Monthly Archives: January 2011

SIFILIS KONGENITAL PADA IBU HAMIL

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Treponema pallidum,  yang menyerang manusia, bersifat kronis, sistemik dan dapat mengenai semua bagian tubuh, dapat bersifat laten selama bertahun-tahun, menular serta dapat diobati. Sifilis kongenital adalah sifilis yang ditularkan oleh ibu kepada janinnya secara intra uterin. Nama lainnya adalah lues connate, syphilis connata, venereal, penyakit raja singa.

Pada abad ke-15, sifilis merupakan wabah di Eropa, tapi sesudah tahun 1860, morbiditas penyakit ini menurun dengan cepat. Selama perang dunia ke II, insiden sifilis meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1946, dan setelah ditemukan penisilin menurun dengan cepat. Di Eropa dan Amerika Serikat insiden sifilis kongenital pada umumnya menurun sekitar tahun 1970 sampai awal 1980, namun dalam beberapa tahun terakhir tampak adanya peningkatan insiden sifilis kongenital. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan peningkatan insiden primer dan sekunder pada wanita usia subur yang berumur 15-29 tahun. Di samping itu, sifilis congenital merupakan penyebab 20-30% kematian bayi perinatal.2

Gambaran klinis sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini (timbul sebelum usia 2 tahun), serta sifilis kongenital lanjut (timbul setelah usia 2 tahun). Hampir semua kasus sifilis didapat melalui kontak seksual langsung dengan lesi dari individu yang terjangkit sifilis aktif primer ataupun sekunder. Sifilis dapat ditransmisikan secara kongenital dari ibu yang terinfeksi melalui plasenta ke janin. Transmisi lain yang mungkin namun jarang terjadi termasuk transfusi darah, kontak personal non seksual, inokulasi langsung yang tidak disengaja. Prinsip pengobatan sifilis kongenital adalah penggunaan penisilin sebagai obat pilihan, baik pada ibu hamil maupun pada bayi. Pengamatan pasca pengobatan pada bayi dilakukan secara bertahap, biasanya pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Definisi

Sifilis kongenital adalah penyakit yang didapatkan janin dalam uterus dari ibunya yang menderita sifilis.3 Infeksi sifilis terhadap janin dapat terjadi pada setiap stadium sifilis dan setiap masa kehamilan. Dahulu dianggap infeksi tidak dapat terjadi sebelum janin berusia 18 minggu, karena lapisan Langhans yang merupakan pertahanan janin terhadap infeksi masih belum atrofi. Tetapi ternyata dengan mikroskop elektron dapat ditemukan Treponema pallidum pada janin berusia 9-10 minggu.

Sifilis kongenital dini merupakan gejala sifilis yang muncul pada dua tahun pertama kehidupan anak, dan jika muncul setelah dua tahun pertama kehidupan anak disebut dengan sifilis kongenital lanjut.

  1. B. Epidemiologi

Sifilis terdistribusi di seluruh dunia, dan merupakan masalah yang utama pada Negara berkembang. Dilihat dari usia, kasus sifilis banyak ditemukan pada orang dengan rentang usia 20-30 tahun. Empat puluh persen wanita hamil dengan sifilis dini yang tidak diobati, akan mengakibatkan penularan pada janin.

  1. C. Etiologi

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Sshaudinn dan Hoffman ialah Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk seperti spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri empat dari delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar badan. Di luar badan kuman tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk transfuse dapat hidup tujuh puluh dua jam.

Penularan sifilis dapat melalui cara sebagai berikut :

  1. Kontak langsung :
    1. sexually tranmited diseases (STD)
    2. non-sexually
    3. Transplasental, dari ibu yang menderita sifilis ke janin yang dikandungnya.
  2. Transfusi : Syphilis d’ emblee, tanpa primer lesi
  3. D. Klasifikasi

Menurut World Health Organization (WHO) secara garis besar sifilis dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Sifilis kongenital (bawaan)

2. Sifilis akuisita (didapat)

Sifilis kongenital dapat berbentuk :

1. Sifilis kongenital dini (timbul pada umur kurang dari 2 tahun)

2. Sifilis kongenital lanjut/tarda (timbul setelah umur lebih dari 2 tahun)

E.  Patogenesis

Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada waktu persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero. Resiko sifilis kongenital berhubungan langsung dengan stadium sifilis yang diderita ibu semasa kehamilan. Lesi sifilis congenital biasanya timbul setelah 4 bulan in utero pada saat janin sudah dalam keadaan imunokompeten. Penularan inutero terjadi transplasental, sehingga dapat dijumpai Treponema pallidum pada plasenta, tali pusat, serta cairan amnion.

Treponema pallidum melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan menyebar ke seluruh jaringan. Kemudian berkembang biak dan menyebabkan respons peradangan selular yang akan merusak janin. Kelainan yang timbul dapat bersifat fatal sehingga terjadi abortus atau lahir mati atau terjadi gangguan pertumbuhan pada berbagai tingkat kehidupan intrauterine maupun ekstrauterin.

  1. F. Gambaran Klinis

Berdasarkan gambaran klinisnya, sifilis kongenital dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dini, sifilis kongenital lanjut dan stigmata. Dianggap sifilis kongenital dini jika timbul pada anak di bawah usia 2 tahun dan sifilis kongenital lanjut bila timbul di atas 2 tahun. Sigmata adalah jaringan parut atau deformitas yang terjadi akibat penyembuhan dua stadium tersebut.

  1. Sifilis kongenital dini

Gambaran klinis sifilis kongenital dini sangat bervariasi, mengenai berbagai organ dan menyerupai sifilis stadium II. Karena infeksi pada janin melalui aliran darah maka tidak dijumpai kelainan sifilis primer. Pada saat lahir bayi dapat tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu, tetapi dapat pula kelainan ada sejak lahir.

Pada bayi dapat dijumpai kelainan berupa kondisi berikut :

a. Pertumbuhan intrauterine yang terlambat

b.Kelainan membrane mukosa :

Mucous patch dapat ditemukan di bibir, mulut, farings, laring dan mukosa genital. Rinitis sifilitika (snuffles) dengan gambaran yang khas berupa cairan hidung yang mula-mula encer tetapi kemudian menjadi pekat, purulen dan hemoragik. Hidung menjadi tersumbat sehingga menyulitkan pemberian makanan.

c.  Kelainan kulit, rambut dan kuku

Dapat berupa makula eritem, papula, papuloskuamosa dan bula. Bula dapat sudah ada sejak lahir, tersebar secara simetris, terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Makula, papula atau papulomatous tersebar secara generalisata dan simetris. Di daerah yang lembab papula menjadi erosif dan membasah atau menjadi hipertrofik (kondiloma lata). Pada kasus yang berat tampak kulit menjadi keriput terutama pada daerah muka sehingga bayi tampak seperti orang tua. Rambut jarang dan kaku, alopesia areata terutama pada sisi dan belakang kepala. Alopesia dapat juga mengenai alis dan bulu mata. Onikosifilitika disebabkan oleh papula yang timbul pada dasar kuku dan menyebabkan kuku menjadi terlepas. Kuku baru yang tumbuh berwarna suram, tidak teratur dan menyempit pada bagian dasarnya.

  1. Kelainan tulang

Pada 6 bulan pertama, osteokondritis, periostitis, dan osteitis pada tulang-tulang panjang merupakan gambaran yang khas. Perubahan yang paling mencolok tampak pada daerah pertumbuhan tulang di dekat epifisis. Epifisis membesar, garis epifisis melebar dan tidak teratur. Pada batas metafisis dengan garis kartilago epifisis, tampak daerah kalsifikasi yang densitasnya meningkat dan tidak teratur sehingga pemeriksaan sinar X memberikan gambaran seperti gigi gergaji. Pseudoparalisis pada anggota gerak disebabkan oleh pembengkakan periartikular dan nyeri pada ujung-ujung tulang sehingga gerakan menjadi terbatas. Osteokondritis dapat dilihat pada pemeriksaan dengan sinar X setelah 5 minggu sedangkan periostitis setelah 16 minggu. Tanda-tanda osteokondritis menghilang setelah 6 bulan tetapi periostitis menetap dan menjadi lebih jelas.

  1. Kelainan kelenjar getah bening : terdapat limfadenopati generalisata
    1. Kelainan alat-alat dalam : hepatomegali, splenomegali, nefritis, nefrosis, pneumonia
    2. Kelainan mata : Korioretinitis, glaukoma dan uveitis
      1. Kelainan hematologi : anemia, eritroblastemia, retikulositosis, trombositopenia, diffuse intravascular coagulation (DIC)
      2. Kelainan susunan saraf pusat : meningitis sifilitika akut yang bila tidak diobati secara adekuat akan menimbulkan hidrosefalus, kejang dan mengganggu perkembangan intelektual1
      3. Sifilis kongenital lanjut

Sifilis ini biasanya timbul setelah umur 2 tahun, lebih dari setengah jumlah penderita tanpa manifestasi klinik, kecuali tes serologis yang reaktif. Titer serologis sering berfluktuasi, sehingga jika dijumpai keadaan demikian, dapat diduga suatu sifilis kongenital. Gambaran klinis dari sifilis kongenital dapat di bedakan dalam 2 tipe :4

a. Inflamasi sifilis kongenital lanjut

Pada keadaan ini yang paling pentig adalah adanya lesi kornea, tulang, dan sistem saraf

pusat. Dapat dijumpai kelainan sebagai berikut :

1. Kornea : Keratitis Intersisial

Biasanya terjadi pada umur pubertas, dan terjadi bilateral. Pada kornea timbul pengaburan menyerupai gelas disertai vaskularisasi sklera. Keadaan ini dimulai dengan peradangan perikorneal berat dan kemudian berlanjut dengan perselubungan difus kornea oleh bayangan putih tanpa adanya ulserasi pada permukaan kornea, terjadi pada 20-50 % kasus sifilis kongenital lanjut.

