Wahai sang pendengar,berbahagialah kamu karena kau punya kelebihan. Kau selalu bisa mendengar apa yang ingin mereka perdengarkan padamu. Kau selalu mempunyai ruang dan waktu hanya untuk mendengarkan sesuatu yang mungkin tidak ada hubungannya dengan dirimu. Kau bahkan selalu ingin tahu, meski itu berujung pada ketidaktahuan. Kau dapati suka dari mereka, kau dapati juga susah dari mereka, bahkan tak jarang, kau dapati keluh dan kesah serta makian dari mereka. Apakah kau marah? Apakah kau jera? Jawabmu selalu tidak, karena kau ingin jadi pendengar yang baik, ingin mereka mendapati susah menjadi senang, kecewa menjadi bahagia, mempunyai masalah menjadi bersolusi. Kau sangat ingin mereka tersenyum. Sungguh betapa mulia niatmu.
Tapi aq tahu perasaanmu, sungguh aku tahu. Kau diam-diam menyembunyikan segala perasaanmu,menyembunyikan segala kesedihan dan kelelahanmu, menutupi amarah dan emosimu, mengubur keinginan didengarkan, didengarkan atas segala apa yang menimpa dirimu, sama seperti halnya mereka yang menceritakannya padamu. Tak satu pun orang tahu. Tak satu pun orang peduli tentang hal itu. Meski kau sudah berusaha menceritakannya pada mereka. Tapi sungguh sayang, tak kau dapati seperti yang kau inginkan. Sehingga, hatimu menjadi pilu, di wajah tersenyum tapi di hati teriris. Sungguh ironi. Kau hanya bisa mengeluhkan itu semua dalam tangisan di sepertiga dinginnya malam. Kau tanamkan kepercayaan bahwa Dia-lah yang Maha Segalanya. Kau adukan semua keluh kesahmu yang tak pernah didengarkan oleh mereka kepada-Nya. Kau tengadahkan kedua tangan dan memulai untuk berdoa. Berharap mereka tahu apa yang kau rasakan.
Kau sungguh pemalu, begitu pula dengan perasaanmu. Kau tutupi semua dengan sikap acuhmu. Kau sembunyikan dalam lubang hati yang paling dalam. Hanya di sisi-sisi tak terjamah kau adukan semua yang kau rasakan. Perasaan yang sangat dalam sampai-sampai orang yang kau taruh rasa itu, tidak pernah tahu dan tidak merasakan perasaan dalam hatimu. Mungkin hanya dirimu dan Alloh yang tahu. Ingin rasanya kau sampaikan rasa itu padanya. Tapi apa daya rasa malu mu mengalahkan keberanian itu. Sehingga membuatmu rapuh, membuatmu lemah, dan bahkan tersiksa. Kau merasa kalah. Kau merasa tak pantas karena kau merasa kau bukan pilihannya dan tak akan pernah menjadi pilihannya. Kau hanya bisa tersenyum di balik kepedihanmu, dikala mendengarkan cerita darinya tentang kisah cintanya. Kau hanya bisa membohongi dirimu ketika kau mengatakan nasihat-nasihat untuknya akan masalah percintaanya. Mulutmu membisu ketika dia mengatakan apa perasaannya kepada orang lain. Hatimu pilu ketika harus menerima kenyataan pahit itu. Merasa kalah dan tersingkir. Merasa terpuruk dan ingin hilang. Namun tak urunglah apa daya dirimu tak sampai hati menolak, ketika cerita-ceritanya bersampai padamu. Apa yang harus kau katakan, apa yang harus kau nyatakan. Pendengar, yang selalu akan menjadi pendengar. Red: tanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s