Monthly Archives: December 2010

Sayangi Jantung Anda, Jangan Minum Air Es Setelah Makan

Standard

Anda suka minum air dingin setelah makan? Jika iya, sebaiknya kebiasan itu segera dihentikan. Apa pasal? Menurut ilmu kedokteran, minum air dingin setelah makan akan membekukan makanan berminyak yang baru dikonsumsi.Pembekuan itu disinyalir akan memperlambat pencernaan. Sekali saja “mengendap” bereaksi dengan asam, akan merusak dan diserap usus lebih cepat dari pada makanan padat, dan akan membatasai usus. Segera setelah itu, akan menimbun menjadi lemak dan menjadi penyebab kanker.Memang, minum es terasa segar. Tapi air itu akan membekukan makanan berminyak yang kita santap, apalagi makanan berlemak. Lemak itu akan terbentuk dalam usus dan akan mengakibatkan kegemukan.Biasanya, orang yang terlalu gemuk akan mudah terserang berbagai penyakit, terutama penyakit jantung. Karenanya, setelah menyantap makanan minumlah air panas atau hangat yang akan mencairkan segala makanan berlemak sehingga mudah diserap tubuh.Terapi AirTidak selamanya air (putih) membahayakan. Jika Anda tahu kapan waktu terbaik untuk meminum air itu, manfaatnya akan sangat besar. Di Jepang, saat ini sedang popular minum air setelah bangun pagi.Test ilmiah telah membuktikan keampuhannya. Terapi air ini telah membuktikan sukses oleh kumpulan pengobatan Jepang unguk penyakit lama dan serius, termasuk penyakit modern. Sebut saja misalnya sakit kepala, sakit badan, system jantung, arthritis, detak jantung cepat, epilepsi, kelebihan berat badan, asma bronchitis, penyakit ginjal dan urin, muntah-muntah, asam lambung, diare, diabetes, susah buang air besar, semua penyakit mata, rahim, kanker, datang bulan lancar, serta penyakit telinga, hidung dan kerongkongan.Jika Anda tertarik, berikut ini metode terapi yang bisa dipraktikan :* Setelah Anda bangun pagi sebelum menggosok gigi, minum 4×160 gelas air.
* Gosok dan bersihkan mulut tetapi jangan makan ataupun minum apapun selama 45 menit.
* Setelah 45 menit Anda boleh makan dan minum seperti biasa.
* Untuk Anda yang belum dapat minum 4 gelas air pada saat memulai, bisa digantikan dengan minum sedikit air terlebih dahulu dan kemudian ditingkatkan secara berkala hingga 4 gelas perhari.

Advertisements

Penyakit Menyerang Segala Usia

Standard

Jakarta, Setiap orang pasti menginginkan tubuh yang sehat sepanjang usianya. Tapi pada usia-usia tertentu adapenyakit yang banyak menyerang masyarakat. Ini dia ancaman penyakit berdasarkan usia.

Penyakit biasanya akan menyerang seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, dan umumnya seiring bertambah usia maka kekebalan tubuh juga melemah.

Ancaman penyakit berdasarkan usia seperti dikutip dari Wrongdiagnosis.com, Kamis (16/12/2010) yaitu:

Usia remaja

  1. Umumnya remaja adalah suatu masa yang memiliki kesehatan, pertumbuhan dan kematangan yang baik.
  2. Namun sebagian besar remaja saat ini memiliki kelebihan berat badan atau obesitas yang membuatnya berisiko terkena penyakit jantung atau diabetes.
  3. Untuk kondisi seksualnya cenderung sedang berada di puncak pubertas, sehingga penyakit yang diderita kemungkinan chlamydia.
  4. Kondisi yang mencapai puncaknya saat remaja adalah jerawat, asma, alergi, penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1 dan rheumatoid arthritis. Perilaku kecemasan dan kadang muncul sejak remaja.
  5. Namun ada juga yang mengalami gangguan makan seperti bulimia atau anoreksia akibat obsesi yang berlebihan untuk menurunkan berat badan.