2. Tulang : Perisynovitis (Clutton’s joint)

Mengenai kedua lutut, yang akan mengakibatkan terjadinya bengkak tanpa nyeri yang simetris.

3. Sistem saraf pusat

Lesi pada sistem saraf pusat dapat terjadi pada sifilis kongengital lanjut. Biasanya yang menjadi tanda lesi SSP pada sifilis kongenital adalah dengan adanya kelemahan umum (generalized paresis) dan renjatan.

b. Stigmata sifilis kongenital

Lesi sifilis kongenital dini dan lanjut dapat sembuh serta meninggalkan parut dan kelainan yang khas. Parut dan kelainan demikian disebut dengan stigmata sifilis kongenital,akan tetapi  hanya sebagian penderita yang menunjukkan gambaran tersebut.Ditemukannyastigmata ini dapat menjadi salah satu pegangan unuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital.Pada stigmata sifilis  kongenital, hal penting yang perlu diperhatikan adalah adanya trias Hutchinson, yaitu :4

1. Perubahan pada gigi insisivus menjadi datar dan seperti gergaji

2. Opasitas kornea (kornea ditutupi kabut berwarna putih) tanpa ilserasi permukaan kornea.

3. Ketulian karena ganguan nervus akustikus (N.VIII). Ketulian biasanya terjadi mendekati masa pubertas, tetapi kadang-kadang terjadi pada umur pertengahan.

Selain itu ditemukan pula kelainan sebagai berikut :

1. Neurosifilis

Dapat juga menunjukkan kelainan seperti manifestasi sifilis yang didapat. Tabes dorsalis agak jarang dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan dengan sifilis yang didapat, paresis lebih sering terjadi dibandingkan pada orang dewasa. Kejang juga sering terjadi pada kasus sifilis kongenital ini.

2. Tulang dan palatum

Terjadi sklerosis, sehingga tulang kering menyerupai pedang (sabre), tulang frontal yang menonjol, atau dapat juga terjadi kerusakan akibat gumma yang menyebabkan destruksi terutama pada septum nasi atau pada palatum durum. Perforasi palatum dianggap terjadi pada sifilis kongenital.

3. Gigi molar Mulberry (Mulberry’s molar)

Biasanya pada molar I dan muncul pada usia 6 tahun, merupakan gambaran gigi yang hiperplastik dengan permukaan oklusal yang mendatar (flattening) serta diliputi oleh serbukan yang menandakan kerapuhan gigi.

4. Sifilis rinitis infantil dan nasal chondritis

Fisura di sekitar rongga mulut dan hidung disertai ragade yang disebut sifilis rinitis infantil. Nasal chondritis merupakan kelainan yang disebabkan oleh pendataran tulang pembentuk hidung, gambaran ini biasa disebut dengan saddle nose.3,4,8

  1. G. Diagnosis

Diagnosis pasti pada sifilis kongenital ditegakan dengan identifikasi T.pallidum. Selain itu, sifilis kongenital dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan antepartum dan pada bayi lahir mati. Untuk pemeriksaan pada janin dapat digunakan ultrasonografi (USG). Pada pemeriksaan USG dapat dijumpai penebalan kulit, penebalan plasenta, hepatosplenomegali dan hidramnion. Pemeriksaan ini dilengkapi dengan pemeriksaan cairan amnion untuk mencari adanya treponema. Identifikasi T. pallidum dengan pemeriksaan mikroskop lapagan gelap atau imunofluoresensi dapat dilakukan apabila dijumpai secret hidung, mucous patches, lesi vesiko bulosa atau kondiloma lata. Namun, cara konvensional untuk pengambilan specimen tidak sensitive dan merupakan prosedur invasive, sehingga sulit dilakukan dan hanya dilakukan pada bayi dengan lesi luas. Selain itu, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan identifikasi T.pallidum sulit dilakukan untuk menegakkan diagnosis sifilis kongenital, yaitu :

a) T.pallidum bersifat tidak dapat dibiakkan dan sulit ditemukan pada spesmen klinis

b) Analisis serologic pada bayi rumit oleh adanya antibody maternal yang didapat transplasental

c) Sebagian besar bayi sakit yang hidup tidak menunjukkan adanya tanda infeksi

Untuk menegakkan diagnosis klinis sifilis kongenital, saat ini di AS digunakan dua criteria, yaitu kriteria dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang direvisi dan kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

1)      Kriteria Kaufman yang dimodifikasi.

  • Pasti (definite)

Dijumpai T.pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pemeriksaan histologik

  • Sangat Mungkin (probable)

1. Peningkatan titer VDRL dalam waktu 3 bulan atau tes serologic untuk sifilis (TSS) reaktif yang tidak berubah menjadi non reaktif dalam waktu 4 bulan

2. Satu kriteria mayor atau dua minor dan disertai TSS reaktif atau tes FTA reaktif

3. Satu kriteria mayor dan satu kriteria minor

  • Kriteria mayor berupa kondiloma lata, osteokondritis, periostitis, rhinitis, rhinitis hemoragik
  • Kriteria minor berupa fisura pada bibir, lesi kulit, mucous patch, hepatomegali,splenomegali, limfadenopati generalisata, kelainan SSP, anemia hemolitik, sel cairan serebrospinal (CSS) >20, protein >100.2

2)      Kriteria CDC yang di revisi

  • Pasti (confirmed)

Diijumpai T. Pallidum pada pemeriksaan mikroskop lapangan gelap

  • Tersangka (presumtive)

1. Semua bayi yang ibunya menderita sifilis tanpa pengobatan atau mendapat pengobatan tidak adekuat selama kehamilan

2.  Semua bayi dengan TSS reaktif dan satu dari keadaan di bawah ini :

– Gambaran sifilis kongenital pada pemeriksaan fisik

– VDRL CSS reaktif/ hitung sel CSS ≥ 5/protein CSS ≥ 50 diluar sebab lain.

– Tes FTA-abs-19S-antibodi IgM reaktif

3.  Bayi lahir mati (syphilitic stillbirth)

Kematian janin setelah umur kehamilan 20 minggu atau berat janin ≥500 gram pada wanita yang menderita sifilis tanpa pengobatan atau memperoleh pengobatan tidak adekuat saat melahirkan.

  1. H. Penatalaksanaan

Pengobatan sifilis kongenital terbagi menjadi pengobatan pada ibu hamil dan pengobatan pada bayi. Penisilin masih tetap merupakan obat pilihan untuk pengobatan sifilis, baik sifilis didapat maupun sifilis kongenital. Pada wanita hamil, tetrasiklin dan doksisiklin merupakan kontraindikasi. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap. Pengobatan sifilis pada kehamilan di bagi menjadi tiga, yaitu :

1) Sifilis dini (primer, sekunder, dan laten dini tidak lebih dri 2 tahun).

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit satu kali suntikan IM, atau penisilin G prokain dalamaquadest 600.000 unit IM selama 10 hari.

2) Sifilis lanjut (lebih dari 2 tahun, sifilis laten yang tidak diketahui lama

infgeksi, sifilis kardiovaskular, sifilis lanjut benigna, kecuali neurosifilis)

Benzatin penisilin G 2,4 juta unit, IM setiap minggu, selama 3 x berturut-turut, atau dengan penisilin G prokain 600.000 unit IM setiap hari selama 21 hari.

3) Neurosifilis

Bezidin penisilin 6-9 MU selama 3-4 minggu. Selanjutnya dianjurkan pemberian benzil penisilin 2-4 MU secara IV setiap 4 jam selama 10 hari yang diikuti pemberian penisilin long acting, yaitu pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu, atau penisilin G prokain 2,4 juta unit IM + prebenesid 4 x 500 mg/hari selama 10 hari yang diikuti pemberian benzatin penisilin G 2,4 juta unit IM sekali seminggu selama 3 minggu.

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi pada pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998. pengobatan harus diberikan pada bayi :

a) Menderita sifillis kongenital yang sesuai dengan gambaran klinik, laboratorium dan/radiologik,

b) Mempunyai titer test nontreponema ≥ 4 kali dibanding ibunya

c) Dilahirkan oleh ibu yang pengobatannya sebelum melahirkan tidak tercatat, tidak

diketahui, tidak adekuat atau terjadi ≤ 30 hari sebelum persalinan.

d) Dilahirkan oleh ibu seronegatif yang diduga menderita sifilis

e) Titer pemeriksaan nontreponema meningkat ≥ 4 kali selama pengamatan.

f) Hasil tes treponema tetap reaktif sampai anak berusia 15 bulan, atau

g) Mempunyai antibodi spesifik IgM antitreponema.

