikel III. Batas-batas ventrikel III dari posterior ke anterior adalah korpus mamilare, percabangan a. basilaris, dorsum sella dan resesus infundibularis. Lubang dibuat di depan percabangan arteri basilaris sehingga terbentuk saluran antara ventrikel III dengan sisterna interpedunkularis. Lubang ini dapat dibuat dengan memakai laser, monopolar koagulator, radiofrekuensi, dan kateter balon.

 

Sumber:

Pincus eatzel, Len Roberts. 1995. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta; EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.

Anonim, 1985 Hidrosefalus dalam Hassan, R., Alatas, H. (editor) Kumpulan Kuliah Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, cetakan ke IV, Jakarta. Hal : 874-8

 

Anonim, 1996, Kelainan Neurologi Hidrosefalus dalam Harsono (editor) Buku Ajar Neurologi Klinis dan Kapita Selekta, Gadjah Mada University Press, Bulaksumur, Yogyakarta. Hal 45-8

Analgesia pada Persalinan

Standard

 

  1. Tahap persalinan
    1. First stage: regular contraction and dilatation à pain is carried by visceral aff, fibers (segmen T10-L1à sensasi saraf sensori hilang)
    2. Second stage: full dilatation, ends with delivery of the infant à pain from stretching birth canal, vulva, perineum (S2-S4)
    3. Third stage: delivery placenta.
  1. Metode Painless Labor
  • Analgetik dan sedasi intavena/ inhalasi/ psikoanalgetik/ akupuntur

Yaitu pemakaian obat-obatan narkotik dan sedasi. Metode ini dapat mengakibatkan janin tersedasi dan tidak jarang efek yang ditimbulkan kurang maksimal.

  •  Regional Anasthesia

1)    Epidural (ELA/LEA)

  • CE (Continuous Epidural)
  • PCEA (Patient Control Epidural Anesthesia)
  • CSEA (Combine Spinal Epidural Anesthesia)

2)    Spinal

  •  ILA (Intrathecal Labour Analgeshia)
  •  ITN (Intrathecal Narcotic)

3)    Paracervical Block

4)    Pudendal Block

Dalam topik selanjutnya akan lebih jauh dibahas tentang metode anastesi dalam persalinan khususnya epidural anestesi (ELA/LEA) dan spinal anestesi (ILA). Sebelum masuk dalam kedua bahasan diatas, ada baiknya diketahui beberapa indikasi dari pemberian painless labor ILA dan ELA/LEA.

Indikasi ILA/LEA:

  1. Dipastikan persalinan dapat dilakukan secara pervaginam
  2. Tidak ada kontraindikasi LEA/ ILA, diantaranya hipertensi, syok, penyakit daerah lumbal, dan jantung)
  3. Permintaan pasien
  4. Dilakukan dengan infus oxytosin

Langkah pemasangan anestesi LEA/ILA:

  1. Persiapan anestesi dan alat-alat seperti inserter jarum epidural, cairan anestesi, dan kateter epidural
  2. Memposisikan pasien miring ke salah satu sisi atau dalam posisi fowler
  3. Melakukan infiltrasi ke lumbal (T10-L1)
  4. Kemudian dilakukan insersi jarum epidural (18 G)
  5. Insersi kateter epidural diikuti dengan pencabutan jarum epidural
  6. Pemberian dosis anestesi
  7. Fiksasi

Pengaruh ILA/LEA pada ibu dan janin:

  1. Menghilangkan nyeri selama persalinan dengan memutuskan ciculus vitiosus syindroma (sindrom takut nyeri)
  2. Menurunkan kebutuhan oksigen ibu
  3. Mengurangi asidosis pada ibu dan janin
  4. Menstabilkan sistem kardivarkuler
  5. Mengurangi curah jantung
  6. Pada pasien preeklampsi, menghilangkan rasa nyeri dapat mencegah naiknya tekanan darah
  7. Aliran darah ke plasenta lebih baik
  8. Berkurangnya reflek mengedan pada tiap his
  9. Hipoksia janin

Komplikasi ILA/ELA:

  1. Hipotensi
  2. Bradikardi janin
  3. Kelumpuhan otot pernapasan
  4. Ancaman ruptur uteri oleh karena tidak terpantaunya pasien yang tidak merasakan nyeri
  5. Seksio sesaria akibat pengenceran yang tidak adekuat sehingga memblokade kontraksi uterus.