Usia 20-an tahun

  1. Pada usia ini, seseorang berada dalam semangat dan kegiatan yang tinggi sehingga berisiko mengalami penyakit menular seksual atau PMS (sekitar dua per tiga orang yang terkena PMS berada di bawah usia 25 tahun), kecelakaan dan cedera.
  2. Berbagai kondisi lain juga bisa mempengaruhi orang yang berusia 20-an tahun seperti migrain, skizofrenia, osteopenia (akibat gaya hidup yang sedikit aktivitas fisik) atau lupus.

Usia 30-an tahun

  1. Seiring dengan adanya perubahan pola hidup, maka saat ini beberapa penyakit seperti jantung atau diabetes bisa muncul diusia 30-an tahun.
  2. Selain itu beberapa kanker tertentu juga dapat menyerang. Pada usia ini seseorang cenderung mulai dihantui oleh gangguan kolesterol tinggi dan juga gangguan kadar gula darah.

Usia 40-an tahun

  1. Pada usia ini beberapa orang menjadi lebih rentan terkena penyakit, terutama yang memiliki hipertensi, jantung atau berbadan gemuk baik karena keturunan atau pun akibat gaya hidup.
  2. Saat berada di usia ini harus waspada terhadap penyakit degeneratif (penyakit akibat bertambahnya usia) seperti jantung koroner, kolesterol, dan asam urat.
  3. Untuk laki-laki ada beberapa penyakit yang bisa menyerang seperti kanker prostat atau kebotakan.

Usia 50 tahun ke atas

  1. Pada usia ini tingkat kesehatan cenderung sudah menurun, karenanya seseorang rentan terkena beberapa penyakit seperti artritis, osteoporosis, penyakit jantung, gangguan memori, stroke, pembesaran prostat dan juga kanker. Sebagian besar kanker terjadi pada usia ini, karena biasanya membutuhkan waktu selama 20-30 tahun hingga kanker tersebut muncul dan terdeteksi.
  2. Selain itu pada usia 50 tahun ke atas juga cenderung mengalami masalah pada gusi.

ANEMIA BERAT

Standard

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Seorang ibu hamil dapat dikategorikan enemia berat jika Hb < 7 gr%.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.

Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diit

3. Malabsorpsi

4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain

5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

GEJALA ANEMIA PADA IBU HAMIL

Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

  1. Anemia Defisiensi Besi

Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.

a.   Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).

b.   Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).

Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:

1.   Hb 11 gr% : Tidak anemia

2.   Hb 9-10 gr% : Anemia ringan

3.   Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang

4.   Hb < 7 gr% : Anemia berat

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

  1. Anemia Megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.

Pengobatannya:

a.   Asam folik 15 – 30 mg per hari

b.   Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari

c.   Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari

d.   Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

  1. Anemia Hipoplastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

  1. Anemia Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.

Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.

EFEK ANEMIA PADA PERSALINAN

Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Untuk itu tindakan bidan dalam menghadapi persalinan dengan pasien anemia berat  adalah merujuk dan meminta anggota keluarga membawa donor minimal  2 orang untuk persiapan jika diberikan tranfusi darah.

Alasan merujuk lainya:

1.   Gangguan his kekuatan mengejan

2.   Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar

3.   Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.

4.   Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH karena Atonnia Uteri

5.   Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder dan Atonia Uteri (Ilmu Kebidanan; Kandungan dan Keluarga Berencana; 1998)

Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :

a.   Abortus

b.   Kematian Interauterin

c.   Persalinan Prematuritas tinggi

d.   BBLR

e.   Kelahiran dengan anemia

f.    Terjadi cacat kongenital

g.   Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian

h.   Intelegensi yang rendah ( Ilmu Kebidanan 1994 )

Pengaruh terhadap ibu pasca persalinan :

1.   Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan ( atonia uteri )

2.   Memudahkan infeksi Puerpurium

3.   Berkurangnya pengeluaran ASI

4.   Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin

5.   Memudahkan terjadi Infeksi mamae

6.   Terjadinya Anemia kala nifas

7.   Retensio placenta

8.   Perlikaan sukar sembuh

9.   Mudah terjadi febris puerpuralis

Penatalaksanaan Ibu bersalin dengan anemia berat

  1. Pasang infuse RL 20 tetes/menit
  2. Pemberian Oksigen 3 liter/jam
  3. Hal-hal yang dipersiapkan :

Bidan

Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompoten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

Alat

Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, dll) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.