Selain itu, juga dipertimbangkan pengobatan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita sifilis dan diobati selama kehamilannya namun bayi tersebut selanjutnya tidak bisa diamati.  Pengobatan sifilis kongenital tidak boleh ditunda dengan alasan menunggu diagnosis pasti secara klinis atau serologik. Dengan pengobatan dengan Aqueous penisilin bergantung usia bayi. Pada usia ≤ 1 minggu, diberikan tipa 12 jam, usia 1 minggu – ≤ 4 minggu diberikan tiap 8 jam, dan setelah usia 4 minggu diberikan tipa 6 jam.2

  1. 1. Pengobatan sifilis kongenital menurut CDC tahun 1998
  • Bayi dengan sifilis kongenital, ibu dengan/ tanpa sifilis

Penisilin G prokain 50.000 unit/kgBB IM/IV selama 10-14 hari.

  • Bayi normal

a)      Ibu sifilis dini dan/atau tanpa terapi atau terapi tidak tercatat diberikan :

Aqueous penisilin G 50.000 unit/kgBB IV selama 10-14 hari, atau penisilin

prokain G 50.000 unit/kgBB IM, 10-14 hari usia (usia ≤ 4 minggu), atau

benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

b)      Ibu sifilis laten lanjut, atau

c)      Ibu mendapat terapi eritromosin atau obat selain penilin, atau

d)     Ibu mendapat terapi adekuat ≤ 4 minggu sebelum persalinan, atau

e)      Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer non treponema tidak

turun 4 kali lipat, diberikan : Benzatin penisilin 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal

f)       Ibu mendapat terapi adekuat > 1 bulan sebelum persalinan, titer nontreponema turun 4 kali lipat, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologik, atau benzatin penisilin G 50.000 unit/kgBB IM, dosis tunggal bila pengamatan tidak memungkinkan

g) Ibu mendapat terapi adekuat sebelum kehamilan dan titer stabil (VDRL≤ 1:2) selama kehamilan, dilakukan : Pengamatan klinis dan serologic. Menurut CDC 1998, diluar masa neonatus, anak yang didiagnosis sifilis congenital harus diperiksa CSS untuk menyingkirkan neurosifilis dan menentukan sifilis congenital atau sifilis didapat. Semua anak yang diduga menderita sifilis kongenital atau dengan kelainan neurologik diberikan aqueous penisiline G 50.000 unit/kgBB IV/IM tiap 4-6 jam selama 10-14 hari. Pemberian penisilin prokain tidak dianjurkan.

  1. 2. Pengobatan alternatif untuk pasien alergi penisilin

Bila alergi terhadap penisilin, sebagai obat alternatif diberikan obat tetrasiklin dan eritromisin. Tetapi efektifitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan penisilin. Penggunaan sefriakson pada wanita hamil belum ada data yang lengkap.

  1. 3. Pemeriksaan Setelah Pengobatan

Pemeriksaan penderita sifilis dini harus dilakukan, bila terjadi infeksi ulang setelah pengobatan. Setelah pemberian penisilin G, maka setiap pasien harus diperiksa 3 bulan kemudian untuk penentuan hasil pengobatan. Pengalaman menunjukkan bahwa infeksi ulang sering terjadi pada tahun pertama setelah pengobatan. Evaluasi kedua dilakukan 6-12 bulan setelah pengobatan. Penderita yang diberi pengobatan selain penisilin harus lebih sering diperiksa.

a. Semua penderita sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis harus diamati bertahun-tahun,termasuk klinis, serologis dan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang dan bila perlu radiologis.

b.  Pada semua tingkat sifilis, pengobatan ulang diberikan bila :

a)  tanda-tanda dan gejala klinis menunjukkan sifilis aktif yang persisten atauberulang.

b) Terjadi kenaikan titer tes nontreponemal lebih dari dua kali pengenceran ganda.

c) Pada mulanya tes nontreponemal dengan titer tinggi (> 1/8) persisten bertahuntahun.

d) Harus dilakukan pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang setelah diberi pengobatan, kecuali ada infeksi ulang atau diagnosis sifilis dini dapat ditegakkan.

e) penderita harus diberi pengobatan ulang terhadap sifilis yang lebih dari 2 tahun. Pada umumnya hanya sekali pengobatan ulang dilakukan sebab pengobatan yang cukup pada penderita akan stabil dengan titer rendah.9

  1. I. Diagnosis Banding

Diagnosis banding pada sifilis kongenital antara lain sebagai berikut :

1. Iktiosis lamellar

Kelainan ini berisfat autosomal resesif, timbul pada waktu lahir. Lokalisasinya lipatan tubuh, batang tubuh dan monomorf. Efloresensinya sisik-sisik besar datar dan bewarna gelap.

2. Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS)

Lesi kulit menyeluruh, bula eritematosa, ukuran cukup besar, superficial, dan mudah pecah. Seringkali dijumpai pada bayi. Pada penyembuhan tampak jaringan parut, hal ini disebabkan oleh peran epidermolytic toxin, cleavage plane dalam stratum granulosum sehingga terjadi pengumpulan cairan dalam bula secara pasif.

3. Staphylococcal scarlatiniform eruption

Lesi kulit menyeluruh, berupa macula eritematosa di sekitar bibir, hidung, leher, dan aksila. Kemudian menyebar ke seluruh badan namun

4. Toxic shock syndrome

Kelainan kulit berupa eritroderma yang menyeluruh dapat berbentuk komponen petekie maupun skarlatiform.

5. Malnutrisi (Marasmik-kwashiorkor)

Pada keadaan malnutrisi ini, pada kulit dapat ditemukan hiperpigmentasi, likenifikas, deskuamasi, eskoriasi, dan edema. Pada mukosa mulut timbul erosi, rambut halus, lurus, mudah di lepas, dan muka seperti orang tua.

6. Morbili kongenital

Adanya bercak koplik, yakni bercak kecil sebesar jarum pentul berwarna kemerahan terletak di daerah mukosa di depan gigi molar, ruam berwarna kecoklatan. Di daerah muka, leher, dan bagian tubuh sebelah atas ruam tampak bersatu, sedangkan di tubuhbagian bawah ruam  menyebar

7. Dermatitis seboroik

Karakteristik lesi adanya sisik, kemerahan dengan daerah predileksi muka, kulit kepala dan lipatan kulit, skuamanya berminyak, berwarna kekuningan dengan batas tidak tegas

8. Infantile acne (acne neonatorum)

Secara klinis, akne neonatorum merupakan erupsi polimorf dengan eritema, pustule,

komedo pada pipi13,14,15

  1. J. Pencegahan

Sifilis kongenital adalah penyakit yang dapat dicegah, yaitu melalui deteksi sifilis selama kehamilan. Tindakan utama pada pencegahan sifilis kongenital adalah identifikasi dan pengobatan wanita hamil yang teriinfeksi sifilis, karena pengobatan sifilis pada kehamilan dengan menggunakan penisilin dapat mencegah infeksi kongenital sampai 98%. Tes serologi (VDRL dan TPHA) harus dilakukan pada perawatan kehamilan (prenatal care), yaitu saat kunjungan pertama, sedangkan pada kelompok risiko tinggi, dilakukan pada pemeriksaan ulang pada usia kehamilan 28 minggu dan saat persalinan. Apabila dijumpai hasil tes seropositif, harus diberikan pengobatan. Namun, kehamilan kadang menimbulkan tes nontreponema positif palsu, dan pada keadaan seperti ini dilakukan anamnesis yang rinci, pemeriksaan fisik cermat dan pengamatan serologik. Bila tidak memungkinkan, diberikan terapi, terutama bila titer pada pemeriksaan VDRL > 1:2 pada pemeriksaan pertama.

Bayi dengan test serologik reaktif perlu dilakukan pemeriksaan nontreponema beberapa kali setelah pengobatan sampai diperoleh hasil nonreaktif. Biasanya dilakukan pada usia 2, 4, 6, 12 dan 15 bulan. Pada bayi dengan sifilis kongenital, tes serologik nontreponema biasanya menjadi nonreaktif dalam waktu 12 bulan setelah terapi adekuat. Adanya tes treponema reaktif setelah anak berusia lebih dari 15 bulan, saat anak sudah tidak memiliki antibody maternal, membantu menegakkan diagnosis sifilis kongenital. Hasil serologik CSS yang reaktif 6 bulan setelah terapi sifilis kongenital, merupakan indikasi pengobatan ulang, demikian pula bila titer menetap.

  1. k. Prognosis

Prognosis sifilis kongenital bergantung periode munculnya gejala, kerusakan yang terjadi, dan penatalaksanaan. Semakin dini gejala muncul, semakin banyak jaringan yang rusak dan penatalaksanaan yang kurang tepat maka akan semakin buruk prognosisnya. Kelainan yang ditimbulkan stigmata sifilis kongenital akan menetap, misalnya gigi huchinton, keratitis interstitial, ketulian nervus VIII, dan Clutton’s joint. Meskipun telah diobati, tetapi pada 70% kasus ternyata tes reagin tetap positif.

 

BAB III

Asuhan Kebidanan Pada ibu Hamil dengan Sífilis Kongenital

DATA SUBJEKTIF

Seorang ibu hamil dengan umur kehamilan 28 minggu hamil anak pertama , mengeluh flu, seperti demam dan pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan .Ibu mengatakan suaminya menderita sífilis serta belum teratasi .Ibu merasa cemas jika ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tidak mengetahui aktivitas suaminya diluar rumah. Ibu khawatir suaminya sering ‘jajan‘ mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.