ILA (Intratechal Labor Analgesia)

Yaitu metode pemberian anestesi melalui spinal ke ruang sub arachnoid yang diberikan sebelum persalinan tepatnya pada saat pembukaan lebih dari 5 cm.

Metode ILA diketahui lebih cepat berefek pada nyeri karena pemberiannya melalui ruang sub arachnoid. Pada pemberian ILA, selama 15 menit pasien dipertahankan dalam posisi duduk kemudian setelah itu dapat berbaring. Efek yang diberikan oleh ILA berkisar 6 s/d 9 jam bebas nyeri selama persalinan. Biasanya 2-4 jam setelah pemberian ILA akan terjadi partus spontan.

Metode analgesik ILA diketahui sebagai metode ideal pada painless labor karena:

  1. Bebas nyeri
  2. Tidak ada blok autonom sehingga tidak menimbulkan hipotensi
  3. Tidak berefek pada janin
  4. Tidak ada blok motorik
  5. Tidak memperngaruhi proses persalinan
  6. Pasien dapat leluasa bergerak
  7. Ekonomis

LEA (Lumbal Epidural Analgesia)

Yaitu metode pemberian anestesi melalui spinal ke ruang epidural yang dapat diberikan seawal mungkin yaitu padaa saat pasien mulai merasakan nyeri.

Pada metode anastesi ini, dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit agar anestesi berpengaruh terhadap rasa nyeri. LEA lebih bersifat continuous daripada anestesi yang lainnya sehingga memungkinkan untuk dipasang sampai dengan 10 hari. Ada berbagai variasi LEA, diantaranya:

  1. CE (Continuous Epidural)
  2. PCEA (Patient Control Epidural Analgesia)
  3. CSEA (Continuous Spinal Epidural Analgesia)

Penutup

  1. LEA/ILA memberikan kenyamanan pada pasien yang sedang menghadapi persalinan dengan terbebas dari rasa nyeri, ketegangan, dan ketakutan sehingga menimbulkan ketenangan dan lebih terkoordinasi
  2. LEA/ILA memperpendek waktu persalinan pada kala pembukaan dengan relaksasi sehingga servik tidak kaku dan proses dilatasi berjalan lebih cepat
  3. LEA/ILA mencegah terjadinya distosia servikalis dan oedem serviks sehingga mengurangi angka seksio sesaria
  4. LEA/ILA dapat mencegah partus presipitatus
  5. LEA/ILA dilakukan pada persalinan spontan sehingga lebih ekonomis karena mengurangi instrumentasi.

Sumber: dr H. Ardi Pramono, Sp An, M.Kes.

La Tahzan Ukhti..

Standard

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta ma’na bagi isi jiwa. . .
Sehingga,Saat seseorang itu hilang begitu saja. . . Masih ada setangkup harapan agar dia kembali. . . Walaupun ada kata” dan sikapnya yang menyakitkan hati. . . Akan selalu ada beribu kata ma’af untuknya. . .
Masih ada beribu penantian walau tak pasti. . .
Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah yg dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. . .

Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya.
Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia”?
Masih ada sejuta asa, sejuta makna, dan masih ada pijar bintang & mentari yang akan selalu bercahaya di lubuk jiwa dengan berma’na dan bermanfa’at bagi sesama. . .

Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya. . .
Disaat yang tepat. . . Dengan seseorang yang tepat. . .
Dan pilihan yang tepat. . .

*untukmu sahabatku yang dirundung sendu dan pilu*

[Filzah Sang Perindu NurNya]

Semua orang di dunia ini pasti pernah merasakan sakit.. Entah itu dikhianati, gagal dalam berjuang, dan lainnya.. Namun tergantung bagaimana setiap orang menyikapi setiap sakit yg dirasakan. Maukah dia belajar dari pengalaman itu ataukah ia berputus asa..
Tetap semangat meski tersakiti..
Tetap tersenyum meski hati menangis..
Dan suatu saat semua orang akan tahu bahwa engkau hebat..
S E M A N G A T . . ! ! !