Keluarga

Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau bayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan keperluan upaya rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan/atau bayi baru lahir ke tempat rujukan.

Surat

Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu dan/atau bayi baru lahir. Lampirkan partograf kemajuan persalinan ibu pada saat rujukan.

Obat

Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke tempat rujukan. Obat-obatan mungkin akan diperlukan selama perjalanan.

Kendaraan

Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi yang cukup nyaman. Selain itu pastikan bahwa kondisi kendaraan itu cukup baik untuk mencapai tempat rujukan dalam waktu yang tepat.

Uang

Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan

Donor darah

Siapkan donor minimal 2 orang sesuai dengan golongan darah ibu untuk persiapan jika diperlukan tranfusi darah.

 

PERSALINAN LAMA

Standard

Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin, AB., 2002).
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  1. His tidak efisien (adekuat)
  2. Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
  3. Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

Tanda dan gejala partus lama, yaitu:

  1. Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada partograf.
  2. Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.
  3. Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik.
  1. Alasan Merujuk

Penanganan partus lama adalah dengan merujuk pasien yang mengalami partus lama ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawat darurat obstetric dan bayi baru lahir. Alasan mengapa partus lama perlu dirujuk, yaitu karena partus lama memiliki dampak yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi ibu, janin, atau keduanya sekaligus. Bahkan, apabila tidak dapat terdeteksi maupun tertangani dengan baik, partus lama bisa berdampak fatal, yaitu dapat menyebabkan kematian pada ibu maupun janinnya.

Dampak yang ditimbukan oleh partus lama antara lain:

  1. Infeksi Intrapartum

Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina ke dalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi persalinan lama.

  1. Ruptura Uteri

Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada ibu dengan parietas tinggi dan pada mereka dengan riwayat SC. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan ruptura. Pada kasus ini, mungkin terbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah Krista transversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simpisis dan umbilicus. Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominan segera.

  1. Cincin Retraksi Patologis

Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin local uterus pada persalianan yang berkepanjangan. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis Bandl, yaitu pembentukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini identasi abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya SBR. Konstriksi uterus local jarang dijumpai saat ini karena terlambatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi local ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam pasir (hourglass constriction) uterus setelah lahirnya kembar pertama. Pada keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anesthesia umum yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal, tetapi kadang-kadang SC yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih baik bagi kembar kedua.

  1. Pembentukan Fistula

Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke PAP, tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau retrovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan.

  1. Cidera Otot-otot Dasar Panggul

Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan fungsional dan anatomik otot, saraf, dan jaringan ikat. Efek-efek ini bisa menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul.

  1. Kaput Suksedaneum

Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yng besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostic yang serius. Kaput hampir dapat mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap.

  1. Molase kepala Janin

Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase. Biasanya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promontorium bertumpang tindih dengan tulang di sebelahnya; hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun, tulang oksipital terdorong ke bawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin, dan perdarahan intracranial pada janin.

  1. B. Cara merujuk partus lama, yaitu:
    1. Tetap memantau/ mengobservasi tanda-tanda vital ibu
    2. Tetap memantau his dan mengontrol DJJ setiap setelah his.
    3. Beri infus ibu bila kondisi ibu semakin melemah. Infus cairan:

-Larutan garam fisiologis

-Larutan glucose 5-10% pada janin pertama: 1 liter/jam

  1. Tetap memperhatikan asupan gizi ibu terutama asupan cairan.
  2. Beri Oksigen (sesuai kebutuhan) bila terjadi tanda – tanda gawat janin.
  3. Posisikan ibu untuk miring ke kiri selama merujuk.