DATA OBJEKTIF

1. pemeriksaan fisik

  1. Keadaan umum           : baik               kesadaran        : CM
  2. Status emosional         : stabil
  3. Tanda vital                  :

Tekanan Darah            : 120/90 mmhg

Suhu                            : 37,5 ˚C

Nadi                            : 88 x/menit

Pernafasan                   : 22x/menit

d.  BB/TB                         : 55kg/ 150cm

e. Status Gizi                     :

IMT                             : 55/(1,5)2 = 24,4

LILA                           : 24 cm

e.  Genetalia                      : luka kemerahan dan basah didaerah vagina

f.  Ekstrimitas                    : ruam ditelapak kaki dan tangan

ASSESMENT

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny ‘S’ umur 25 tahun G1P0Ab0Ah0 UK : 28 minggu dengan sífilis kongenital

  1. Masalah

Ibu mengatakan cemas bila ibu dan bayi yang dikandungnya tertular sífilis kongenital.

  1. Kebutuhan

– KIE tentang penyakit sifilis  kongenital dalam kehamilan.

– KIE cara penularan sifilis dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

  1. Diagnosa potensial

Ibu hamil dengan asma berpotensi terjadi kerusakan kulit,hati,limpa, dan keterbelakangan mental pada bayi.

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Kebutuhan Tindakan Segera Berdasarkan Kondisi Klien
    1. Mandiri

Tidak dilakukan

  1. Kolaborasi

Pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS

c. Merujuk

Merujuk ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

PLANNING

  1. Menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang dirasakannya yaitu :flu, demam, pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan merupakan tanda- tanda sifilis

Ibu memahami bahwa keluhan yang dialaminya adalah gejala- gejala sifilis.

  1. Menganjurkan dan menjelaskan pada ibu tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman dengan mengganti alat tenun yang kotor.

Ibu memahami tentang teknik relaksasi, pengurangan rasa nyeri dan menciptakan lingkungan yang nyaman.

3. Menganjurkan ibu untuk banyak minum, memakai pakaian yang tipis dan longgar ,dan melakukan kompres apabila demam dengan menggunakan air hangat di dahi dan lengan.

Ibu mengerti dan bersedia untuk melaksanakan anjuran bidan.

4. Menganjurkan ibu untuk melibatkan keluarga dalam perawatan agar ibu mendapatkan support dan dukungan dari keluarga sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Ibu mengerti dan keluarga bersedia untuk terlibat dalam proses pengobatan dan perawatan ibu.

5.  Menganjurkan ibu dan suami untuk tidak berganti- ganti pasangan karena hal ini dapat menyebabkan penyakit menular seksual dan dapat menyebabkan penyebaran dari penyakit menular seksual menjadi lebih luas.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia untuk tidak berganti- ganti pasangan begitu juga dengan suami.

6.  Menjelaskan pada ibu tentang teknik pengurangan rasa nyeri yaitu dengan pengompresan dengan air hangst pada daerah yang nyeri, dan meminimalisir terjadinya sentuhan atu gesekan pada daerah yang yang nyeri.

Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia melaksanakan

  1. Menjelaskan pada ibu bahwa sifilis bisa menimbulkan komplikasi pada ibu dan bayi sehingga ibu harus menjaga kondisinya agar tidak terjadi komplikasi.

Ibu memahami penjelasan bidan dan akan selalu menjaga kondisinya.

  1. Menganjurkan ibu untuk pemeriksaan laboratorium di laboratorium ‘CITO’ untuk pemeriksaan kimia darah, ureum,kreatinin,GDS.

Ibu bersedia melakukan pemeriksaan laboratorium di Laboratorium ‘CITO’

  1. Merujuk ibu ke dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

Ibu bersedia dirujuk ked dr. Ahsanudin SpOg bagian kebidanan Rumah Sakit dr. Sarjito untuk pengobatan dan penanganan lebih lanjut.

10.  Menjelaskan kepada ibu untuk kunjungan ulang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia datang satu bulan lagi atau jika ada keluhan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

–                Murtiastuti D. Sifilis. Dalam : Barakbah J, Lumintang H,Martodhiharjo S, editor. BukuAjar Infeksi Menular Seksual. Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press. 2008.145-148.

–                Webmaster. Trepronema Pallidum. Disitasi dari :http://www.medgadget.com/_archives/img/treponema.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Webmaster. Shypilis. Disitasi dari : http://www.uveitis.org/images/syphil1.htm pada tanggal : 18 Februari 2009. Last Update : Januari 2009.

–                Department of Health and Human Services of USA. Congenital Shypilis – United State 2002. Disitasi dari :http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5331a4.htm pada tanggal :18 Februari 2009. Last Update : July 2008.

–                Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.

 

Advertisements

TBC PADA IBU HAMIL

Standard

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.

Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.

Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya.

Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sakit sekitar dada.

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat dianosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil bila diobati dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jarang dijumpai TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena dirawat atau disusui oleh ibunya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. DEFINISI

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon, sedangkan batuk darah (hemoptisis) adalah salah satu manifestasi yang diakibatkannya. Darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi.

  1. B. PENULARAN TUBERKULOSIS

Sumber penularana penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.

Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 – 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS.

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer selama 4 – 6 minggu.            Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis antara lain hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas, kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial, bronkiectasis dan fibrosis pada paru, pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit.Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai menjadi kronik yang tetap menular (WHO 1996).
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Gejala umum tuberculosis antara lain batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.Gejala lain yang sering dijumpai antara lain dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

  1. C. TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN
    1. 1. Efek tuberculosis terhadap kehamilan

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150 diantaranya adalah pengidap TB paru .

Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB.

Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB.

Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Pada awal abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.

Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi.

Harold Oster MD,2007 mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih tetap ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.

  1. 2. Efek tuberculosis terhadap janin

Menurut Oster,2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999  tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 )

Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.

  1. 3. Tes Diagnosis TB pada Kehamilan

Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung,tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap.

Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun). Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan,murah dan cukup reliable.

Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. Jadi, pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya, tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif, tapi kelemahannya sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB, melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi), pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?), serta uji tuberkulin.

Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi anergi.

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama, foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan, terutama jika hasil BTA-nya negatif.

  1. 4. Penatalaksanaan medis pada Kehamilan dengan TB

Regimen yang sama direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB maupun wanita non hamil dengan TB kecuali streptomycin. penggunaanPyrazinamide dalam kehamilan masih menjadi perdebatan.

  1. 5. Peran Perawat dalam Kehamilan dengan TB

Dalam perawatan pasien hamil dengan TB perawat harus mampu memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya, tentang pengobatan yang diberikan dan efek sampingnya, serta hal yang mungkin terjadi jika penyakit TB tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat. Pasien dan keluarga harus tahu system pelayanan pengobatan TB sehingga pasien tidak mengalami drop out selama pengobatan dimana keluarga berperan sebagai pengawas minum obat bagi pasien. Pemantuan kesehatan ibu dan janin harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi akibat TB.

Perbaikan status nutrisi ibu dan pencegahan anemia sangat penting dilakukan untuk mencegah keparahan TB dan meminimalkan efek yang timbul terhadap janin.

Pendidikan tentang sanitasi lingkungan pada keluarga dan pasien penting diberikan untuk menghindari penyebaran penyakit lebih luas.

BAB III

ASUHAN KEBIDANAN

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu

hamil dengan penyakit TBCdi RSUD Wirosaban

DATA SUBJEKTIF

Ny. Deswari (30 tahun) mengatakan hamil ke-2, umur kehamilan 30 minggu,

HPMT  13 September 2009

Keluhan utama ;

  • Ibu mengeluh batuk terus hingga sesak napas, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun,susah tidur dan panas
  • Ibu mengatakan pernah menderita TBC ketika masih SMA dan dalam keluarga satu rumah sedang ada yang menderita TBC.

DATA OBJEKTIF

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum agak lemah, batuk,

BB     : 50 kg

LILA : 22,5 cm

Tanda Vital:

TD                   : 110/70 mmHg

S                      : 36ºC

N                     : 84 x/menit

RR                   : 22 x/ menit

Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun

·Inspeksi : Adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah

·Palpasi : Fremitus suara meningkat .

·Perkusi: Suara ketok redup.

·Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring

Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 yang mengeras

Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun

Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang meyenangkan

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

· Darah

sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif.

· Sputum

Ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru

· Test Tuberkulosis

Mantoux test positif

ASSESMENT

  1. Diagnosis kebidanan

Ny “D” umur 30 tahun G2P1Ab0Ah1 UK 30 minggu hamil dengan penyakit TBC

  1. Masalah

Ibu merasa cemas dengan kehamilannya

  1. Kebutuhan

KIE tentang TBC dalam kehamilan

  1. Diagnosis potensial

Berpotensi terjadinya hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah), kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

  1. Masalah potensial

Tidak ada

  1. Tindakan
  2. Mandiri

Tidak ada

  1. Kolaborasi

Kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru

  1. Rujukan

Tidak ada

PENATALAKSANAAN

  1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami TBC dalam kehamilan.

