Wanita, dengan segala kelembutan, kerapuhan, dan kelemahannya. Wanita adalah orang yang disebut sebagai salah satu penyebab terjadinya kiamat. Wanita hanya disebut nomor dua setelah seorang laki-laki. Wanita hanya menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak nya dan tidak berhak untuk mengembangkan karir dan imajinasinya. Wanita yang selalu berada di belakang kaum laki-laki. Wanita yang selalu dituduh mementingkan dan mengedepankan perasaan daripada akal pikirannya dalam memutuskan suatu perkara. Wanita..
Wahai kaum wanita, jangan bersedih dengan segala dugaan dan sebutan yang selalu melekat di dirimu. Jangan lah kau bersedih, karena sesungguhnya wanita berhak mendapatkan perlakuan yang baik dari kaum laki-laki.
“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah, saudara saudara laki laki dan lainnya untuk menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, berbuat baik terhadap mereka , tidak mendzalimi mereka dan senantiasa memberikan ha-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam, “Berbuat baiklah kepada wanita.”
Dan jangan bersedih wahai kaum wanita karena anggapan yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang kurang akal dan agamanya. Tenanglah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Adil. Wanita diciptakan dengan segala kerumitan yang ada di dalam dirinya. Segala keindahan yang tercipta ada di dalamnya. Keindahan dalam sebuah siklus kehidupan wanita. Bayi, remaja, menikah, hamil, melahirkan, menopause, dan klimakterium. Sungguh fase yang panjang . Dari fase itu lah mengapa wanita dianggap lemah dalam agamanya, karena di dalam masa haid dan nifas ia meninggalkan shalat dan puasa dan tidak mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkannya selama haid atau nifas. Inilah yang dimaksud kekurangan agamanya. Akan tetapi kekurangan ini tidak menjadikannya berdosa, karena kekurangan tersebut terjadi berdasarkan aturan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia-lah yang memberikan ketetapan hukum seperti itu sebagai wujud belas kasih kepada mereka dan untuk memberikan kemudahan kepada mereka. Sebab, jika wanita harus puasa di saat haid dan nifas, maka hal itu akan membahayakannya. Maka karena rahmat Allah atas mereka, Dia tetapkan agar mereka meninggalkan puasa di saat haidh dan nifas, kemudian mengqadhanya bila telah suci.
Sedangkan tentang shalat, di saat haid akan selalu ada hal yang menghalangi kesucian. Maka dengan rahmat dan belas kasih Allah subhanahu wa ta’ala Dia menetapkan bagi wanita yang sedang haidh agar tidak mengerjakan shalat dan demikian pula di saat nifas, Allah juga menetapkan bahwa ia tidak perlu pengqadhanya sebab akan menimbulkan kesulitan berat karena shalat berulang-ulang dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, sedangkan haidh kadang-kadang sampai beberapa hari — sampai tujuh–delapan hari bahkan kadang kadang lebih– sedangkan nifas, kadang kadang mencapai 40 hari. Adalah rahmat dan karunia Allah kepada wanita, Dia menggugurkan kewajiban shalat dan qadhanya dari mereka.
Dari kurang atau lemah dalam agamanya, wanita juga dianggap kurang dalam akalnya. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan bahwa kekurangan akal wanita itu dilihat dari sudut ingatan yang lemah, maka dari itu kesaksiannya harus dikuatkan oleh kesaksian seorang wanita yang lain untuk menguatkannya, karena boleh jadi ia lupa, lalu memberikan kesaksian lebih dari yang sebenarnya atau kurang darinya, sebagaimana firman Allah,
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang orang lelaki diantaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.” (Qs. Al-Baqarah: 282)
Wahai kaum wanita, jangan lah menganggap diri hanya bisa berpangku tangan dalam kehidupan ini, menunggu setiap keputusan dibuat, mengikuti nya, dan melaksanakannya. Tanpa tahu bagaimana cara memutuskan nya. Bangkitlah wahai saudaraku, jangan melihat diri sebagai kaum yang lemah dan pengikut.
Bangkitlah untuk kemaslakhatan umat. Bangkitlah dan bergegaslah. Carilah ilmu setinggi-tinggi nya yang ingin kau dapat, carilah dengan segenap kekuatan dan kemampuanmu. Jadilah wanita yang kokoh dan tegar dalam menghadapi pedih dan peliknya kehidupanmu. Jadilah wanita yang cerdas, cermat, sigap, tanggap, kreatif tapi tetap penyanyang dan penyabar. Jadilah wanita yang peduli, menebar kebaikan dimana berpijak, menuai manfaat dimana berdiam. Jadilah wanita yang amanah akan segala tanggung jawab yang diembankan. Jadilah seorang anak yang sholihah, yang birul walidhain. Jadilah istri yang taat dan berbakti kepada suami. Jadilah ibu yang penyabar dan pendidik yang hebat untuk anak-anakmu kelak. Wanita..kau sangat istimewa, jangan bersedih wahai saudariku.
Karena wanita juga mempunyai hak yang sama dalam amalan. Allah menyamakan antara keduanya, Dia berfirman :
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.”(An-Nisa’: 124)

referensi : http://www.muslimah.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s