 

Sumber :

Wiknjosastro, H. (Ed.). 2007. Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifudin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

POLIHIDRAMNION, MAKROSOMIA, DAN KEHAMILAN GANDA

Standard

POLIHIDRAMNION

Pengertian :

Polihidramnion atau disebut juga dengan hidramnion adalah keadaan dimana air ketuban melebihi 2000 ml.

Secara teori, hidramnion bisa terjadi karena :

  1. Produksi air ketuban bertambah
  2. Pengaliran air ketuban terganggu
  3. Predisposisi
  4. Penyakit jantung

Diagnosis :

  1. Anamnesis
  2. Perut terlihat sangat buncit dan tegang, kulit perut mengkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar.
  3. Ibu terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah karena kehamilannya
  4. Edema pada kedua tungkai, vulva dan abdomen. Hal ini terjadi karena kompresi terhadap sebagian besar sistem pembuluh darah balik (vena) akibat uterus yang terlalu besar
  5. Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan sesungguhnya.
  6. Bagian-bagian janin sukar dikenali.
  7. Ultrasonografi

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis polihidramnion, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

Pada Janin :

  1. Kelainan kongenital
  2. Prematuritas
  3. Letak lintang atau tali pusat menumbung
  4. Eritroblastosis
  5. Diabetes Melitus
  6. Solusio plasenta, kalau ketuban pecah tiba-tiba

Ibu :

  1. Solusio plasenta
  2. Atonia uteri
  3. Perdarahan postpartum
  4. Retensio palsenta
  5. Syok
  6. Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus jadi lama dan sukar

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : bayi lahir premature, tali pusat menumbung, syok, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

MAKROSOMIA

Pengertian :

Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari 4.000 gram.

Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya :

  1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang menderita diabetes selama kehamilan.
  2. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar (bayi giant).
  3. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar.

Tanda dan Gejala :

  1. Besar untuk usia gestasi
  2. Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion
  3. Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah
  4. Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht)

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis makrosomia, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

  1. Resiko dari trauma lahir yang tinggi jika bayi lebih besar dibandingkan panggul ibunya perdarahan intrakranial
  2. Distosia bahu
  3. Ruptur uteri
  4. Robekan perineum
  5. Fraktur anggota gerak

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : Resiko dari trauma lahir, distosia bahu, robekan perineum, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

KEHAMILAN GANDA

Pengertian :

Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.

Diagnosis :

  1. Anamnesis
  2. Tanda dan gejala : ukuran TFU melebihi dari ukuran sebenarnya
  3. Pemeriksaan USG
  4. Pemeriksaan radiologi
  5. Teraba banyak bagian besar atau kecil saat dilakukan palpasi

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis makrosomia, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

  1. Partus Prematurus
  2. Preeklampsi/eklampsi
  3. Anemia
  4. Malpresentasi
  5. Perdarahan pasca persalinan

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

  1. Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.
  2. Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : Kelahiran premature, preeklampsi/eklampsi, anemia, malpresentasi, dll.
  3. Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.
  4. Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

 

 

INFEKSI DALAM PERSALINAN

Standard

Prinsip Dasar

  • Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intraannion,amnionitis) merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion yang disebabkan oleh bakteri.
  • Sekitar 25% infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini
  • Makin lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin
  • Vagina merupakan medium kultur yang sangat baik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama kehamilan, menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi

Tanda dan Gejala

  1. Nadi cepat (110 kali/menit atau lebih
  2. Temperatur tubuh diatas 38oC
  3. Kedinginan
  4. Cairan vagina yang berbau busuk

Masalah

Infeksi intrauterine merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan perinatal

Penanganan Umum

  • Observasi jalannya persalinan dengan baik dan benar
  • Evaluasi setiap demam yang terjadi dalam periode persalinan
  • Kenali segera apabila terjadi ketuban pecah sebelum waktunya
  • Priksa dalam hanya dilakukan atas indikasi yang jelas dan ikuti jadwal evaluasi ulang menurut partograf atau waktu yang telah ditentukan sebelumnya
  • Terapkan prinsip kewaspadaan universal
  • Nilai dengan cermat setiap kasus rujukan dengan dugaan partus lama, macet atau yang bermasalah
  • Lakukan pengobatan profilaksis apabila persalinan diduga akan berlangsung lama
  • Region genetalia dan sekitarnya merupakan area dengan resiko tinggi kejidian infeksi atau merupakan tempat sumber infeksi.