Ibu sudah mengetahui tentang keadaannya

  1. Menjelaskan kepada ibu tentang TBC dalam kehamilan

Ibu mengerti dan paham dengan penjelasan yang diberikan

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru
  2. Memberikan obat INH, PAS, rifadin dan streptomisin

Ibu telah diberi obat

  1. Memberitahu ibu untuk selalu rutin dan taat minum obat

Ibu bersedia untuk rutin minum obat

  1. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat, makan yang teratur dan minum obat sesuai anjuran

Ibu bersedia mengikuti saran yang diberikan

  1. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

Ibu bersedia untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan

BAB IV

PENUTUP

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan. Karena prevalensi TBC paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1% wanita hamil menderita TB paru. Menurut Prawirohardjo dan Soemarno (1954), frekuensi bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya, dapat diperkirakan penyakit ini juga mengalami peningkatan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang wanita hamil yang menderita TB paru di Indonesia yaitu 1,6%. Dengan disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya

 

DAFTAR PUSTAKA

http://keperawatan-gun.com/2008/06/askep-ibu-hamil-dengan-tbc.html

http://lorenatazo.com/2009/12/ibu-hamil-dengan-penyakit-tbc.html

http://lely-nursinginfo.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis.html

 

“aku ada untuk menjagamu”

Standard

Sendiri tanpa dirimu

yang sepi tanpa hadirmu

menahan hasrat merindu

ingin bertemu dalam pelukan..

 

kucoba buang semua

sepi yang hinggap di jiwa

namun ku tak sanggup untuk

menahan rasa ingin bertemu..

 

Datanglah kasih,dengan senyumu..

lepaskan semua rindu,yang lama membelenggumu..

menangislah kasih,dalam pelukku..

rasakan hari ini,aku ada untuk menjagamu..

 

apakah ragumu itu…??

gambaran kekecewaan..??

sedetik sejuk jiwamu..

waktu tak pasti kembali menanti..

 

bersabarlah kasih,dengan senyumu..

simpanlah semua rindu,yang lama membelenggumu..

menangislah kasih,dalam doamu..

rasakan hari ini,aku slalu ada menjagamu..

 

by: my boo..

Surat Untuk Firman

Standard

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

health update

Standard

Zinc Berpotensi Sebagai Arteroprotektor (17-12-2010)Kalbe.co.id – Para peneliti telah menemukan bahwa zinc dapat menurunkan perkembangan arterosklerosis akibat hiperkolesterolemia secara bermakna. Studi pada hewan dengan menggunakan kelinci yang dilakukan oleh Andrew Jenner menemukan bahwa hewan kelinci yang mendapatkan diet tinggi kolesterol dan mendapatkan suplemen zinc 1 g/kg selama 8 minggu memiliki akumulasi kolesterol total pada dinding arteri yang lebih kecil dibandingkan dengan kelinci yang mendapatkan diet tinggi kolesterol tanpa suplemen zinc. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa pemberian suplemen zinc menurunkan produk oksidasi kolesterol pada aorta dan plasma.link : http://www.kalbe.co.id/

Kadar Asam Folat Plasma Yang Rendah Berhubungan Dengan Penurunan Fungsi Pendengaran (15-12-2010)Kalbe.co.id – Saat ini, penurunan kemampuan pendengaran diketahui terjadi pada sekitar 28 juta orang Amerika yang berusia antara 60 sampai 74 tahun. Meskipun prevalensinya tinggi, namun pengetahuan tentang hal itu belum diketahui dengan jelas. Suatu studi yang dilakukan para peneliti di Nigeria, melihat adanya hubungan asam folat dengan gangguan hilangnya pendengaran, khususnya pada orang lanjut usia. Penelitian ini melibatkan 126 pria dan wanita Nigeria yang berusia lebih dari 60 tahun, dimana ditemukan kadar serum asam folat dan vitamin B12 yang rendah dan secara cukup bermakna dihubungkan dengan frekwensi yang cukup tinggi terhadap hilangnya pendengaran ini.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20896/kadar-asam-folat-plasma-yang-rendah-berhubungan-dengan-penurunan-fungsi-pendengaran.html

Efek Jangka Panjang Aspirin Terhadap Insiden dan Mortalitas Akibat Kanker Kolorektal (14-12-2010)Kalbe.co.id – Hingga kini, pemberian aspirin jangka panjang telah diketahui dapat mengurangi insiden kanker kolorektal. Namun permasalahannya adalah, dosis yang diketahui memberikan manfaat tersebut umumnya dosis tinggi (= 500 mg) yang terbatas pemberiannyan hanya dalam jangka waktu singkat karena efek samping. Sedangkan efektifitas / manfaat aspirin dosis rendah (75 – 300 mg/hari) jangka panjang, yang umumnya diberikan pada pasien penyakit kardiovaskular, terhadap penurunan insiden kanker kolorektal belum diketahui.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20895/efek-jangka-panjang-aspirin-terhadap-insiden-dan-mortalitas-akibat-kanker-kolorektal.html

Testosteron Meningkatkan Masa dan Kekuatan Otot Pada Manula (31-12-2010)Kalbe.co.id – Hormon testosteron telah cukup lama diketahui berhubungan dengan peningkatan lean body mass(berat badan tanpa lemak) dan terutama peningkatan anabolisme otot dan kekuatan otot. Suatu penelitian terdahulu (tahun 2002) mengungkapkan bahwa pemberian testosteron dosis pengganti pada pria dengan hipogonadisme sehat berhubungan dengan peningkatan volume otot.link : http://www.kalbe.co.id/health-news/20915/testosteron-meningkatkan-masa-dan-kekuatan-otot-pada-manula.html

Pil Kontrasepsi tak Pengaruhi Kadar Insulin (28-12-2010)Kalbe.co.id – Para peneliti menemukan bahwa mereka yang menjalani DMPA, kadar glukosanya meningkat cukup stabil selama 30 bulan dengan peningkatan terbesar pada enam bulan pertama. “Memang diperlukan penelitian lebih lanjut guna menentukan bagaimana perempuan penderita diabetes terpengaruh oleh DMPA atau alat kontrasepsi lainnya, tapi setidaknya hasil penelitian ini meyakinkan hasil bahwa perempuan nondiabetes tidak akan terpengaruh oleh alat kontrasepsi,” kata Dr Abbey Berenson, profesor dari Department Obstetri dan Kandungan serta Direktur Pusat Penelitian Interdisipliner Women’s Health. Studi ini akan dipublikasikan pada Januari 2011 dalam jurnal Obstetrics and Gynaecology.link : http://www.kalbe.co.id/health-news/20907/pil-kontrasepsi-tak-pengaruhi-kadar-insulin.html

Jahe (Zingiber officinale) Bermanfaat Untuk Mengatasi Nyeri Otot (28-12-2010)Kalbe.co.id – Pengobatan tradisional cina selama bertahun-tahun belum mengenal ginger/jahe (Zingiber officinale) sebagai anti-nyeri. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan jahe mungkin memiliki efek anti-inflamasi dan analgesik yang sama dengan obat NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drugs).link : http://www.kalbe.co.id/health-news/20905/jahe-zingiber-officinale-bermanfaat-untuk-mengatasi-nyeri-otot.html

Vitamin D Mengurangi Risiko Gagal Jantung (31-12-2010)Kalbe.co.id – Pada penelitian di tikus, terungkap bukti bahwa vitamin D yang aktif dapat melindungi tikus dari gagal jantung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Simpson ddk. ini pernah diterbitkan di Journal of Cardiovascular Pharmacology. Pada penelitian ini, pengobatan dengan vitamin D aktif mencegah sel otot jantung untuk dapat tumbuh lebih besar lagi, yang secara klinis dikenal dengan istilah hipertrofi, dimana jantung menjadi membesar. Pengobatan vitamin D ini mencegah sel otot jantung terstimulasi secara berlebihan dan meningkat kontraksinya yang berkaitan dengan berkembangnya gagal jantung. Suplementasi vitamin D juga mempengaruhi sitokin yang dimodulasi oleh sistem imun dan untuk dapat mencapai ini diperlukan dosis vitamin D yang lebih besar.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20914/vitamin-d-mengurangi-risiko-gagal-jantung.html

Piracetam Memperbaiki Perfusi Jaringan Otak Pasca Benturan Kepala (31-12-2010)Kalbe.co.id – PCS (Post Concussion Syndrome) menurut definisi dari WHO adalah adanya riwat trauma kepala yang disertai dengan hilangnya kesadaran dan onset dari gejala PCS ini maksimum terjadi setelah 4 minggu dengan tiga atau lebih dari gejala dari: nyeri kepala, pusing, malaise, fatigue, intoleransi terhadap kebisingan, iritabilitas, depresi, kecemasan, labilitas dalam emosi, gangguan konsentrasi, gangguan memori, insomnia, penurunan toleransi terhadap alkohol, dan hipokondria ketakutan akan adanya kerusakan otak. Dari data yang ada menunjukkan bahwa lebih dari 60% pasien yang mengalami trauma kepala mengalami PCS ini. Pada PCS ini belum diketahui secara pasti patofisiologinya namun diperkirakan adanya gangguan (abnormalitas) perfusi jaringan otak yang sampai saat ini banyak para ahli bedah saraf hanya memberikan analgesik dan antivertigo.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20913/piracetam-memperbaiki-perfusi-jaringan-otak-pasca-benturan-kepala.html

Citicoline Bermanfaat Dalam Memperbaiki Fungsi Kognitif (30-12-2010)Kalbe.co.id – Acetylcholine merupakan neurotransmiter yang mempunyai peran yang penting dalam fungsi memori, baik “working memory” maupun “reference memory”, penurunan neurotransmiter khususnya acetylcholine saat ini dipercaya sebagai salah satu penyebab terjadinya penurunan fungsi kognitif ataupun memori seperti demensia tipe Alzheimer yang utama ditandai dengan hilangnya memori dan disfungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif ini secara teoritis dapat diperbaiki dengan pemberian obat-obat kolinomimetik.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20912/citicoline-bermanfaat-dalam-memperbaiki-fungsi-kognitif.html

Nyeri Neuropatik Diabetikum. Vitamin B12 Mungkin Lebih Baik Daripada Nortriptyline. (30-12-2010)Kalbe.co.id – Nyeri neuropatik merupakan nyeri yang diakibatkan karena kerusakan baik pada sarat sentral maupun perifer. Nyeri ini menjadi hal yang merugikan dikarenakan nyeri neuropatik biasanya bersifat kronik, dengan derajat nyeri yang kebanyakan adalah berat, biasanya resisten terhadap pemberian NSAIDs. Nyeri neuropatik sendiri diperkirakan mengenai sekitar 2% – 3% dari populasi. Secara patofisiologi nyeri neuropatik ini tidak dapat diterangkan dengan satu model ataupun satu proses penyakit yang spesifik pada lokasi tertentu. Dan secara umum nyeri neuropatik ini dapat sebagai neuropatik perifer maupun sentral, maupun campuran baik sentral maupun perifer.Dan salah satu nyeri neuropatik yang sering diketemukan adanya nyeri neuropatik pada pasien-pasien DM.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20911/nyeri-neuropatik-diabetikum-vitamin-b12-mungkin-lebih-baik-daripada-nortriptyline.html

Perlindungan Omega-3 pada Risiko Endometriosis (29-12-2010)Kalbe.co.id – Keadaan endometriosis merupakan hal yang umum dalam gangguan ginekologi, namun seringkali hal ini menyulitkan serta masih menjadi teka teki, yang mempunyai beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi. Konsumsi minyak ikan berkaitan dengan perbaikan gejala-gejala terhadap wanita yang mengalami dismenore primer, dan dapat menurunkan risiko endometriosis pada studi binatang coba secara transplantasi.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20909/perlindungan-omega-3-pada-risiko-endometriosis.html

Amlodipine Memperbaiki Resistensi Insulin (29-12-2010)Kalbe.co.id – Resistensi insulin (IR) dengan konsekuensi terjadinya hiperinsulinemia mempunyai peran sentral terhadap  patogenesis dari berbagai penyakit termasuk diabetes mellitus (DM), hipertensi, obesitas dan dislipidemia dan secara umum IR ini diterima sebagai salah satu sebagai faktor risiko independen terhadap terjadinya aterosklerosis. Faktor genetik dan lingkungan diketahui merupakan penyebab terjadinya resistensi insulin, dan dari studi yang ada, sitokin proinflamsi TNF-alfa turut berkontribusi dalam hal ini terutama pada subyek yang obes (kegemukan) dengan cara penghambatan aktivitas enzim tyrosine kinase pada reseptor insulin. Fosforilasi pada reseptor insulin oleh TNF-alfa merupakan bagian penting untuk mengikat insulin dengan reseptornya, hal in juga akan menurunkan aktivitas dari transporter glukosa. Sedangkan komponen lainnya yang turut berkontribusi adalah leptin.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20910/amlodipine-memperbaiki-resistensi-insulin.html

Bardoxolone Memperbaiki Fungsi Ginjal Pasien PGK (28-12-2010)Kalbe.co.id – Bardoxolone terbukti efektif memperbaiki fungsi ginjal dan bahkan dapat memutar-balikkan progresivitas penyakit ginjal pada pasien-pasien PGK. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Pablo E. Pergola dan rekan dari the University of Texas Health Science Center di San Antonio, Texas, Amerika Serikat dan telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Nephrology yang ke-43.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20908/bardoxolone-memperbaiki-fungsi-ginjal-pasien-pgk.html

Vitamin D Rendah Meningkatkan Kejadian Depresi (27-12-2010)Kalbe.co.id – Seperti diketahui keadaan depresi dapat mempunyai hubungan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah dan secara hipotesis diketahui bahwa defisiensi vitamin D berhubungan dengan depresi dan memberikan faktor kontribusi terhadap kejadian jantung dan pembuluh darah, sehingga para peneliti yang dipimpin oleh Dr. May dari Amerika mengevaluasi hubungan vitamin D dengan insidensi depresi diantara populasi dengan gangguan Kardiovaskular.  Penelitian ini telah dipublikasi di  jurnal  American Journal of  Heart  edisi  bulan Juni 2010.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20904/vitamin-d-rendah-meningkatkan-kejadian-depresi.html

Donepezil Dosis Tinggi Memberikan Efek Lebih Baik (27-12-2010)Kalbe.co.id – FDA (Food and Drug Administration) telah memberikan persetujuan untuk digunakannya donepezil HCl 23-mg sebagai  terapi bagi pasien-pasien penderita Alzheimer, dengan dosis sekali sehari. Persetujuan yang diberikan oleh FDA ini dilakukan berdasarkan data-data penelitian terkini, yang memperlihatkan bahwa donepazil 23 mg sekali sehari memberikan perbaikan fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan dosis 10 mg pada pasien-pasien Alzheimer.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20903/donepezil-dosis-tinggi-memberikan-efek-lebih-baik.html

Vitamin B6 Menurunkan Peradangan Pada Penyakit Artritis Reumatoid (23-12-2010)Kalbe.co.id – Sebuah studi yang baru saja dipublikasikan mencoba melihat efek pemberian vitamin B6 pada pasien dengan reumatoid athtritis (RA). Reumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun inflamasi dimana sistem imun menyerang permukaan sendi sinovial. The Arthritis Foundation melaporkan sebanyak 1,3 juta penduduk Amerika menderita RA. Onset penyakit ini umumnya pada usia menengah dan lebih sering menyerang wanita 2,5 kali dibandingkan pria. Gejala RA umumnya timbul nyeri simetris pada kedua sendi yang simetris dan bengkak, sering menyerang sendi-sendi kecil seperti tangan, pergelangan, dan kaki.link : http://www.kalbe.co.id/health-news/20901/vitamin-b6-menurunkan-peradangan-pada-penyakit-artritis-reumatoid.html

Sertraline Bermanfaat untuk Mengatasi Ejakulasi Prematur (23-12-2010)Kalbe.co.id – Dari studi eksperimental dan studi klinis menunjukkan adanya beberapa neurotransmiter yang berkontribusi sebagai mediator penting dalam terjadinya ejakulasi. Pada hewan coba (tikus) adanya neurotransmiter dopaminergik dan serotoninergik memainkan peran dalam fungsi seksual laki-laki. Dan terbaru, studi pada manusia memberikan bukti tambahan untuk peran mekanisme serotonergik dalam menghambat dan menunda ejakulasi. Sertaline yang merupakan penghambat re-uptake neurotransmiter serotonine yang kuat secara teoritis dapat digunakan untuk gangguan ejakulasi dan ejakulasi dini.link : http://www.kalbe.co.id/doctor-news/20900/sertraline-bermanfaat-untuk-mengatasi-ejakulasi-prematur.html

“Memaafkan”- Tindakan Yang Mampu Meningkatkan Fungsi Sistem Kekebalan Tubuh (27-05-2011)
Kalbe.co.id – Apakah memaafkan dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang cukup bermanfaat untuk meningkatkan fungsi kekebalan pada orang dengan status kekebalan terganggu?. Sebuah studi baru yang dilakukan pada orang HIV menunjukkan individu yang benar-benar memaafkan seseorang yang telah menyakiti mereka di masa lalu menunjukkan perubahan positif dalam status kekebalan tubuh mereka. Penelitian ini disajikan pada pertemuan tahunan dan sesi ilmiah ke-32, dari Society of Behavioral Medicine tahun 2011.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21257/memaafkan-tindakan-yang-mampu-meningkatkan-fungsi-sistem-kekebalan-tubuh.htmlPenggunaan Antibiotik Mungkin Sedikit Meningkatkan Risiko Asthma pada Anak (25-05-2011)
Kalbe.co.id – Paparan antibiotik sebelum lahir atau pada anak usia dini sedikit dapat meningkatkan risiko untuk asma anak kemudian, hal ini menurut hasil peninjauan secara sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics tahun 2011 ini. “Peningkatan prevalensi asma anak telah dikaitkan dengan rendahnya paparan mikroba seperti yang dijelaskan oleh hipotesis kebersihan (hygiene hypothesis),” tulis William Murk MPH.dan rekan, dari Center for Perinatal, Pediatric dan Epidemiologi Lingkungan, Yale University School of Public Health di New Haven, Connecticut “. Bukti adanya hubungan yang benar antara penggunaan antibiotik dan asma anak lebih lanjut akan mendukung pengurangan resep antibiotik yang tidak perlu selama kehamilan dan pada awal kehidupan dan menambahkan dukungan untuk hipotesis kebersihan (hygiene hypothesis).”
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21250/penggunaan-antibiotik-mungkin-sedikit-meningkatkan-risiko-asthma-pada-anak.htmlCoenzym Q10 dapat Mencegah Serangan Migraine (24-05-2011)
Kalbe.co.id – Coenzyme Q10 dapat mencegah serangan migren. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter S. Sandor dan rekan dari neurology department at University Hospitals in Zurich, Swiss. Hasil penelitian ini juga telah dipresentasikan dalam salah satu kesempatan di American Academy of Neurology Annual Meeting.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21245/coenzym-q10-dapat-mencegah-serangan-migraine.htmlKonsumsi Omega-3 Selama Kehamilan Menurunkan Risiko Depresi Pasca Melahirkan (24-05-2011)
Kalbe.co.id – Dengan mengkonsumsi asam lemak omega 3 docosahexaenoic acid (DHA) selama kehamilan akan menurunkan risiko untuk mengalami gejala-gejala depresi pasca persalinan (Post partum depression, PPD), hal ini terungkap dari hasil studi yang dipresentasikan dalam  Experimental Biology Annual Meeting di Washington dikatakan bahwa wanita hamil yang mengkonsumsi kapsul minyak ikan yang mengandung DHA memperlihatkan penurunan skor rerata depresi secara konsisten hingga 6 poin setelah persalinan.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21244/konsumsi-omega-3-selama-kehamilan-menurunkan-risiko-depresi-pasca-melahirkan.html