Penilaian Klinik

  • Pada umumnya infeksi intra uterin merupakan infeksi yang menjalar ke atas setelah ketuban pecah. Bakteri yang potensial pathogen (anaerob, aerob) masuk ke dalam air ketuban, diantaranya ialah
  1. Streptokoki golongan B
  2. Aserikia koli
  3. Streptokoki anaerob
  4. Spesies bakteroides.

Air ketuban mengandung imonoglobulin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri di rongga amnion.

  • Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi air ketuban terutama pada kondisi gawat janin. Oleh sebab itu, sebagian besar pneumonia neonatorum dini atau sepsis, terjadi intra uterin ( terutama dengan ibu yang malnutrisi)

Penanganan

  • Tentukan penyebab demam : dehidrasi, infeksi ekstragenital (sistemik) atau melalui jalan lahir
  • Apabila dehidrasi merupakan penyebab, lakukan rehidrasi yang sesuai
  • Atasi penyebab demam dari jalur sistemik :

–          Influensa

–          Pneumonia

Antipiretika : paracetamol 3 x 500 mg

Antibiotika :

  • ampisilin + sulbaktam 3 x 375 mg
  • Amoksilin + asam klavulanat 3 x 500 mg
  • Tiamfenikol 3 x 500 mg
  • Penisilin prokain 2,4 juta IU + gentamisin 80 mg (im) 3x sehari
  • Oksigen bila sesak
  • Apendisitis

–          Konsulkan ke bagian bedah untuk konfirmasi diagnosis

–          Bila persalinan segera berlangsung dan tidak terjadi perforasi, lakukan pemberian antibiotika dan terminasi kehamilan secara pervaginam

–          Bila persalianan masih akan berlangsung hingga diatas 2x penilaian pada partograf atau diatas 6 jam dan telah terjadi perforasi, lakukan operasi bersama dengan bagian bedah.

  • Pielonefritis
  • Observasi dan nilai kemajuan proses persalinan
  • Lakukan terminasi persalinan dengan memperhatikan etiologi demam
  • Bila terjadi korioamnionitis, lihat penatalaksanaan komplikasi tersebut
  • Evaluasi kondisi janin selama proses persalinan dan lakukan tindakan pertolongan atau resusitasi pada bayi baru lahir apabila terjadi asfiksia
  • Demam selama persalinan, mungkin akan berlanjut hingga masa nifas, oleh karena itu pemantauan dan terapi untuk kasus ini harus dilanjutkan hingga penyulit tersebut dapat benar-benar diatasi.

Korioamnionitis

Prinsip dasar

  • Merupakan komplikasi yang paling serius bagi ibu dan janin
  • Dapat berlanjut menjadi septicemia atau sepsis
  • Dapat terjadi jauh sebelum persalinan memasuki fase atau malahan sebelum trimester ketiga
  • Terapi antibiotika bukan merupakan jaminan bagi keselamatan ibu dan janin

Masalah

  • Morbiditas dan mortalitas pada ibu
  • Morbiditas dan mortalitas pada janin/neonatus sangat tinggi

Penanganan Umum

  • Buat diagnosis sedini mungkin
  • Induksi atau akselerasi persalinan pada kehamilan >35 minggu
  • Upayakan persalinan berlangsung pervaginam
  • Atasi semua komplikasi pada ibu dan janin/neonatus

Penilaian Klinik

  • Antara infeksi dan partus prematurus terdapat interaksi: korioamnionitis-pembebasan prostaglandin-partus prematurus-pembukaan serviks uteri-korioamnionitis.
  • Setelah terjadi invasi mikroorganisme ke dalam cairan ketuban, janin akan terinfeksi karena janin menelan atau teraspirasi air ketuban, ditandai dengan terjadinya takhikardia (denyut jantung bayi > 160 kali per menit)
  • Sebagian besar pneumonia neonatorun dini atau sepsis neonatorum berasal dari intrauterine, terutama pada ibu dengan malnutrisi
  • Sepsis neonatorum dini menunjukkan tanda-tanda apnea, malas minum dan apatis