Studi Hewan Coba – Polifenol Anggur Merah Mencegah Penyumbatan Ulang Pembuluh darah Jantung. (23-05-2011)
Kalbe.co.id – Polifenol, yang terdapat dalam anggur merah, suatu hari diperkirakan dapat digunakan sebagai salah satu bahan anti-restenosis untuk obat-obat DES (Drug-Eluting Stents). Kesimpulan ini merupakan hasil sebuah penelitian pre-klinik yang dilakukan oleh Jim Kleinedler dan rekan dari Louisiana State University Health Sciences Center, Shreveport, LA, Amerika Serikat dan dipresentasikan pada sesi ilmuah  the American Heart Association Arteriosclerosis, Thrombosis and Vascular Biology 2011.Penelitian-penelitian mengenai polifenol yang pernah dilakukan sebelumnya memperlihatkan bahwa resveratrol, salah satu polifenol alami yang terdapat dalam kulit anggur dan dalam konsentrasi tinggi dalam anggur merah, dapat mengurangi restenosis, memacu re-endotelialisasi, dan mengurangi aktifasi sel inflamasi pada hewan. Selain itu resveratrol terbukti memiliki efek antioksidan dan antiapoptosis. Bersamaan dengan kemampuannya sebagai anti inflamasi, resveratrol diperkirakan memiliki ef
ek kardioproteksi, menghambat aggregrasi trombosit, serta memiliki efek vasorelaksasi. Resveratrol melindungi sel endotel pembuluh darah dari stres oksidatif yang disebabkan oxLDL dengan menghambat aktivitas NOX (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate oxidase) dan menghambat ROS (Reactive Oxygen Species).
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21238/studi-hewan-coba-polifenol-anggur-merah-mencegah-penyumbatan-ulang-pembuluh-darah-jantung.html

Ikan Laut Dalam yang Dipanggang Menurunkan Risiko Gagal Jantung pada Wanita Usia Lanjut (03-06-2011)

Kalbe.co.id – Konsumsi ikan laut dalam yang dikukus atau panggang seperti salmon, sebanyak lima kali dalam seminggu dapat mencegah gagal jantung pada wanita lebih tua, sedangkan mengkonsumsi ikan goreng yang hanya sekali dalam seminggu dapat meningkatkan risiko ini, hal ini terungkap dari sebuah laporan studi klinis yang berdasarkan 10 tahun follow up  dari subyek sebanyak lebih dari 84.000 wanita menopause yang berpartisipasi dalam Women’s Health Initiative – Observasional Study (WHI-OS).

Penggunaan Pembersih Lidah dan Obat Kumur Mencegah dan Mengurangi Halitosis (01-06-2011)
Kalbe.co.id – Penggunaan pembersih lidah dan obat kumur sangat efektif dalam mengurangi halitosis, hal ini terungkap dari materi yang disampaikan oleh Profesor Satoshi Shizukuishi, DDS,PhD dalam Kongres PDGI XXIV dan Seminar Ilmiah 2011 dengan judul: Etiology, Diagnosis, and Management of Oral Malodor, yang diselenggarakan di hotel Discovery Kartika Plaza (Kuta, Bali) pada tanggal 30 Maret – 2 April 2011.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21276/penggunaan-pembersih-lidah-dan-obat-kumur-mencegah-dan-mengurangi-halitosis.html

Vitamin B12 Bermanfaat untuk Mengurangi Nyeri dan Memperpendek Serangan Stomatitis Aptosa Rekurens (31-05-2011)
Kalbe.co.id – Stomatitis aftosa rekuren (RAS) merupakan salah satu lesi mukosa rongga mulut yang paling sering ditangani pada pusat kesehatan primer. Frekuensi RAS pada masyarakat umum mencapai 25%, dan tingkat kekambuhan dalam 3 bulan sebesar 50%. Pada sebagian besar pasien, penyebab RAS tidak diketahui. Faktor predisposisi yang paling sering mencetuskan RAS adalah trauma lokal dan stres. Faktor lainnya adalah penyakit sistemik, defisiensi zat gizi, alergi makanan, predisposisi genetik, kelainan imunitas, akibat obat-obatan, dan infeksi HIV. RAS dapat juga merupakan tanda dari penyakit sistemik. Dan dikarenakan tidakdiketahui dengan apsti dari mekanisme terjadinya RAS ini maka sampai saat penegakan diagnosis hanya berdasarkan anamnesis dan kriteria klinis.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21267/vitamin-b12-bermanfaat-untuk-mengurangi-nyeri-dan-memperpendek-serangan-stomatitis-aptosa-rekurens.html

Kombinasi Omega-3 dan Vitamin E Memberikan Manfaat pada Anak dengan Verbal Apraksia (31-05-2011)
Kalbe.co.id – Verbal apraksia adalah gangguan bicara yang umum ditemukan pada keadaan austisme dan sekitar 50% dari anak austisme mempunyai gangguan verbal apraxia ini. Verbal apraksia merupakan gangguan neurologis yang didasari adanya motor planning speech disorder. Kekurangan/ defisiensi vitamin E menyebabkan gejala yang sering ditemukan pada keadaan verbal apraxia. Selain itu asam lemak rantai panjang tak jenuh (Polyunsaturated fatty acids- PUFA) pada membran sel lebih mudah dirusak oleh proses oksidasi menjadi peroksidasi lemak dan hal ini lebih mudah jika tidak adanya vitamin E tidak siap dipakai yang berfungsi sebagai antioksidan, sehingga berpotensi untuk menimbulkan kerusakan/ gejala sisa pada persarafan (neurological sequele).
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21266/kombinasi-omega-3-dan-vitamin-e-memberikan-manfaat-pada-anak-dengan-verbal-apraksia.html

Konsumsi Kopi dan Risiko Kanker Prostat (31-05-2011)
Kalbe.co.id – Kopi mengandung banyak senyawa biologis aktif, termasuk kafein dan asam fenolat, yang memiliki aktivitas antioksidan poten serta dapat memengaruhi metabolisme glukosa dan kadar hormon seks. Karena adanya aktivitas-aktivitas biologis ini, konsumsi kopi dapat terkait dengan penurunan risiko kanker prostat.
link : http://www.kalbe.co.id/health-news/21271/konsumsi-kopi-dan-risiko-kanker-prostat.html

Posisi Oksiput Posterio Persisten dan Infeksi Persalinan

Standard

POSISI OKSIPUT POSTERIO PERSISTEN
A. PENGERTIAN
Pada persalinan letak belakang kepala, dimana tidak memutarnya ubunubun
kecil ke arah jam 12, namun tetap berada di belakang yaitu pada arah jam 6.
B. SEBAB ATAU MEKANISME
1. Sering dijumpai pada panggul anthropoid, endroid dan kesempitan
midpelvis
2. Letak punggung janin dorsoposterior
3. Putar paksi salah satu tidak berlangsung, pada:
a. Perut gantung
b. Janin kecil atau janin mati
c. Arkus pubis sangat luas
d. Dolichocephali
e. Panggul sempit
C. TANDA DAN GEJALA
UUK pada pemeriksaan dalam teraba di belakang, putar paksi terhalang atau
tidak terjadi.
D. PENANGANAN
Pada posisi oksiput posterior persistens masih ada kemungkinan janin lahir
spontan yaitu ubunubun
besar berada di bawah simpisis, terjadi hiperfleksi
untuk melahirkan belakang kepala melewati perineum, kemudian menjadi
defleksi untuk melahirkan muka di bawah simpisis.
Pada pimpinan persalinan:
1. Sabar menunggu, karena ada harapan UUK akan memutar ke depan dan
janin akan lahir spontan.
2. Ibu berbaring miring ke arah punggung janin.
3. Bila ada indikasi dan syarat telah terpenuhi, dilakukan ekstraksi forsep,
ada 2 cara:
a. menurut Scanzoni
b. menarik saja dengan UUK di belakang