Penanganan

  • Lakukan segala upaya untuk menegakkan diagnosis pasti adanya korioamnionitis karena diagnosis dini, sangat menentukan prognosis penyakit.
  • Nilai kondisi kehamilan dan persalinan, bila usia bayi premature maka hal ini petanda buruk bagi kelangsungan hidupnya. Bila janin telah meninggal, risiko infeksi tertuju pada ibu dan kecenderungan untuk terminasi pervaginam, dapat membuat masalah baru
  • Tindakan seksio sesarea harus diambil melalui pertimbangan yang tepat karena kejadian sepsis sangat tinggi dalam kasus seperti ini
  • Lakukan induksi persalinan bila belum in partu dan akselerasi bila telah in partu
  • Berikan terapi antibiotika sesegera mungkin dan pilih yang memiliki spectrum yang luas

Pada prinsipnya pengobatan memakai kombinasi : ampisilin, gentamisin dan metronidazol

  • Ampisilin 3 x 1000mg
  • Gentamisin 5mg/kg BB/hari
  • Metronidazol 3 x 500mg
  • Lakukan kerjasama dengan dokter anak untuk penanggulanggan janin/neonatus
  • Perhatikan kontraksi uterus pasca persalinan untuk menghambat invasi mikroorganisme melalui sinus-sinus pembuluh darah yang terdapat pada dinding uterus.

Alasan Merujuk

  1. Infeksi intrauterine merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion
  2. Merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu
  3. Morbiditas dan mortalitas pada janin/neonatus sangat tinggi
  4. Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi air ketuban terutama pada kondisi gawat janin
  5. Dapat berlanjut menjadi septicemia atau sepsis
  6. Merupakan komplikasi yang paling serius bagi ibu dan janin
  7. Terapi antibiotika bukan merupakan jaminan bagi keselamatan ibu dan janin

Cara Merujuk

  1. Baringkan miring ke kiri
  2. Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan diberikan RL atau NS 125 cc/ jam
  3. Berikan ampisilin 2gr atau amoksisilin 2gr per oral
  4. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan kegawatdaruratan obstetric
  5. Dampingi ibu ke tempat rujukan

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL KETUBAN PECAH DINI DISERTAI MEKONIUM

Standard

Air ketuban kurang atau dalam istilah kedokteran disebut oligohidramnion dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti ketuban pecah, kehamilan lewat waktu (post-date pregnancy, post-matur pregnancy), pertumbuhan janin terhambat (gangguan perkembangan janin, berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan), dan pada kehamilan dengan cacat bawaan pada janin terutama kelainan ginjal.

Pada awal kehamilan, air ketuban (amnionic fluid, cairan amnion) dihasilkan oleh sel amnion dan merupakan hasil filtrasi dari plasma ibu melalui selaput janin, tali pusat dan plasenta. Awal trimester kedua sebagian besar berasal dari cairan ekstraseluler yang berdifusi melalui kulit janin dan merefleksikan cairan plasma janin. Setelah kehamilan 20 minggu proses kornifikasi pada kulit janin mencegah proses difusi sehingga cairan ketuban sebagian besar berasal dari urin janin, selain itu juga dari cairan paru-paru janin. Ginjal janin mulai menghasilkan urin pada usia kehamilan 12 minggu. Air ketuban juga mengandung sel-sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo, dan hasil sekresi yang lain.

Adanya air ketuban memungkinkan janin dapat bergerak dan membantu perkembangan sistem otot rangka, membantu perkembangan saluran pencernaan janin, sebagai sumber cairan dan makanan janin, memberikan tekanan pada paru-paru janin sehingga berperan dalam perkembangan paru-paru janin, melinduni janin dari trauma, mencegah tali pusat tertekan, menjaga suhu janin dan melindungi janin dari infeksi.

Jumlah air ketuban bervariasi sesuai dengan usia kehamilan. Secara umum pertambahan air ketuban 10 ml perminggu sampai usia kehamilan 8 minggu dan meningkat sampai 60 ml perminggu pada usia kehamilan 21 minggu, mulai berkurang secara bertahap pada usia kehamilan 33 minggu.

Dampak air ketuban kurang tergantung pada penyebabnya. Bila disebabkan karena ketuban pecah, dampak terhadap ibu dan janin terutama adalah peningkatan risiko infeksi, yang dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim ataupun saat bayi baru dilahirkan.

Kondisi air ketuban kurang dalam waktu lama akibat produksinya yang memang sedikit, misalnya pada janin dengan kelainan ginjal dapat menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan terutama paru-paru janin.

Risiko air ketuban kurang pada kehamilan lewat umur dapat berupa :

  1. Selama hamil : janin akan kekurangan oksigen disebabkan karena fungsi plasenta    yang telah menurun.  Secara alamiah fungsi plasenta akan menurun karena    pengaruh pertambahan usia  kehamilan, yaitu terjadi  proses pengapuran pada    plasenta sehingga  akan menganggu proses transport nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin.
  2. Selama persalinan : meningkatkan risiko asfiksia pada janin yaitu suatu kondisi    janin semakin kekurangan  oksigen, risiko trauma pada bayi disebabkan oleh    ukuran bayi yang bertambah besar (bayi lewat bulan  dapat mengalami    peningkatan berat badan tetapi ada pula yang  mengalami penurunan berat    badan  karena kekurangan makanan dan oksigen).
  1. Alasan ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental perlu dirujuk

Air ketuban yang sedikit dan dengan mekonium kental merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Selain itu lapisan Wharton’s jelly yang terdapat ditali pusat dan  berfungsi  untuk melindungi pembuluh darah yang berada di tali pusat akan semakin menipis, sehingga  risiko tali  pusat tertekan semakin besar, dan janin akan semakin kekurangan oksigen.

Bila janin kekurangan oksigen, mekonium akan keluar (kotoran janin akan keluar dari dubur) sehingga air ketuban semakin kental. Risiko kematian janin akan semakin meningkat akibat  aspirasi cairan mekonium yaitu bayi meminum cairan ketuban yang kental dan  kemungkinan akan  terhisap masuk ke  paru-paru.

Risiko terhadap ibu adalah meningkatnya risiko untuk induksi persalinan atau persalinan dengan operasi. Bayi post-matur atau bayi lewat bulan dapat dikenali dengan ditemukan beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput karena kehilangan lemak bawah kulit, kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks (lapisan seperti lemak berwarna putih) dan lanugo (rambut halus pada bayi), kulit terkelupas, warna kuning kehijauan pada kulit dan tali pusat

2. Cara yang dilakukan saat merujuk

  1. Baringkan ibu ke sisi kiri.

Hal ini dilakukan agar vena cafa inferior tidak tertekan oleh janin, sehingga pasokan oksigen ke bayi dapat terpenuhi.

  1. Berikan oksigen.

Hal ini dilakukan agar suplai oksigen terpenuhi.

  1. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin)
  2. Dengarkan DJJ
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat serta bawa partus set, kateter penghisap lendir de lee dan handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.

Air ketuban kurang atau dalam istilah kedokteran disebut oligohidramnion dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti ketuban pecah, kehamilan lewat waktu (post-date pregnancy, post-matur pregnancy), pertumbuhan janin terhambat (gangguan perkembangan janin, berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan), dan pada kehamilan dengan cacat bawaan pada janin terutama kelainan ginjal.

Pada awal kehamilan, air ketuban (amnionic fluid, cairan amnion) dihasilkan oleh sel amnion dan merupakan hasil filtrasi dari plasma ibu melalui selaput janin, tali pusat dan plasenta. Awal trimester kedua sebagian besar berasal dari cairan ekstraseluler yang berdifusi melalui kulit janin dan merefleksikan cairan plasma janin. Setelah kehamilan 20 minggu proses kornifikasi pada kulit janin mencegah proses difusi sehingga cairan ketuban sebagian besar berasal dari urin janin, selain itu juga dari cairan paru-paru janin. Ginjal janin mulai menghasilkan urin pada usia kehamilan 12 minggu. Air ketuban juga mengandung sel-sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo, dan hasil sekresi yang lain.