INFEKSI DALAM PERSALIANAN
A. PENGERTIAN
Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intraannion,amnionitis)
merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion
yang disebabkan oleh bakteri.
Sekitar 25% infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini. Makin
lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko
morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Vagina merupakan medium kultur
yang sangat baik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama
kehamilan, menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi
B. SEBAB ATAU MEKANISME
Pada umumnya infeksi intra uterin merupakan infeksi yang menjalar ke atas
setelah ketuban pecah. Bakteri yang potensial pathogen (anaerob, aerob)
masuk ke dalam air ketuban, diantaranya ialah
1. Streptokoki golongan B
2. Aserikia koli
3. Streptokoki anaerob
4. Spesies bakteroides.
Air ketuban mengandung imonoglobulin yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri di rongga amnion.
Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi
air ketuban terutama pada kondisi gawat janin. Oleh sebab itu, sebagian besar
pneumonia neonatorum dini atau sepsis, terjadi intra uterin (terutama dengan
ibu yang malnutrisi).
C. TANDA DAN GEJALA
1. Nadi cepat (110 kali/menit atau lebih
2. Temperatur tubuh diatas 38oC
3. Kedinginan
4. Cairan vagina yang berbau busuk
D. PENANGANAN
1. Baringkan miring ke kiri
2. Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
diberikan RL atau NS 125 cc/ jam
3. Berikan ampisilin 2gr atau amoksisilin 2gr per oral
4. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan
kegawatdaruratan obstetric
5. Dampingi ibu ke tempat rujukan

PRE EKLAMPSI DAN EKLAMSI

Standard

A. PENGERTIAN
Preeklampsia
dan eklampsi merupakan kumpulan gejala yang timbul pada
ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi,
proteinuri, dan edema; yang kadangkadang
disertai konvulsi sampai koma.
(Sinopsis Obtetri Jilid 1)
Preeklampsi
dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Preeklampsi
ringan
2. Preeklampsi
berat
B. SEBAB ATAU MEKANISME
Apa yang menyebabkan preeklampsi
dan eklampsi sampai sekarang belum
diketahui. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan sebab dari
kelainan tersebut, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of
theory. Adapun teoriteori
tersebut antara lain:
1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada Preeklamsi dan Eklampsi didapatkan kerusakan pada endotel
vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang
pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin dan plasmin. Trombin
akan mengkonsumsi antitrombin III, sehingga terjadi deposit fibrin.
Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan
serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
2. Peran Faktor Imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul
lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada
kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen
placenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan
berikutnya.
Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya
sistem imun pada penderita PEE:
a. Beberapa wanita dengan PEE
mempunyai komplek imun dalam
serum.
b. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem
komplemen pada PEE
diikuti dengan proteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pendapat
menyebutkan bahwa sistem imun humoral dan aktivasi komplemen
terjadi pada PEE,
tetapi tidak ada bukti bahwa sistem imunologi bisa
menyebabkan PEE.
3. Peran Faktor Genetik atau Familial
Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian
PEE
antara lain:
a. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
b. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi PEE
pada
anakanak
dari ibu yang menderita PEE.
c. Kecendrungan meningkatnya frekwensi PEE
pada anak dan cucu
ibu hamil dengan riwayat PEE
dan bukan pada ipar mereka.
Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis PEE.
Vasokonstriksi
menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi.
Adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel
setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel, kebocoran arteriole disertai
perdarahan mikro pada tempat endotel. Selain itu Hubel (1989) mengatakan
bahwa adanya vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya
penurunan perfusi uteroplasenter yang selanjutnya akan menimbulkan
maladaptasi plasenta. Hipoksia/ anoksia jaringan merupakan sumber reaksi
hiperoksidase lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu sendiri memerlukan
peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan mengganggu
metabolisme di dalam sel Peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase
lemak tak jenuh yang menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase
lemak merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase
terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan, maka akan timbul
keadaan yang disebut stess oksidatif.
Pada PEE
serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi
sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil normal,
serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan
sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam aliran
darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai kesemua
komponen sel yang dilewati termasuk selsel
endotel yang akan
mengakibatkan rusaknya selsel
endotel tersebut. Rusaknya selsel
endotel
tersebut akan mengakibatkan antara lain:
1. adhesi dan agregasi trombosit.
2. gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma.
3. terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin
4. sebagai akibat dari rusaknya trombosit
5. produksi prostasiklin terhenti.
6. terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan.
7. terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase
lemak.
C. TANDA DAN GEJALA
Preeklampsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut:
1. Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi
berbaring terlentang, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau
kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurangkurangnya
pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam,
sebaiknya 6 jam.
2. Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat badan 1
kg atau lebih per minggu.
3. Proteinuria kuantitatif 0,3 gr atau lebih per liter; kualitatif 1+ atau 2 +
pada kateter atau midstream dalam 24 jam.
Preeklampsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut:
1. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
2. Proteinuria 5 gr atau lebih per liter atau 4+ dalam 24 jam.
3. Oligouria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
4. Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di
epigastrum.
5. Terdapat edema paru dan sianosis
Gejalagejala
eklampsi
Biasanya didahului oleh gejala dan tanda preeklampsi berat. Serangkaian
eklampsi dibagi menjadi 4 tingkat:
1. Stadium invasi (awal atau aurora)
Mata terpaku dan terbuka tanpa melihat, kelopak mata dan tangan
bergetar, kepala dipalingkan ke kanan atau ke kiri. Stadium ini
berlangsung kirakira
30 detik.
2. Stadium kejang tonik
3. Stadium kejang klonik
4. Stadium koma
D. PENATALAKSANAAN
1. Baringkan ibu miring ke kiri.
2. Pasang infuse RL dengan tetesan 60125
cc/jam menggunakan jarum
berdiameter besar ( ukuran 16 atau 18 )
3. Berikan magnesium sulfat dengan syarat reflek patella (+) dan frekuensi
nafas lebih 16 kali/menit. Dosis awal 4 gr MgSO4 ( 20% dalam 20 cc )
selama 20 menit. Diikuti segera 10 gr MgSO4 50% ( 5gr pada bokong
kiri dan kanan )
4. Segera merujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan
penatalaksanaan gawatdarurat obstetric dan bayi baru lahir. Dan
mendampingi ibu ke tempat rujukan.
POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN
A. PENGERTIAN
Pada persalinan letak belakang kepala, dimana tidak memutarnya ubunubun
kecil ke arah jam 12, namun tetap berada di belakang yaitu pada arah jam 6.
B. SEBAB ATAU MEKANISME
1. Sering dijumpai pada panggul anthropoid, endroid dan kesempitan
midpelvis
2. Letak punggung janin dorsoposterior
3. Putar paksi salah satu tidak berlangsung, pada:
a. Perut gantung
b. Janin kecil atau janin mati
c. Arkus pubis sangat luas
d. Dolichocephali
e. Panggul sempit
C. TANDA DAN GEJALA
UUK pada pemeriksaan dalam teraba di belakang, putar paksi terhalang atau
tidak terjadi.
D. PENANGANAN
Pada posisi oksiput posterior persistens masih ada kemungkinan janin lahir
spontan yaitu ubunubun
besar berada di bawah simpisis, terjadi hiperfleksi
untuk melahirkan belakang kepala melewati perineum, kemudian menjadi
defleksi untuk melahirkan muka di bawah simpisis.
Pada pimpinan persalinan:
1. Sabar menunggu, karena ada harapan UUK akan memutar ke depan dan
janin akan lahir spontan.
2. Ibu berbaring miring ke arah punggung janin.
3. Bila ada indikasi dan syarat telah terpenuhi, dilakukan ekstraksi forsep,
ada 2 cara:
a. menurut Scanzoni
b. menarik saja dengan UUK di belakang
INFEKSI DALAM PERSALIANAN
A. PENGERTIAN
Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intraannion,amnionitis)
merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion
yang disebabkan oleh bakteri.
Sekitar 25% infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini. Makin
lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko
morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Vagina merupakan medium kultur
yang sangat baik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama
kehamilan, menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi
B. SEBAB ATAU MEKANISME
Pada umumnya infeksi intra uterin merupakan infeksi yang menjalar ke atas
setelah ketuban pecah. Bakteri yang potensial pathogen (anaerob, aerob)
masuk ke dalam air ketuban, diantaranya ialah
1. Streptokoki golongan B
2. Aserikia koli
3. Streptokoki anaerob
4. Spesies bakteroides.
Air ketuban mengandung imonoglobulin yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri di rongga amnion.
Apabila terjadi korioamnionitis, janin terinfeksi akibat menelan atau aspirasi
air ketuban terutama pada kondisi gawat janin. Oleh sebab itu, sebagian besar
pneumonia neonatorum dini atau sepsis, terjadi intra uterin (terutama dengan
ibu yang malnutrisi).
C. TANDA DAN GEJALA
1. Nadi cepat (110 kali/menit atau lebih
2. Temperatur tubuh diatas 38oC
3. Kedinginan
4. Cairan vagina yang berbau busuk
D. PENANGANAN
1. Baringkan miring ke kiri
2. Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
diberikan RL atau NS 125 cc/ jam
3. Berikan ampisilin 2gr atau amoksisilin 2gr per oral
4. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan asuhan
kegawatdaruratan obstetric
5. Dampingi ibu ke tempat rujukan