Adanya air ketuban memungkinkan janin dapat bergerak dan membantu perkembangan sistem otot rangka, membantu perkembangan saluran pencernaan janin, sebagai sumber cairan dan makanan janin, memberikan tekanan pada paru-paru janin sehingga berperan dalam perkembangan paru-paru janin, melinduni janin dari trauma, mencegah tali pusat tertekan, menjaga suhu janin dan melindungi janin dari infeksi.

Jumlah air ketuban bervariasi sesuai dengan usia kehamilan. Secara umum pertambahan air ketuban 10 ml perminggu sampai usia kehamilan 8 minggu dan meningkat sampai 60 ml perminggu pada usia kehamilan 21 minggu, mulai berkurang secara bertahap pada usia kehamilan 33 minggu.

Dampak air ketuban kurang tergantung pada penyebabnya. Bila disebabkan karena ketuban pecah, dampak terhadap ibu dan janin terutama adalah peningkatan risiko infeksi, yang dapat menyebabkan kematian janin dalam rahim ataupun saat bayi baru dilahirkan.

Kondisi air ketuban kurang dalam waktu lama akibat produksinya yang memang sedikit, misalnya pada janin dengan kelainan ginjal dapat menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan terutama paru-paru janin.

Risiko air ketuban kurang pada kehamilan lewat umur dapat berupa :

  1. Selama hamil : janin akan kekurangan oksigen disebabkan karena fungsi plasenta    yang telah menurun.  Secara alamiah fungsi plasenta akan menurun karena    pengaruh pertambahan usia  kehamilan, yaitu terjadi  proses pengapuran pada    plasenta sehingga  akan menganggu proses transport nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin.
  2. Selama persalinan : meningkatkan risiko asfiksia pada janin yaitu suatu kondisi    janin semakin kekurangan  oksigen, risiko trauma pada bayi disebabkan oleh    ukuran bayi yang bertambah besar (bayi lewat bulan  dapat mengalami    peningkatan berat badan tetapi ada pula yang  mengalami penurunan berat    badan  karena kekurangan makanan dan oksigen).
  1. 1. Alasan ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental perlu dirujuk

Air ketuban yang sedikit dan dengan mekonium kental merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Selain itu lapisan Wharton’s jelly yang terdapat ditali pusat dan  berfungsi  untuk melindungi pembuluh darah yang berada di tali pusat akan semakin menipis, sehingga  risiko tali  pusat tertekan semakin besar, dan janin akan semakin kekurangan oksigen.

Bila janin kekurangan oksigen, mekonium akan keluar (kotoran janin akan keluar dari dubur) sehingga air ketuban semakin kental. Risiko kematian janin akan semakin meningkat akibat  aspirasi cairan mekonium yaitu bayi meminum cairan ketuban yang kental dan  kemungkinan akan  terhisap masuk ke  paru-paru.

Risiko terhadap ibu adalah meningkatnya risiko untuk induksi persalinan atau persalinan dengan operasi. Bayi post-matur atau bayi lewat bulan dapat dikenali dengan ditemukan beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput karena kehilangan lemak bawah kulit, kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks (lapisan seperti lemak berwarna putih) dan lanugo (rambut halus pada bayi), kulit terkelupas, warna kuning kehijauan pada kulit dan tali pusat

2. Cara yang dilakukan saat merujuk

  1. Baringkan ibu ke sisi kiri.

Hal ini dilakukan agar vena cafa inferior tidak tertekan oleh janin, sehingga pasokan oksigen ke bayi dapat terpenuhi.

  1. Berikan oksigen.

Hal ini dilakukan agar suplai oksigen terpenuhi.

  1. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin)
  2. Dengarkan DJJ
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat serta bawa partus set, kateter penghisap lendir de lee dan handuk atau kain untuk mengeringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.